Berita

Info Terbaru: Gubernur Aceh Dengar Info 80 Ton Bantuan Hilang, Ini

Kabar Bantuan Hilang, Muzakir Manaf Tersenyum:

“Kita Turunkan Semua di Bener Meriah!”

Nah, siapa yang tak pernah membayangkan bantuan bencana bisa

“hilang”

di tengah badai? Tapi, kisah ini justru mengemuka dari mulut Gubernur Aceh, Muzakir Manaf alias Mualem, saat ia mengungkapkan dugaan bahwa 80 ton bantuan logistik yang dikirimkan untuk korban gempa Bener Meriah

“tidak tepat sasaran.”

Tapi, jangan langsung menyalahkan siapa pun—karena ada cerita yang lebih dalam di balik angka-angka itu. Siapa yang benar? Siapa yang salah? Kita akan cari tahu bersama.

Pemkab Bener Meriah:

“Semua Logistik Tercatat, Tidak Ada yang Hilang!”

Ternyata, Mualem bukanlah orang pertama yang merasa kecewa. Kepala Pusat Data dan Informasi Posko Penanganan Bencana Hidrometeorologi Bener Meriah, Ilham Abdi, langsung angkat bicara untuk membela proses penyaluran yang mereka lakukan.

“Kita mohon kepada Bupati Bener Meriah supaya dengan seadil-adilnya membagi sembako,”

jelas Mualem, tapi belakangan ia juga mengungkapkan bahwa dirinya masih belum tahu kepastian penyebab bantuan hilang itu. Tapi, jangan kaget—karena ada mekanisme yang dijelaskan oleh tim logistik setempat.

“Tentang informasi adanya logistik yang hilang, kalau yang sudah masuk gudang logistik dipastikan tidak ada, di bandara yang kita bawa hanya yang dialamatkan untuk masyarakat Bener Meriah, diterima petugas di Bandara Rembele kemudian dibawa ke gudang dengan pengawalan. Sementara di gudang cargo sendiri dipegang kendali oleh TNI AU yang bertugas di sana,”

Komentar Ilham ini seperti memecahkan teka-teki. Ternyata, bantuan yang

“hilang”

itu mungkin belum sampai ke gudang, atau belum ada laporan resmi kehilangan.

“Jika bantuan sudah resmi tercatat diterima oleh gudang logistik, maka setiap penerimanya akan tercatat secara administrasi dan sudah ada SOP ketika akan disalurkan kepada siapa, jumlahnya berapa, lengkap dengan dokumentasi penerima,”

tambahnya. Tapi, apakah SOP itu benar-benar dijalankan? Atau mungkin hanya berupa dokumen-dokumen yang rapi di kantor?

Logistik di Gudang:

“Sudah Terdokumentasi, Tidak Ada yang Terlewat!”

Yang menarik, Ilham menjelaskan bahwa setiap langkah dalam proses distribusi bantuan diawasi secara ketat. Dari saat bantuan tiba di bandara, hingga diangkut ke gudang, TNI AU dianggap sebagai penjaga utama.

“Semua logistik yang masuk dan keluar melalui gudang logistik tercatat dan dapat dipertanggung jawabkan,”

tegasnya. Jadi, jangan terburu-buru menganggap bantuan hilang—ada catatan yang jelas. Tapi, laporan hilang itu muncul dari mana? Apakah itu dari para donatur, atau masyarakat yang merasa tidak terlayani?

Konteks ini justru mengingatkan kita pada pentingnya transparansi dalam bantuan darurat. Bahkan di tengah krisis, keberadaan data dan dokumentasi bisa menjadi kunci untuk membangun kepercayaan. Tapi, apakah hanya data yang rapi yang bisa menyelamatkan reputasi Pemkab Bener Meriah? atau mungkin juga ada kebutuhan untuk melibatkan masyarakat lebih jauh dalam proses pengawasan?

Kita masih menunggu jawaban dari tim di lapangan. Tapi, dari kisah ini, satu hal jelas: bantuan bukan hanya tentang jumlah, tapi juga tentang bagaimana bantuan itu sampai ke tangan yang benar. Jadi, selamat datang di dunia bantuan bencana yang penuh teka-teki—siapa pun bisa jadi korban kesalahpahaman, asalkan ada bukti yang jelas.