Skip to content
Tekno

Ramai Pendaki Gunung Merapi, Semua Imbauan Tak Dihiraukan

Tegar Utami - tempatdonasi.com 4 mins read

ng Merapi, Semua Imbauan Tak Dihiraukan Meeting Results - Beberapa hari terakhir, kawasan Gunung Merapi di Boyolali, Jawa Tengah, menjadi pusat perhatian

Ramai Pendaki Gunung Merapi, Semua Imbauan Tak Dihiraukan

Ramai Pendaki Gunung Merapi, Semua Imbauan Tak Dihiraukan

Tempatdonasi.com – Beberapa hari terakhir, kawasan Gunung Merapi di Boyolali, Jawa Tengah, menjadi pusat perhatian karena antusiasme pendaki yang meningkat pesat. Jalur Selo, salah satu pintu masuk utama ke puncak gunung berapi tersebut, diklaim penuh sesak oleh para pendaki yang tetap nekat merayakan alam tanpa memperdulikan peringatan dari pihak berwenang. Aktivitas ini pun viral di berbagai platform media sosial, mengungkap kegembiraan warga dan penggemar alam yang mengabaikan langkah-langkah pencegahan.

Status Gunung Merapi yang Masih Siaga

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM), Heri Wibowo, menyatakan bahwa Gunung Merapi hingga saat ini masih berada di bawah status Level III (Siaga). Meski demikian, pendakian ke kawasan tersebut tidak direkomendasikan secara resmi. “Aktivitas pendakian harus terhenti sementara waktu, kecuali untuk kepentingan penelitian atau pengamatan bencana,” jelasnya dalam wawancara yang dilakukan pada Senin, 6 Juli 2026.

“Imbauan Taman Nasional, BPPTKG, Sri Sultan Hamengku Buwono X, serta BNPB tidak dihiraukan oleh banyak pendaki. Mereka menganggap peringatan itu hanya sekadar ancaman yang tidak akan terjadi,” ujar Heri, menjelaskan sikap masyarakat yang masih optimis meski ada risiko.

Dalam wawancara, Heri juga menyebut bahwa upaya untuk menutup jalur pendakian secara langsung tidak dilakukan karena pihaknya ingin menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat setempat. “Kami lebih memilih pendekatan persuasif daripada memaksa pembatasan, karena terkadang justru bisa memicu perlawanan dari pendaki,” tambahnya.

Pendekatan Persuasif yang Dipilih

Menurut Heri, tim BTNGM sedang merencanakan pertemuan dengan warga di sekitar jalur Selo untuk memperjelas dampak pendakian yang tidak terkontrol. “Kami akan mengajak warga berdiskusi secara terbuka dan menekankan pentingnya kewaspadaan,” katanya. Rencana ini bertujuan untuk memahami alasan di balik keinginan pendaki untuk tetap mendaki meski status gunung dalam keadaan siaga.

Sementara itu, Heri mengakui bahwa pihaknya bekerja sama dengan aparat kepolisian dan TNI sebenarnya bisa langsung melakukan penjagaan di jalur pendakian. Namun, langkah tersebut dianggap bisa menimbulkan ketegangan dengan masyarakat. “Penutupan paksa mungkin efektif jangka pendek, tetapi bisa berpotensi memicu konflik antara pendaki dan pengelola kawasan,” jelasnya.

Respons Pihak Berwenang

Saat ini, petugas BTNGM tetap berjaga di kawasan Selo untuk menjaga keamanan pendaki. Mereka berusaha menyelesaikan masalah melalui komunikasi dan edukasi. “Tidak mudah untuk melarang pendakian secara mutlak, karena sebagian besar pendaki menganggap bahwa gunung ini aman untuk dikunjungi,” tambah Heri.

Menurut Heri, pendakian ke Gunung Merapi telah dilarang sejak status aktivitasnya meningkat ke Level III (Siaga) pada 5 November 2020. Sebelumnya, pada 22 Mei 2018, status gunung itu berubah dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada), yang memicu peningkatan pengawasan oleh lembaga terkait. “Meski status tidak lagi Level II, kebijakan penutupan jalur tetap diperlukan untuk mengurangi risiko korbannya,” paparnya.

Risiko yang Tidak Terhindarkan

Heri menyoroti bahwa larangan pendakian tidak bisa dianggap sebagai penghalang mutlak, terutama di tengah kondisi cuaca yang masih stabil. “Gunung Merapi belum menunjukkan tanda-tanda kegiatan yang berbahaya, tapi peningkatan pendaki setiap hari membuat risiko bisa saja meningkat tajam,” katanya. Ia menekankan bahwa keputusan penutupan jalur harus didasarkan pada data real-time, bukan hanya kesadaran umum.

Berdasarkan peraturan yang berlaku, selama status Merapi di Level III, aktivitas pendakian hanya diperbolehkan untuk kepentingan survei atau studi bencana. Namun, banyak pendaki tetap memperluas area yang dikunjungi, bahkan mencapai kawasan teras yang berpotensi berisiko. “Ini memperlihatkan kurangnya kesadaran masyarakat tentang ancaman letusan atau aliran lahar,” ujarnya.

Analisis Langkah-Langkah yang Diambil

Heri juga menyoroti bahwa keputusan untuk tidak langsung menutup jalur berasal dari kebutuhan untuk menjaga keterbukaan komunikasi. “Kami berharap pendaki bisa memahami bahwa larangan ini bukan untuk menghambat keinginan mereka, tapi untuk melindungi keselamatan bersama,” tuturnya. Namun, hal ini juga berarti bahwa risiko akan tetap menghiasi setiap pendakian.

Di sisi lain, Heri mengungkapkan bahwa pihak BTNGM tetap aktif dalam menyiapkan langkah antisipatif. “Petugas ditempatkan di titik-titik strategis untuk memberi informasi dan mengawasi jumlah pendaki yang masuk. Kami juga berharap masyarakat bisa memahami bahwa tindakan pencegahan ini perlu dilakukan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak terduga,” katanya.

Situasi ini menjadi contoh bagaimana kewaspadaan terhadap alam bisa berubah menjadi tantangan bagi pengelola kawasan. Meski larangan sudah diberlakukan, pendaki tetap nekat mengikuti jalur mereka, yang menurut Heri, menunjukkan kebutuhan untuk memperkuat sosialisasi tentang bahaya Gunung Merapi.

Penutup: Perlu Konsistensi dalam Penerapan Aturan

Dalam rangka meminimalkan risiko, Heri berharap pihak berwenang bisa berkoordinasi lebih erat dengan masyarakat. “Jika ada kegembiraan yang berlebihan, itu bisa menjadi jembatan bagi

Join the discussion