Berita

Menghadapi Tantangan: Manajemen Buka Suara soal Kebakaran Terra Dro

Bencana Kebakaran yang Mengguncang Gedung Terra Drone

Tanggal 10 Desember 2025, sebuah bencana yang tak terduga menghiasi langit Kemayoran, Jakarta Pusat. Gedung kantor PT Terra Drone, yang sebelumnya dianggap aman dan modern, tiba-tiba terbakar hingga menggema kekhawatiran seluruh karyawan. Nah, siapa sangka kejadian ini bisa berubah menjadi tragedi yang mengguncang? Bagaimana keadaan di dalam gedung saat api mulai merambat, dan apa yang terjadi setelahnya?

Manajemen PT Terra Drone:

“Kami Sudah Berusaha, Tapi Kebakaran Tidak Terduga”

Saat kebakaran meluas, kekacauan mulai menghiasi ruang kerja. Umaidi Suhari, HRBP dari perusahaan, berusaha memperjelas situasi saat ia diwawancara di RS Polri Kramat Jati. Pihak manajemen menjelaskan bahwa gedung memiliki fasilitas seperti lift dan tangga, tapi keadaan di luar kontrol.

“Di dalamnya kami ada lift, kami juga ada tangga, tapi memang pada saat itu keadaan benar-benar di luar kontrol kami semua,”

Ternyata, meski fasilitas sudah lengkap, kecepatan api yang menyebar membuat keputusan-keputusan diambil secara terburu-buru. Apa yang membuat api bisa merusak gedung secara cepat, dan apakah ada kelemahan yang bisa dicegah?

Detik-detik Kebakaran: Dari Munculnya Asap hingga Api Berhasil Dipadamkan

Pemadam Kebakaran (Damkar) Jakarta mengatakan kebakaran diawali dari lantai 2, sekitar pukul 12.43 WIB. Api dengan cepat menyebar ke lantai 3, 4, dan 5, sementara karyawan di lantai 6 bisa menyelamatkan diri dengan bantuan rooftop. Tapi, terlalu lambat bagi mereka yang tertinggal.

“Terdiri dari tujuh orang laki-laki dan 15 orang perempuan. Untuk 22 korban sudah dibawa ke RS Polri,”

Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro mengonfirmasi jumlah korban meninggal yang mencapai 22 orang. Apa yang menyebabkan mereka tak sempat menyelamatkan diri, dan apakah ada penjelasan lebih jelas mengenai sebab kematian mereka?

Korban Meninggal: Dari Lantai 3, 4, dan 5

Susatyo menjelaskan bahwa korban meninggal didominasi dari lantai 3, 4, dan 5, karena asap naik ke atas menyebabkan kekurangan oksigen. Para korban terpaksa berlari kecil untuk keluar, tapi waktu tak cukup. Salah satu korban yang paling mengejutkan adalah seorang ibu hamil dengan usia kandungan tujuh bulan.

“Asap naik ke lantai 2, 3, dan sebagainya, oksigen juga kurang, sehingga banyak yang meninggal karena lemas di atas,”

Yang menarik, korban yang terjatuh di lantai 6 bisa langsung mencapai rooftop, tapi ketika api merambat ke lantai atas, pemandangan yang terlihat dari lantai bawah adalah kepanikan dan kegundahan. Apakah kurangnya pencahayaan atau sistem evakuasi yang buruk menjadi faktor utama dalam kejadian ini?

Impak dan Pemulihan: Dari Rumah Sakit hingga Layanan Psikolog

Kebakaran ini tidak hanya mengguncang keluarga korban, tapi juga mengubah suasana kantor yang biasa sepi menjadi kacau. Para karyawan yang selamat kini masih dirumahkan sementara pihak perusahaan menyiapkan layanan psikolog untuk membantu mereka pulih. “Karyawan yang saat ini selamat dalam keadaan yang memang masih terguncang, shock, dan lain-lain, kami sudah menyiapkan psikolog untuk nantinya bisa cover mereka punya emotional dan lain-lain,”

“Karyawan yang saat ini selamat dalam keadaan yang memang masih terguncang, shock, dan lain-lain, kami sudah menyiapkan psikolog untuk nantinya bisa cover mereka punya emotional dan lain-lain,”

Kini, seluruh korban meninggal dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk diidentifikasi. Kebakaran ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya persiapan darurat dan kesadaran akan risiko di lingkungan kerja. Tak hanya merugikan bisnis, kejadian ini juga mengingatkan kita akan kecepatan bencana yang bisa terjadi kapan saja. Apakah perusahaan akan melakukan evaluasi menyeluruh setelah kejadian ini, ataukah akan ada perubahan yang lebih tajam dalam menghadapi risiko serupa?