Agenda Utama: Sikap Eropa terbelah soal serangan AS-Israel terhadap Iran

Sikap Eropa Beragam Terhadap Serangan AS-Israel di Iran

Di tengah perang dagang global, Eropa terpecah dalam menghadapi serangan militer AS-Israel terhadap Iran. Meski tekanan dari Washington semakin besar, beberapa negara UE dan Inggris masih bersikeras mendorong penghormatan terhadap hukum internasional serta upaya deeskalasi. Namun, keputusan mereka tidak sepenuhnya konsisten, terutama ketika krisis Timur Tengah memperburuk potensi dampak ke luar negeri.

Trump Serukan Dukungan Eropa untuk Operasi Militer

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengungkapkan Presiden AS Donald Trump menginginkan semua negara sekutu Eropa mendukung serangan terhadap Iran. Trump menyindir keraguan beberapa pemimpin Eropa, termasuk Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, yang menolak mendukung aksi militer tersebut.

“Ini bukan Winston Churchill yang kita hadapi,” ujar Trump, merujuk pada sikap Starmer yang menolak serangan yang dianggapnya mengubah rezim Iran dari atas.

UE Tawarkan Solusi Diplomatik untuk Mencegah Eskalasi

Blok UE menekankan perlunya disiplin dan upaya diplomasi yang lebih intensif untuk menghindari perang yang berkepanjangan. Dalam pernyataan bersama, mereka menyampaikan “keprihatinan mendalam” dan meminta semua pihak berada dalam kontrol maksimal. Juru bicara Komisi Eropa menambahkan bahwa dukungan solusi negosiasi tetap menjadi prioritas, agar Iran tidak memperoleh senjata nuklir.

Kepala Kebijakan Luar Negeri UE, Kaja Kallas, mengingatkan bahwa krisis yang meningkat menunjukkan kelemahan penghormatan terhadap hukum internasional. “Tanpa memulihkan hukum internasional dan akuntabilitas, kita akan terus menyaksikan pelanggaran hukum, gangguan, dan kekacauan,” lanjutnya.

Inggris Jaga Keseimbangan antara Kritik dan Dukungan

Inggris mengambil pendekatan yang hati-hati, menggabungkan kritik terhadap Iran dengan ajakan untuk menjaga diplomasi. Starmer membela keputusan negara untuk tidak terlibat dalam serangan, menyatakan bahwa kesepakatan yang dinegosiasikan dengan Iran lebih baik daripada konflik yang tidak terkendali.

Sebelumnya, London membatasi penggunaan pangkalan Diego Garcia oleh AS, namun akhirnya mengizinkan fasilitas tersebut untuk mendukung pertahanan kawasan dan keamanan Israel. Negara tersebut juga memperkuat kehadiran militer defensif dengan mengirimkan jet Typhoon ke Qatar.

Prancis Prioritaskan Hukum Internasional dan Stabilitas Global

Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan bahwa tindakan militer di luar hukum internasional bisa merusak keseimbangan global. Paris berupaya menghindari konfrontasi langsung dengan Washington, tetapi tetap mengecam respons Iran terhadap serangan AS-Israel.

Pesawat AS diperbolehkan beroperasi di beberapa pangkalan Prancis dengan syarat tidak digunakan untuk menyerang Iran, hanya mendukung operasi pertahanan kawasan. Kapal induk Charles de Gaulle dan aset militer lainnya juga dikirim ke wilayah tersebut untuk melindungi kepentingan Prancis, termasuk pangkalan di Abu Dhabi.

Jerman dan AS Sepakat Menganggap Iran sebagai Ancaman Utama

Kanselir Jerman Friedrich Merz menggambarkan Iran sebagai ancaman keamanan utama. Menurutnya, sanksi serta upaya diplomasi selama puluhan tahun gagal menghentikan aktivitas destabilisasi Teheran. Pada kunjungan ke Gedung Putih, Trump memuji Merz sebagai “pemimpin yang sangat baik” dan menyebut keputusan Berlin yang memungkinkan AS menggunakan Pangkalan Udara Ramstein.

“Perang tanpa akhir bukan kepentingan kita,” kata Merz, menambahkan bahwa runtuhnya Iran bisa memengaruhi pasokan energi, keamanan, dan migrasi Eropa.

Spanyol Khawatir Serangan Berpotensi Ancam Stabilitas Dunia

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez menilai serangan terhadap Iran sebagai “kesalahan luar biasa” yang bisa mengganggu stabilitas global. Madrid menolak izin penggunaan pangkalan udara oleh AS, meski tetap mengakui ancaman yang dibawa oleh Iran.