Rencana Khusus: Airlangga Usul WFA di 29-30 Desember 2025 Demi Genj
Judul Section Utama
Bayangkan jika liburan Natal dan Tahun Baru 2025-2026 bisa jadi momen ekonomi yang tak terduga. Bukan hanya kegiatan belanja atau reuni keluarga, tapi juga kemungkinan *work from anywhere* (WFA) yang diusulkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Usulan ini seperti bala bantuan untuk membangkitkan kembali roda perekonomian Indonesia di tengah tantangan yang mungkin masih menghiasi tahun 2025. Nah, mengapa ia menyarankan pemerintah untuk mengizinkan pekerja bekerja dari mana saja pada masa libur tersebut? Ada cerita yang lebih dalam di baliknya.
Langkah Strategis untuk Meningkatkan Mobilitas dan Konsumsi
Airlangga punya alasan jelas. Ia berpikir, jika seluruh pekerja Indonesia bisa *work from anywhere*, maka libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025-2026 akan menjadi peluang luar biasa untuk menggerakkan perjalanan masyarakat.
“Kami usulkan karena ada tanggal 29, 30 dan 31 yang di antara libur, kami usul untuk *work from anywhere and everywhere*,”
kata Airlangga dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara. Ternyata, gagasan ini bukan sekadar kebijakan kecil, tapi strategi besar untuk memastikan keluarga bisa tetap aktif secara ekonomi meski sedang libur.
“Keluarga enggak bergerak kalau orangtua nya, ayahnya enggak jalan. Jadi ini kami usulkan,”
Airlangga mengungkapkan bahwa saat momen libur sekolah, jika orangtua tetap bekerja di kantor, kemungkinan untuk bepergian sangat terbatas. Dengan WFA, ia berharap masyarakat bisa mengatur waktu lebih fleksibel, sehingga liburan bisa jadi jendela untuk meningkatkan konsumsi. Jadi, bukan hanya liburan yang dihabiskan di rumah, tapi juga menjadi momen ekonomi yang dinanti-nanti. Yang menarik, usulan ini langsung memicu reaksi positif dari para menteri dan Presiden Prabowo Subianto sendiri.
Kotak Kekuatan: Diskon Transportasi yang Bisa Membawa Perubahan
Menko Perekonomian pun tak hanya berbicara tentang mobilitas, tapi juga menjelaskan poin kunci: pemerintah telah menyediakan diskon transportasi yang signifikan.
“Diskon mulai dari tiket kereta api sampai 30 persen, Laut yaitu Pelni sampai 20 persen. ASDP juga besar sampai 19 persen, dan pesawat sebesar 13–14 persen,”
ujarnya. Dari tanggal 20 Desember 2025 sampai 10 Januari 2026, diskon ini diharapkan bisa memicu lebih dari 100 juta perjalanan masyarakat. Dengan angka seperti ini, siapa sangka bahwa liburan sekecil apa pun bisa menjadi penggerak ekonomi yang mengagumkan?
Momen Harbolnas: Tantangan dan Peluang
Mengingat Harbolnas 2025 berlangsung selama 10-16 Desember, Airlangga memperkirakan transaksi digital akan mencapai Rp 35 triliun. Angka ini diprediksi mampu berkontribusi sebanyak 30 persen dari total transaksi e-commerce. Tapi, bagaimana mungkin satu momen belanja bisa menjadi kekuatan ekonomi yang setara dengan rencana WFA? Dengan diskon transportasi dan kebijakan belanja yang terstruktur, ia yakin ekosistem ini akan membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap aktivitas ekonomi. Selain itu, pemerintah juga meluncurkan program baru bernama Every Purchase is Cheap (EPIC) Sale dengan target transaksi Rp 30 triliun.
“Program ini bisa menjadi pelengkap untuk memastikan masyarakat tidak hanya belanja online, tapi juga bisa memanfaatkan promo dengan lebih optimal,”
jelasnya. Tapi, ada pertanyaan: bagaimana semua ini bisa terwujud di tengah tantangan pasar yang tak menjamin?
Konteks yang menarik dari usulan WFA ini adalah bagaimana pemerintah ingin memanfaatkan momentum libur sebagai kekuatan pendorong pertumbuhan ekonomi. Jika semua bisa berjalan seperti yang diharapkan, maka Indonesia bisa menjadi contoh negara yang cerdas dalam menggabungkan kebijakan keuangan dan kebijakan sosial. Tak hanya itu, kunci keberhasilan ini juga tergantung pada kolaborasi yang solid antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. Dengan WFA, Harbolnas, dan EPIC Sale, mungkin kita bisa melihat kembali kejayaan ekonomi yang dulu diidamkan.
