Hasil Pertemuan: Hizbullah Ancam Balas Kematian Komandan Militer
Konflik Israel-Hizbullah Kembali Memanas!
Apakah perang antara Israel dan Hizbullah akan kembali memanas setelah serangan mengerikan di Beirut? Nah, sepanjang November 2024, situasi di Lebanon terasa seolah-olah sudah menenangkan. Tapi, seminggu setelah perjanjian gencatan senjata ditandatangani, tensi kembali memuncak. Hizbullah, kelompok yang didukung Iran, mengklaim bahwa mereka berhak membalas pembunuhan komandan militernya, Haytham Ali Tabtabai, dalam serangan Israel di pinggiran selatan Beirut. Bagaimana bisa konflik yang sudah berakhir jadi kembali berdarah? Ada cerita yang perlu kita kenali.
Kebangkitan Hizbullah dan Penculikan yang Tidak Terduga
Tabtabai, komandan paling senior Hizbullah yang dibunuh oleh Israel, tengah dalam pertemuan dengan empat ajudannya saat jadwal serangan menghancurkan tiba. Menurut laporan AFP dan Al-Arabiya, serangan tersebut terjadi pada Sabtu (29/11/2025) waktu setempat. Pembunuhan ini dianggap sebagai
“agresi terang-terangan dan kejahatan keji”
oleh pemimpin Hizbullah, Naim Qassem. Ia tidak hanya menyebut tindakan Israel sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata, tapi juga sebagai ancaman terhadap kekuatan Hizbullah.
“Pembunuhan Haytham Ali Tabtabai adalah agresi terang-terangan dan kejahatan keji. Kami berhak untuk merespons, dan kami akan menentukan waktunya.”
– Naim Qassem, Pemimpin Hizbullah
Komentar Qassem bukan sekadar retorika. Ia mengingatkan bahwa Hizbullah tetap menjadi ancaman bagi Israel, meskipun mereka menegaskan komitmen untuk menjaga gencatan senjata. Sementara itu, kecaman dari Iran dan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menunjukkan bahwa perang ini bukan hanya soal kekuasaan Lebanon, tapi juga sengketa kekuasaan antara dua negara besar: Israel dan Iran.
Iran Marah, Israel Tidak Menyerah
IRGC, lembaga militer Iran yang sangat militan, langsung menyerukan
“balas dendam”
atas pembunuhan Tabtabai. Dalam pernyataan resmi mereka, kelompok ini memperingatkan bahwa Israel akan menghadapi
“respons yang menghancurkan”
sesuai jadwal yang mereka tetapkan. Kementerian Luar Negeri Iran pun menyampaikan kecaman serupa, menyebut serangan Israel sebagai
“pelanggaran brutal terhadap kedaulatan nasional Lebanon”
.
“Israel akan menghadapi respons yang menghancurkan pada waktu yang kami tentukan.”
– Korps Garda Revolusi Iran (IRGC)
Komentar ini memicu perdebatan. Apakah Iran benar-benar ingin terlibat langsung dalam konflik? Atau ini hanyalah cara untuk menegaskan kekuasaan atas Hizbullah? Meski demikian, satu hal jelas: Israel tetap bersikeras menyerang Lebanon. Mereka menyebut tindakan itu sebagai upaya untuk menargetkan para petempur dan infrastruktur militer Hizbullah, yang sejak gencatan senjata masih menjadi
“musuh bebuyutan”
mereka.
Implikasi yang Membayangi Perdamaian
Bagaimana jika gencatan senjata November 2024 hanyalah mulut besar? Serangan Israel yang terus-menerus di Lebanon bisa memicu reaksi yang lebih keras dari Hizbullah, dan Iran tidak akan diam di belakang. Kehadiran IRGC sebagai pihak yang memperkuat posisi Hizbullah membuat situasi semakin rumit. Konflik ini kini bukan hanya antara dua pihak, tapi juga melibatkan kepentingan global: Iran, Israel, dan bahkan Arab Saudi yang dikenal memantau situasi ini dengan cermat.
Yang menarik adalah, bagaimana rakyat Lebanon merasa terjebak antara dua kekuatan. Mereka ingin perdamaian, tapi serangan Israel terus menghancurkan rumah-rumah, jalan-jalan, dan kehidupan sehari-hari. Sementara itu, Hizbullah menggunakan kekuatan Iran untuk mempertahankan posisi mereka. Jadi, apakah gencatan senjata benar-benar bisa bertahan? Atau ini hanya awal dari sebuah perang besar yang akan berlangsung di tengah-tengah kota Beirut yang penuh harap dan ketakutan?
