Topics Covered: RI-Belarus sepakati roadmap pengembangan kerja sama ekonomi 2026-2030

RI-Belarus Sepakati Roadmap Pengembangan Kerja Sama Ekonomi 2026-2030

Topics Covered – Minsk, Belarus – Dalam pertemuan Sidang Komisi Bersama (SKB) Ke-8 antara Indonesia dan Belarus, kedua pihak sepakat menyusun kerja sama berupa Roadmap Pengembangan Area Kunci Kerja Sama Ekonomi 2026-2030. Pertemuan ini berlangsung di Minsk, Belarus, dan menjadi ajang untuk memperkuat koordinasi di bidang perdagangan, ekonomi, serta teknis. Penandatanganan Roadmap ini dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia, Airlangga Hartarto, dan Wakil Perdana Menteri Belarus, Viktor Karankevich.

Poin Utama Kerja Sama

Kerja sama yang disepakati bertujuan menciptakan kerangka kerja yang terukur dan sistematis untuk memperluas kolaborasi antara kedua negara. Airlangga menegaskan bahwa dokumen ini akan menjadi salah satu hasil penting dari kunjungan Presiden Belarus ke Indonesia yang direncanakan pada awal Juli 2026. “Roadmap ini bertujuan memperjelas arah pengembangan kerja sama ekonomi, terutama dalam sektor industri, ketahanan pangan, serta teknologi,” kata Airlangga dalam pernyataan resmi yang diterbitkan di Jakarta, Jumat.

“Roadmap tersebut diharapkan menjadi dasar untuk mengidentifikasi peluang pertumbuhan ekonomi yang dapat diwujudkan melalui kerja sama bilateral,” ujar Airlangga. Ia menambahkan bahwa terobosan ini juga akan mendukung pengembangan manufaktur berbasis teknologi, yang dianggap sebagai prioritas dalam penguatan kerja sama ekonomi kedua negara.

SKB RI-Belarus berperan sebagai alat untuk mendorong kebijakan dan implementasi kerja sama yang saling menguntungkan. Dalam pertemuan ini, Indonesia dan Belarus fokus pada pembahasan strategi bersama, termasuk peningkatan ekspor produk unggulan, seperti karet, kakao, kopi, serta hasil perikanan. Sebagai negara dengan basis industri manufaktur yang kuat, Belarus dianggap sebagai mitra strategis dalam berbagai bidang, khususnya pertanian dan alat berat.

Kerja Sama di Bidang Industri

Belarus juga menawarkan peluang untuk memperluas kerja sama di sektor industri, terutama dalam pengembangan mesin-mesin industri dan alat berat. Pemimpin delegasi Belarus, Viktor Karankevich, menekankan bahwa penandatanganan FTA antara Indonesia dan EAEU (Eurasian Economic Union) akan menjadi peluang besar bagi akselerasi investasi dan perdagangan. “Kami percaya bahwa FTA ini akan membuka akses yang lebih luas ke pasar Indonesia, sekaligus memperkuat kemitraan ekonomi dalam jangka panjang,” jelas Karankevich.

“Pembentukan Dewan Bisnis Indonesia-Belarus akan memfasilitasi komunikasi dan kerja sama yang lebih efektif, terutama selama masa ratifikasi FTA,” kata Viktor Karankevich. Ia menambahkan bahwa dewan ini juga akan menjadi forum untuk mendiskusikan inisiatif bersama, seperti pengembangan joint ventures dan peningkatan kapasitas industri nasional.

Di bidang ketahanan pangan, kedua negara mengupas potensi kerja sama dalam mekanisasi pertanian dan penerapan teknologi modern. Airlangga menyebutkan bahwa kerja sama ini bisa meningkatkan produktivitas sektor pertanian, yang menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia. Selain itu, mereka juga membahas peluang kolaborasi dalam bidang kesehatan, pendidikan, riset, serta pariwisata, yang dianggap sebagai bagian dari hubungan bilateral yang lebih menyeluruh.

