Special Plan: BRIN dokumentasikan sepuluh rekaman baru spesies anggrek Indonesia
BRIN dan Mitra Peneliti Ungkap Sepuluh Spesies Anggrek Baru di Indonesia
Special Plan – Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggandeng sejumlah lembaga penelitian berhasil mengungkap sepuluh spesies anggrek baru yang belum tercatat sebelumnya di Indonesia. Penemuan ini bertujuan untuk memperkaya basis data biodiversitas nasional serta menegaskan peran penting eksplorasi lapangan dan analisis koleksi herbarium dalam upaya melindungi flora Indonesia. Peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE) BRIN, Aninda Retno Utami Wibowo, mengatakan bahwa Indonesia, terutama kawasan Wallacea dan wilayah timur, masih memiliki potensi keanekaragaman hayati anggrek yang belum tergarap secara lengkap.
“Indonesia terus membuktikan kaya akan keanekaragaman spesies, bahkan di tempat yang sebelumnya dianggap kurang menarik. Dengan meningkatkan eksplorasi lapangan dan memperkuat kajian koleksi herbarium, kita bisa menemukan spesies baru yang mungkin terlewatkan selama ini,” ujar Aninda dalam keterangan resmi yang diterbitkan di Jakarta, Senin.
Menurut Aninda, tim peneliti yang terlibat dalam proyek ini terdiri dari berbagai lembaga, termasuk Yayasan Tumbuhan Asli Nusantara, Yayasan Konservasi Biota Lahan Basah, Universitas Samudra, serta Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Penelitian ini berlangsung selama lima tahun, mulai dari 2020 hingga 2024, dengan melibatkan sejumlah peneliti yang aktif di berbagai wilayah Indonesia. Beberapa lokasi yang dikaji meliputi Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Kepulauan Nusa Tenggara.
Spesies yang Terungkap
Dari hasil eksplorasi dan analisis, sepuluh spesies anggrek baru berhasil teridentifikasi. Spesies tersebut antara lain Bulbophyllum nematocaulon dan Bulbophyllum sanguineomaculatum yang ditemukan di Sumatra; Cleisomeria lanatum, Corybas calopeplos, serta Corybas holttumii yang masing-masing berasal dari wilayah tersebut. Di Jawa, peneliti menemukan Acanthophippium bicolor dan Anoectochilus papuanus, sementara Dendrobium teretifolium muncul di Kepulauan Nusa Tenggara. Kalimantan menghasilkan Bulbophyllum thiurum, dan Sulawesi menyumbang spesies Aerides augustiana.
Menurut Aninda, penemuan ini menunjukkan adanya pola distribusi biogeografis yang menarik. Sebagai contoh, Anoectochilus papuanus yang sebelumnya hanya dikenal berkembang biak di Papua dan Kepulauan Solomon kini ditemukan di Jawa Timur, menandakan kemungkinan migrasi atau adaptasi spesies tersebut. Sementara Dendrobium teretifolium, yang sebelumnya tercatat di Australia, kini juga ditemukan di Nusa Tenggara Timur, menggarisbawahi keragaman genetik yang terjadi di wilayah Indonesia.
Dalam penelitian ini, para peneliti melakukan pengambilan spesimen, dokumentasi morfologi, serta pengawetan herbarium. Proses ini dilakukan secara sistematis dengan membandingkan koleksi nasional maupun internasional untuk memastikan keakuratan identifikasi. “Tim kami mengumpulkan data melalui survei lapangan dan analisis koleksi yang sudah ada di herbarium. Hal ini memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keberagaman anggrek di Indonesia,” jelas Aninda.
Konservasi dan Masa Depan Biodiversitas
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi fondasi penting untuk strategi konservasi flora Indonesia. Aninda menyebut bahwa dokumentasi spesies yang tepat adalah kunci dalam perlindungan habitat alami serta pengambilan kebijakan yang berbasis data ilmiah. “Ketepatan dalam mengenali spesies baru bisa mempercepat upaya konservasi, terutama di daerah yang belum sepenuhnya dikenal,” katanya.
Penelitian ini juga membuka peluang untuk memperluas pemahaman tentang pola persebaran anggrek di Indonesia. Misalnya, beberapa spesies yang teridentifikasi memiliki wilayah habitat yang terbatas, sehingga bisa menjadi prioritas dalam perlindungan. Dengan mengetahui distribusi geografis spesies, pemerintah dan lembaga lingkungan bisa merancang tindakan yang lebih efektif untuk menghindari kepunahan.
Menurut Aninda, keberhasilan dalam menemukan spesies baru menegaskan bahwa eksplorasi lapangan dan pendokumentasian koleksi herbarium tidak boleh dipandang sebagai tugas sepele. “Menggunakan data dari herbarium yang telah ada dan membandingkannya dengan spesimen baru bisa memberikan wawasan tentang perubahan lingkungan atau migrasi spesies yang berlangsung secara alami,” ujarnya.
Publikasi Ilmiah dan Kontribusi Nasional
Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Lankesteriana Volume 26 (1) Tahun 2026 dengan judul “Ten New Orchid Records from the Indonesian Archipelago”. Jurnal ini merupakan platform internasional yang mengakui keberhasilan proyek penelitian lokal. Aninda menegaskan bahwa kontribusi ini tidak hanya berdampak di tingkat nasional, tetapi juga berpotensi menarik perhatian ilmuwan internasional.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi antar lembaga dalam memperkuat kemampuan riset di bidang biodiversitas. Yayasan Tumbuhan Asli Nusantara dan Yayasan Konservasi Biota Lahan Basah, misalnya, berperan aktif dalam mengumpulkan spesimen di lapangan, sementara Universitas Samudra menyediakan analisis morfologi yang mendukung identifikasi spesies. “Dengan kerja sama seperti ini, kita bisa mengatasi tantangan yang dihadapi dalam mengelola data flora yang semakin kompleks,” tambah Aninda.
Di sisi lain, penelitian ini memberikan petunjuk tentang keberagaman genetik anggrek Indonesia. Aninda menekankan bahwa keberadaan spesies baru bisa membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut, termasuk studi tentang adaptasi spesies terhadap perubahan iklim atau kerusakan lingkungan. “Anggrek memiliki keunikan dalam sistem reproduksi dan kebutuhan habitat, sehingga perlindungan spesies ini memerlukan pendekatan yang khusus,” ujarnya.
Sebagai informasi tambahan, beberapa spesies yang ditemukan memiliki nilai ekonomi atau estetika yang tinggi. Misalnya, spesies dari Sulawesi seperti Aerides augustiana mungkin bisa menjadi bahan untuk pengembangan industri tanaman hias. Namun, Aninda mengingatkan bahwa pengembangan ekonomi tidak boleh mengabaikan aspek konservasi. “Kita perlu mencari keseimbangan antara pemanfaatan dan perlindungan, agar keanekaragaman flora tetap terjaga,” katanya.
Penelitian ini juga memberikan data untuk memperkuat kebijakan konservasi di tingkat nasional. Dengan memahami keberagaman spesies yang ada, pemerintah bisa merancang kebijakan yang lebih tepat sasaran. Aninda menilai bahwa pendokumentasian spesies secara terus menerus adalah bagian dari strategi jangka panjang untuk memastikan keberlanjutan flora Indonesia. “Kita perlu berinvestasi lebih besar dalam riset biologi, agar Indonesia tetap menjadi pusat keanekaragaman hayati global,” pungkasnya.
