Bahaya Kerja Shift Malam – Risiko Penyakit Jantung Bisa Meningkat
Bahaya Kerja Shift Malam, Risiko Penyakit Jantung Bisa Meningkat
Bahaya Kerja Shift Malam – JAKARTA – Pola kerja di malam hari semakin umum ditemukan di berbagai sektor pekerjaan. Namun, kebiasaan ini tidak boleh dianggap remeh, karena dapat memicu berbagai masalah kesehatan. Terutama bagi individu yang menderita tekanan darah tinggi, risiko mengalami komplikasi jantung dan gangguan metabolisme menjadi lebih tinggi. Informasi ini dibagikan oleh seorang dokter dan edukator kesehatan, dr. Adam Prabata, melalui platform X.
Dalam postingannya, dr. Adam menjelaskan bahwa sistem kerja shift malam secara rutin berkaitan dengan peningkatan penyakit kronis, termasuk gangguan kardiovaskular dan metabolisme. “Banyak penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan bekerja di malam hari dapat memperburuk kondisi kesehatan jangka panjang,” tambahnya. Ia menegaskan bahwa pola hidup yang tidak teratur akibat jadwal kerja seperti ini memengaruhi berbagai fungsi tubuh, mulai dari siklus tidur hingga pengaturan hormon.
Menurut dr. Adam, ada bukti ilmiah yang menunjukkan hubungan langsung antara shift malam dan risiko penyakit jantung. Sebuah studi yang meneliti lebih dari 36 ribu penderita hipertensi menemukan bahwa mereka yang bekerja shift malam 1 hingga 10 kali per bulan memiliki kemungkinan 14 persen lebih besar mengalami komplikasi kardiovaskular dibandingkan orang yang tidak memiliki jadwal kerja malam. Angka ini meningkat menjadi 19 persen jika seseorang menjalani shift malam lebih dari 10 kali dalam sebulan. Hasil ini memperkuat peringatan akan bahaya pekerjaan di malam hari.
“Kerja pada malam hari dapat mengacaukan ritme sirkadian, memengaruhi kualitas tidur, metabolisme glukosa, dan regulasi tekanan darah,” jelas dr. Adam. Ia menambahkan bahwa gangguan ini terjadi karena tubuh manusia memiliki waktu istirahat alami yang disebut ritme sirkadian. Jika pola ini terganggu, sistem biologis tubuh akan mengalami ketidakseimbangan yang berpotensi merusak kesehatan.
Ritme sirkadian adalah mekanisme alami yang mengatur berbagai fungsi tubuh, seperti sekresi hormon, metabolisme, dan siklus tidur. Pekerja shift malam terus-menerus mengurangi kesempatan tubuh untuk mengikuti pola ini. Contohnya, saat kita bekerja di malam hari, tubuh mengalami perubahan hormon melatonin yang bertugas memicu rasa kantuk. Namun, dengan aktivitas di malam hari, produksi melatonin berkurang, sehingga memicu kelelahan yang tidak sehat. Selain itu, jadwal tidur yang tidak teratur menyebabkan perubahan metabolisme glukosa, yang berdampak pada kadar gula darah.
Menurut dr. Adam, perubahan ini tidak hanya memengaruhi hormon dan metabolisme, tetapi juga memperburuk kondisi hipertensi. “Tekanan darah yang biasanya menurun saat malam hari justru bisa meningkat karena aktivitas fisik dan mental yang terus berlangsung,” jelasnya. Hal ini berdampak pada sistem kardiovaskular, meningkatkan risiko penyakit seperti serangan jantung, stroke, atau tekanan darah tinggi.
Dalam studi yang disebutkannya, para peneliti memantau kelompok penderita hipertensi selama beberapa bulan untuk melihat dampak jadwal kerja. Mereka menemukan bahwa kerja di malam hari berkorelasi dengan peningkatan risiko kardiovaskular, terutama jika seseorang memiliki penyakit yang sudah ada sebelumnya. “Pada individu dengan hipertensi, kebiasaan ini bisa mempercepat kemajuan penyakit,” kata dr. Adam. Ia juga mengingatkan bahwa efeknya tidak hanya pada jantung, tapi juga memengaruhi hati, ginjal, dan kesehatan umum lainnya.
Untuk mengurangi risiko ini, dr. Adam menyarankan beberapa langkah. Pertama, pekerja shift malam perlu menjaga kualitas tidur dengan menjadwalkan istirahat sebaik mungkin. Kedua, mengatur makanan yang sehat dan teratur untuk menjaga kadar gula. Ketiga, menghindari kebiasaan buruk seperti konsumsi kafein atau alkohol di malam hari. “Selain itu, olahraga rutin dan pengaturan stres juga penting untuk menjaga keseimbangan sistem tubuh,” tambahnya.
Beberapa penelitian tambahan menunjukkan bahwa kurangnya paparan cahaya matahari di pagi hari, karena pekerja shift malam sering bangun di waktu yang tidak biasa, menyebabkan gangguan pada siklus tubuh. Hal ini berdampak pada produksi hormon yang menentukan keadaan emosi dan fokus. Jika tidak diperbaiki, risiko penyakit jantung bisa terus meningkat. Dengan mengetahui dampak ini, pekerja shift malam dapat mengambil langkah pencegahan sejak dini.
dr. Adam juga menjelaskan bahwa kondisi ini tidak hanya terjadi pada individu hipertensi, tapi juga pada orang dengan kebiasaan hidup yang tidak sehat. “Shift malam bisa menjadi faktor penentu kesehatan jangka panjang, terutama jika dilakukan tanpa perubahan gaya hidup yang seimbang,” ujarnya. Ia berharap informasi ini dapat membantu pekerja shift malam dalam memahami bahaya yang mungkin dialami dan memotivasi mereka untuk melakukan penyesuaian.
