TempatDonasi
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Issue: Rupiah Tertekan, Perbanas: Perbankan dalam Kondisi Sehat

Published Juni 16, 2026 · Updated Juni 16, 2026 · By Wahyu Santoso

Rupiah Tertekan, Perbanas: Perbankan dalam Kondisi Sehat

Key Issue - Dalam kondisi ekonomi global yang dinamis, nilai tukar Rupiah terus mengalami tekanan. Namun, Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Hery Gunardi mengklaim bahwa sektor perbankan Indonesia kini berada dalam posisi yang stabil dan mampu menghadapi tantangan eksternal. Dalam wawancara dengan Tempo pada Senin, 15 Juni 2026, ia menjelaskan bahwa industri perbankan memiliki kapasitas yang cukup untuk mendukung pertumbuhan perekonomian nasional, meskipun terjadi perubahan makroekonomi di luar negeri.

Kinerja Perbankan yang Resilien

Hery menekankan bahwa kinerja perbankan nasional telah menunjukkan ketahanan yang lebih baik dibandingkan masa lalu. Ia menyoroti beberapa indikator utama yang menunjukkan kondisi sehat, seperti rasio kecukupan modal (CAR) yang mencapai 23,97 persen pada April 2026. Angka ini menunjukkan bahwa bank-bank dalam negeri memiliki cadangan modal yang memadai untuk menutup risiko kredit atau fluktuasi pasar. Sementara itu, rasio kredit terhadap tabungan (LDR) sebesar 86,88 persen dan rasio kredit bermasalah (NPL) sekitar 2,17 persen, yang relatif rendah dibandingkan periode yang lebih rentan.

“Selama lebih dari dua dekade terakhir, sektor perbankan telah mengalami perubahan signifikan, baik dari segi regulasi, pengawasan, tata kelola, maupun manajemen risiko,” jelas Hery. Ia menambahkan bahwa permodalan bank-bank juga telah ditingkatkan melalui berbagai reformasi yang dijalankan pascakrisis. Perbanas, sebagai organisasi yang mewakili perbankan nasional, menjadi pusat pengawasan dan evaluasi kinerja institusi keuangan tersebut.

Kontras dengan Krisis Moneter 1998

Menurut Hery, pelemahan Rupiah saat ini tidak setara dengan kondisi yang terjadi pada tahun 1998. Ia menyoroti bahwa krisis moneter 1997-1998 merupakan peristiwa yang lebih parah karena memengaruhi berbagai aspek perekonomian secara menyeluruh. Pada masa itu, ekonomi Indonesia mengalami kontraksi hingga 13,1 persen, sementara inflasi melonjak mencapai 58,5 persen. Cadangan devisa juga berada pada level yang sangat terbatas, sekitar US$ 17 miliar, dan rasio kredit bermasalah di sektor perbankan mencapai hampir 60 persen.

“Dengan demikian, krisis tersebut tidak hanya merupakan krisis nilai tukar, tetapi juga krisis kepercayaan terhadap sistem keuangan, sektor perbankan, dan perekonomian secara keseluruhan,” ujar Hery.

Krisis 1998 terjadi akibat kombinasi faktor internal dan eksternal, seperti kebijakan moneter yang kurang tepat, defisit neraca perdagangan, serta tekanan spekulatif dari investor asing. Berbeda dengan masa kini, Hery menilai bahwa sistem keuangan Indonesia kini memiliki perangkat yang lebih matang untuk mengantisipasi risiko. Ia mengatakan bahwa berbagai upaya pascakrisis telah membentuk fondasi kuat bagi sektor perbankan, yang berdampak pada peningkatan daya tahan dan kepercayaan publik.

Transformasi dan Penguatan Sistem

Transformasi besar-besaran dalam sektor perbankan terjadi sejak tahun 2000-an, kata Hery. Perbanas, yang didirikan untuk mengawasi dan mendorong perkembangan industri perbankan, menjadi bagian dari upaya tersebut. Ia menjelaskan bahwa kebijakan pengawasan berbasis risiko, penerapan stress test berkala, serta penggunaan instrumen mitigasi keuangan seperti jaring pengaman dan lindung nilai telah membuat perbankan lebih siap menghadapi tekanan eksternal.

“Dengan adanya sistem manajemen risiko yang lebih ketat, kita tidak hanya memperkuat kapasitas bank dalam menghadapi krisis, tetapi juga memastikan stabilitas makroekonomi,” tambahnya. Ia menambahkan bahwa pengalaman sebelumnya, mulai dari krisis keuangan global 2008 hingga pandemi COVID-19, telah menjadi pelajaran berharga dalam menyesuaikan pola kebijakan dan operasional bank-bank nasional.

Di sisi lain, Hery memprediksi bahwa pelemahan Rupiah saat ini akan menjadi bagian dari dinamika pasar yang normal. Ia menilai bahwa perbankan memiliki fleksibilitas untuk mengalokasikan dana secara efisien dan memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. Faktor-faktor seperti pertumbuhan ekspor, aliran investasi asing, serta kinerja sektor riil dinilai berperan dalam menjaga stabilitas nilai tukar mata uang domestik.

Analisis Keseluruhan Kondisi Ekonomi

Secara keseluruhan, Hery menilai bahwa sektor keuangan Indonesia tidak lagi rentan terhadap krisis seperti tahun 1998. Ia menyoroti bahwa peningkatan kualitas manajemen risiko, pengawasan yang lebih ketat, serta transparansi informasi keuangan telah membentuk fondasi kuat. Namun, ia juga memperingatkan bahwa kinerja sektor perbankan harus terus dipantau agar bisa menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas moneter.

Menurut Hery, penurunan nilai tukar Rupiah saat ini lebih bersifat sementara dan tidak mencerminkan ketidakstabilan fundamental. Ia menyebut bahwa ketahanan sektor perbankan akan terus menjadi penopang penting bagi perekonomian nasional, terutama dalam menghadapi dinamika global yang terus berubah. “Sistem keuangan kita kini tidak lagi rentan karena telah memperkuat struktur risiko secara sistematis,” katanya.

Dalam konteks ini, Perbanas berperan aktif sebagai mitra pemerintah dalam memastikan keberlanjutan industri perbankan. Ia menegaskan bahwa indikator seperti CAR dan LDR harus dijaga agar bank-bank tetap mampu menjalankan fungsinya sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. Meski terjadi fluktuasi, Hery yakin bahwa sektor perbankan akan mampu menghadapinya dengan strategi yang lebih matang.

Sebagai penutup, Hery menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara lembaga keuangan, otoritas moneter, dan pemerintah dalam menjaga kestabilan ekonomi. Ia menyatakan bahwa perbankan nasional kini tidak hanya berperan sebagai penyalur dana, tetapi juga sebagai penopang struktur perekonomian yang lebih kuat. Dengan demikian, meskipun Rupiah sedang tertekan, sistem keuangan Indonesia tetap dalam kondisi yang sehat dan siap menghadapi berbagai tantangan.

Pilihan Editor: Beda Pelemahan Nilai Rupiah Sekarang dan Krisis Ekonomi 1998