Pertumbuhan Perdagangan dan Investasi

Indonesia dan Belarus mencatat peningkatan nilai perdagangan tahunan sebesar 72,6 persen, mencapai hampir 221 juta dolar AS. Angka ini menunjukkan perkembangan positif dalam ekspor dan impor, terutama di sektor pertanian, alat berat, serta industri kimia. Airlangga menyoroti bahwa keberhasilan ini menjadi bukti bahwa kerja sama bilateral dapat berdampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi kedua negara.

Kedua pihak juga sepakat mendorong kerja sama melalui skema seperti joint venture, local assembly, serta transfer teknologi. Hal ini bertujuan memperkuat kapasitas industri Indonesia, terutama di sektor kendaraan komersial, mesin pertanian, dan pupuk. “Kami menilai bahwa kerja sama ini akan memberikan manfaat ekstra bagi Indonesia, terutama dalam meningkatkan daya saing produk lokal di pasar internasional,” jelas Airlangga.

Komitmen Penguatan Kemitraan

Belarus secara aktif mengundang para pengusaha dan pemangku kepentingan Indonesia untuk melihat langsung infrastruktur industri negara tersebut. Dalam kesempatan ini, pihak Belarus menegaskan komitmen untuk memperkuat kemitraan ekonomi melalui pendekatan yang lebih sistematis dan berkelanjutan. Viktor Karankevich juga menyampaikan bahwa kemitraan ini akan mengintegrasikan berbagai aspek, seperti pertanian, manufaktur, dan pendidikan teknis.

Kedua negara memperkirakan bahwa pertemuan ini akan menjadi dasar untuk menyelesaikan berbagai kesepakatan yang bisa diterapkan selama kunjungan Presiden Belarus ke Indonesia. “Dengan Roadmap ini, kami yakin bisa mengidentifikasi sejumlah kerja sama penting yang akan dibahas dalam kunjungan tersebut,” tegas Karankevich. Ia menekankan bahwa ekspor produk unggulan Indonesia ke Belarus dan kawasan EAEU menjadi salah satu fokus utama dalam perjanjian ini.

Sementara itu, Indonesia berharap kerja sama di bidang industri akan mempercepat transformasi ekonomi nasional. Airlangga menyoroti bahwa peluang ini bisa menjadi jalan untuk diversifikasi pasar ekspor Indonesia, sekaligus memperkuat hubungan ekonomi dengan negara-negara di Eropa Timur. “Indonesia akan terus mendorong inovasi dan pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan kerja sama dengan Belarus,” lanjut Airlangga.

Tantangan dan Peluang

Sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil, Belarus memiliki potensi untuk menjadi mitra yang berkelanjutan. Dalam sidang ini, kedua pihak juga meninjau tantangan yang mungkin dihadapi, seperti perbedaan regulasi industri dan kebutuhan penyesuaian standar kualitas produk. Meski demikian, mereka yakin bahwa langkah-langkah yang diambil akan menjadi fondasi untuk kerja sama yang lebih produktif.

Kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Belarus tidak hanya terbatas pada sektor industri, tetapi juga mencakup bidang teknis, seperti pengembangan infrastruktur dan transfer teknologi. Airlangga berharap bahwa Roadmap ini akan menjadi panduan untuk pengembangan proyek-proyek berdampak jangka panjang, termasuk pengurangan ketergantungan pada impor bahan baku industri.

Dalam konteks global, kerja sama ini juga diharapkan mampu meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai mitra dagang dan investasi. “Dengan pengembangan hubungan bilateral, kami menilai bahwa Indonesia akan bisa memperluas jaringan ekonomi ke pasar baru, terutama di kawasan Eropa Timur,” tutur Viktor Karankevich. Ia menambahkan bahwa penguatan konektivitas perdagangan akan menjadi elemen kunci dalam mengoptimalkan peluang yang ada.

Pertemuan SKB Ke-8 menandai langkah penting dalam memperkuat hubungan ekonomi antara Indonesia dan Belarus. Dengan Roadmap yang disepakati, kedua pihak berkomitmen untuk mencapai target kerja sama yang lebih spesifik dan terukur. Ini menjadi dasar untuk kerja sama yang lebih progresif, yang diharapkan bisa memberikan manfaat nyata bagi perekonomian