Rencana Khusus: Bupati Aceh Utara: Saya Siap Hibahkan Lahan Pribadi
Aceh Utara: Kecamatan yang Terparah dalam Banjir
Nah, bayangkan saja, satu bulan setelah banjir melanda Aceh Utara, masih ada daerah yang terisolasi dan kehidupan masyarakat terguncang. Banjir yang terjadi pada 26 November 2025 menghancurkan ratusan rumah, menyebabkan 203 korban jiwa, dan membuat 67.000 pengungsi kehilangan tempat tinggal. Di tengah situasi yang kritis ini, ada seorang pemimpin yang menunjukkan kepedulian luar biasa—Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil, yang akrab disapa Ayahwa. Ia tidak hanya berusaha mengurusi kebutuhan pemerintah, tapi juga siap menghibahkan lahan pribadinya untuk membantu korban banjir. Apakah ini tanda keberanian atau bentuk responsif terhadap kebutuhan masyarakat?
Komitmen Ayahwa: Siap Hibahkan Lahan Pribadi untuk Korban Banjir
Ayahwa menemui Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia di Posko Utama Banjir Aceh Utara pada Rabu, 24 Desember 2025. Di sana, ia menyampaikan penawaran khusus: siap menghibahkan lahan pribadinya di Kecamatan Tanah Jambo Aye sebagai bantuan pembangunan rumah bagi korban banjir. Lahan yang telah disiapkan Pemkab Aceh Utara seluas 24 hektar ini akan digunakan untuk membangun rumah tipe 36 dalam model kompleks, yang rencananya akan diluncurkan dengan peletakan batu pertama pada 30 Desember 2025. Tapi, jika Yayasan Tzu Chi menilai lahan tersebut kurang memenuhi kriteria, Ayahwa pun siap mengalah. Yang terpenting, ia ingin warga bisa segera memiliki tempat tinggal yang layak.
“Secara hukum dan kita punya sertifikatnya, lahan Aceh Utara ini clean dan tidak ada sengketanya. Sertifikat atas nama Pemerintah Aceh Utara,”
terang Ayahwa.
Kutipan tersebut menggambarkan kepastian Ayahwa dalam menjaga kualitas lahan. Dengan sertifikat yang jelas, ia memberikan jaminan bahwa lahan yang disiapkan aman dan bisa langsung digunakan. Tapi, komitmen ini juga menunjukkan bahwa ia bersedia memberikan lebih dari sekadar kepemilikan lahan. Dalam dunia yang sering dihiasi oleh kompetisi, langkah Ayahwa seperti sinar terang yang mengingatkan kita bahwa kepedulian terhadap sesama bisa menjadi bentuk perubahan nyata.
Kolaborasi dengan Buddha Tzu Chi: Membangun Rumah Permanen di Tengah Kerusakan
Yang menarik, kerja sama ini bukan sekadar bantuan sementara. Yayasan Buddha Tzu Chi berencana membuat rumah permanen dengan desain yang modern dan tahan banting. Mereka memulai peletakan batu pertama pada akhir tahun 2025, tepat di tengah upaya pemulihan. Pemkab Aceh Utara pun sudah menyiapkan lahan di beberapa kecamatan, termasuk Lapang, Sawang, Samudera, Baktiya, dan Tanah Jambo Aye. Namun, masih ada 9 desa yang gelap gulita, di mana warga harus menghadapi kehidupan tanpa listrik selama sebulan penuh. Bagaimana mungkin mereka bisa membangun rumah jika bantuan masih terlambat?
Di sisi lain, kerusakan di pesantren juga menjadi sorotan. Dari 211 pesantren yang rusak, dampaknya tidak hanya pada bangunan, tapi juga pada pendidikan dan kegiatan ibadah masyarakat. Ayahwa pun meminta dukungan dari lembaga eksternal seperti Tzu Chi, karena kebutuhan yang melimpah membutuhkan kerja sama yang lebih luas.
“Saya berterima kasih pada lembaga Buddha Tzu Chi atas dukungannya untuk rumah permanen ini,”
kata Ayahwa, menekankan pentingnya kolaborasi dalam masa-masa sulit.
Konteks yang Lebih Luas: Aceh Utara dalam Kecemasan
Banjir yang melanda 18 kabupaten/kota di Aceh pada 26 November 2025 adalah peringatan keras akan bahaya alam yang bisa merubah segalanya dalam sekejap. Dalam satu bulan, Aceh Utara jadi salah satu daerah yang paling parah terdampak. Rumah rusak, fasilitas umum lumpuh, dan warga kehilangan tempat tinggal. Dalam kondisi seperti ini, kepedulian Ayahwa bisa menjadi contoh bahwa seorang pemimpin tidak hanya bertugas mengatur, tapi juga memimpin perubahan.
Yang terpenting, proyek ini akan menjadi kebangkitan bagi masyarakat Aceh Utara. Dengan rumah permanen yang segera dibangun, korban banjir tidak hanya mendapatkan tempat berlindung, tapi juga harapan untuk bangkit kembali. Ini bukan sekadar tentang bantuan fisik, tapi juga tentang semangat kerja sama yang menjadikan Aceh Utara lebih kuat. Mungkin ini adalah langkah awal dari perubahan besar, yang diharapkan bisa menjadi pelajaran untuk masa depan.
