Solution For: Marty Natalegawa: Negara harus mandiri di tengah rivalitas geopolitik

5315fbe5-babc-49b4-a164-934fff228813

Marty Natalegawa: Negara Harus Mandiri di Tengah Rivalitas Geopolitik

Solution For – Dili, Timor Leste – Dalam sebuah pidato yang disampaikan pada acara Lecture Series and Award Ceremony di kota ini, Menteri Luar Negeri Indonesia periode 2009-2014, Marty Natalegawa, menekankan pentingnya kemandirian negara dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks. Acara berlangsung pada Senin, 18 Mei 2026, di mana Marty menerima penghargaan dari pemerintah Timor Leste sebagai pengakuan atas kontribusi Indonesia dalam memperkuat hubungan bilateral dengan negara tersebut. Pidato yang berjudul “Navigating the Reefs in a Multipolar World” ini membahas peran aktif negara-negara dalam menyikapi pergeseran kekuasaan dan persaingan global yang berlangsung sengit.

Netralitas Bukan Jaminan Kekuatan

Marty mengingatkan bahwa kebijakan netralitas tidak lagi memadai untuk negara-negara yang ingin tetap relevan dalam lingkaran kekuatan dunia. “Di dunia yang mengalami pergeseran kekuasaan dan dinamika yang terus berubah, mungkin tidak cukup bagi negara-negara hanya menyatakan sikap netral,” katanya dalam pernyataan tertulis yang diterima ANTARA, Selasa. Menurut diplomat senior ini, netralitas yang pasif bisa membuat suatu negara kewalahan dalam menghadapi tuntutan yang semakin berat dari kekuatan besar di luar wilayahnya.

“Dengan demikian, kepentingan suatu negara menjadi rentan terhadap keinginan pihak yang kuat, termasuk ketidakpastian politik dalam negerinya, juga hilangnya otonomi,” ujarnya.

Beliau menambahkan bahwa negara-negara harus membangun strategi sendiri untuk menjaga kedaulatannya. Dengan mempertahankan kemandirian, negara tidak hanya bisa memperkuat posisi politiknya, tetapi juga menghindari kehilangan kebebasan dalam mengambil keputusan. “Sikap netral yang tidak didukung oleh tindakan nyata justru bisa mengakibatkan suatu negara tidak mampu bersuara di panggung global,” jelas Marty. Pidato ini juga menjadi kesempatan untuk menyoroti pentingnya kolaborasi regional dalam menghadapi tantangan yang semakin banyak.

Indonesia: Contoh Konsistensi Dalam Politik Luar Negeri

Marty menyoroti bahwa Indonesia telah menjalankan kebijakan luar negeri yang bebas aktif selama bertahun-tahun, terlepas dari perubahan era geopolitik. “Negara ini memilih tidak bergabung dengan blok-blok besar yang saling bersaing, tetapi tetap berkontribusi dalam menyelesaikan masalah global,” ujarnya. Kebijakan ini, menurut Marty, memungkinkan Indonesia bergerak secara fleksibel tanpa mengorbankan kepentingannya sendiri. Dalam konteks multipolar, negara-negara seperti Indonesia dianggap sebagai pelaku yang mampu membangun kesepahaman di tengah persaingan yang memanas.

Marty juga menekankan bahwa ASEAN tetap menjadi pilar utama dalam menjamin stabilitas kawasan Asia Tenggara. “Kerja sama dan dialog inklusif di ASEAN telah membuktikan bahwa kawasan ini mampu menciptakan lingkungan yang lebih damai dan sejahtera,” jelasnya. Pidato ini dihadiri oleh Presiden Timor Leste, José Ramos-Horta, serta tamu undangan lainnya yang turut serta mengapresiasi pandangan Marty tentang peran ASEAN di tengah kenaikan rivalitas internasional.

“Dengan bergabungnya Timor Leste ke ASEAN, dan menjabat sebagai Ketua pada 2029, maka perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran kawasan kita telah diperkuat secara luar biasa,” ujarnya.

Timor Leste yang baru saja menjadi anggota ASEAN, menurut Marty, menjadi bukti keberhasilan kerja sama regional dalam menciptakan keseimbangan. Dengan bergabungnya negara ini, semakin banyak peluang terbuka untuk memperkuat ikatan antar-negara di kawasan tersebut. Marty berharap ASEAN dapat terus memainkan peran strategis dalam menghadapi ketidakpastian global, termasuk tekanan dari negara-negara besar yang saling bersaing.

Dalam pidatonya, Marty juga mengingatkan bahwa multilateralisme tetap menjadi jalan yang paling efektif dalam mengatasi isu-isu bersifat global. “Negara-negara tidak boleh hanya mengandalkan satu pihak, tetapi harus membangun kerja sama yang lebih luas dan mencakup berbagai pihak,” katanya. Hal ini ditekankan karena dalam situasi multipolar, negara-negara harus mampu beradaptasi dengan dinamika yang berbeda, tanpa mengorbankan kepentingan nasional.

Peran Indonesia Dalam Menyikapi Perubahan

Marty Natalegawa berpikir bahwa Indonesia bisa menjadi contoh bagi negara-negara lain dalam menyeimbangkan antara kemandirian dan kerja sama regional. “Indonesia selama ini mampu bersikap aktif di berbagai forum internasional, meskipun tidak menyatu dalam blok tertentu,” jelasnya. Dengan demikian, negara ini mampu memainkan peran sebagai pihak netral yang tetap dapat memberikan kontribusi signifikan.

Menurut Marty, globalisasi dan fragmentasi kekuasaan yang terjadi saat ini membutuhkan respons yang lebih proaktif dari negara-negara kecil. “Negara-negara harus siap mengambil langkah yang lebih ambisius, termasuk dalam menegaskan identitas dan tujuan politiknya sendiri,” katanya. Pandangan ini menunjukkan bahwa kemandirian tidak hanya tentang tidak bergabung dengan blok tertentu, tetapi juga tentang mampu menentukan arah kebijakan luar negeri secara mandiri.

Pidato tersebut disampaikan di tengah momentum penting bagi Timor Leste, yang baru saja menyelesaikan proses integrasi ke dalam kawasan ASEAN. Marty berharap bahwa kehadiran Timor Leste dalam forum ini akan mendorong percepatan integrasi kawasan dan peningkatan kerja sama antar-negara. “Dengan langkah ini, Timor Leste dan Indonesia akan mampu saling mendukung dalam menciptakan kesejahteraan bersama,” tambahnya. Acara ini juga menjadi kesempatan untuk meninjau kembali sejarah hubungan bilateral antara kedua negara yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Dalam kesimpulan, Marty Natalegawa menegaskan bahwa dalam dunia multipolar, kemandirian negara tidak bisa terlepas dari kebijakan yang strategis. “Negara-negara harus mengambil peran aktif, bukan hanya menjadi penonton,”