TempatDonasi
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

New Policy: Danantara Terbitkan Obligasi USD 1,5 Miliar. Apa Risikonya?

Published Juni 21, 2026 · Updated Juni 21, 2026 · By Joko Purnama

Surat Utang Danantara Laris di Pasar Global. Pertanda Apa?

Peluncuran Obligasi USD 1,5 Miliar Mengundang Kritik

New Policy - Perusahaan manajemen investasi PT Danantara Investment Management kembali menjadi sorotan setelah mengeluarkan obligasi global senilai US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 26,5 triliun. Meski langkah ini dinilai sukses menarik minat investor, lembaga kajian Celios mengungkapkan kekhawatiran terkait potensi risiko yang muncul dari penerbitan surat utang tersebut.

"Program PSN sebagian dibebankan ke Danantara bukan APBN, dan ini menciptakan risiko quasi-fiskal," ujar Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios, dalam keterangan resmi yang dikutip pada Sabtu, 20 Juni 2026.

Risiko ini, menurut Celios, berpotensi menguras dividen dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) serta meninggalkan beban bayangan bagi kas negara. Apalagi, penerbitan obligasi dalam denominasi asing seperti USD menimbulkan kerentanan terhadap fluktuasi nilai tukar, yang bisa memengaruhi kemampuan pembayaran bunga. Selain itu, tenor pendek dalam pengelolaan utang berisiko memperparah ketergantungan pada likuiditas jangka pendek, padahal aset yang dikelola Danantara bersifat jangka panjang.

Pemindahan Beban ke BUMN Jadi Sorotan

Bhima menyoroti transparansi penggunaan dana utang. Ia mengingatkan bahwa kewajiban pemerintah, seperti subsidi energi atau penyaluran listrik, bisa dipindahkan ke BUMN melalui instrumen seperti Danantara. Contohnya, ketika pemerintah menahan tarif bahan bakar atau listrik, Pertamina dan PLN harus menanggung kompensasi lebih dahulu, yang berujung pada peningkatan beban keuangan perusahaan-perusahaan tersebut.

Kritik ini semakin kuat ketika Danantara menerbitkan utang dalam skala besar. Bhima mempertanyakan apakah dana dari obligasi ini digunakan untuk menyuntik modal BUMN energi yang telah terbebani oleh utang kompensasi pemerintah. Atau justru menutup kebutuhan kas yang sebenarnya berasal dari kewajiban kompensasi tersebut? Pertanyaan ini mengingatkan bahwa penggunaan dana utang perlu diawasi agar tidak berujung pada pengalihan beban fiskal ke sektor swasta.

Struktur Modal yang Dikhawatirkan

Menurut Celios, kondisi modal Danantara juga menjadi faktor risiko. Saat ini, nilai aset perusahaan mencapai US$ 1 triliun, namun klaim tersebut belum sepenuhnya diverifikasi. Ini berarti, ada kemungkinan aset yang dikelola tergantung pada kelancaran transaksi, serta tingkat risiko per jenis aset. Jika tidak terpantau dengan baik, penerbitan utang berlebihan bisa mengancam stabilitas keuangan perusahaan.

Konsekuensi langsung dari penerbitan obligasi USD 1,5 miliar, menurut Celios, adalah meningkatnya beban bunga yang harus dibayarkan. Hal ini berpotensi mengurangi pendapatan BUMN, terutama jika dana utang digunakan untuk mengisi kebutuhan kas yang seharusnya dialokasikan melalui APBN. Akibatnya, pemerintah akan mengalami tekanan lebih besar dalam mengelola anggaran keuangan.

Kebutuhan Kas BUMN dan Dinamika Pasar Global

Danantara sendiri menjelaskan bahwa dana hasil penerbitan obligasi akan dibagi dalam tenor 5 tahun dan 10 tahun. Masing-masing tenor menyerap US$ 750 juta, sehingga total penerbitan mencapai US$ 1,5 miliar. Meski demikian, pihaknya tidak mengungkapkan secara detail alokasi dana tersebut, terutama untuk kebutuhan tertentu.

Chef Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa penerbitan Global Bond Danantara mengalami oversubscribed, atau kelebihan permintaan, lebih dari tiga kali lipat. Ini menunjukkan minat investor global terhadap instrumen keuangan dari Indonesia masih tinggi. Meski demikian, risiko penyaluran dana yang tidak tepat sasaran tetap menjadi pertanyaan.

Peluncuran obligasi ini sebelumnya dianggap sebagai solusi untuk mengisi kebutuhan pendanaan program yang tidak bisa sepenuhnya ditanggung oleh APBN. Namun, tindakan ini juga mengubah peran Danantara menjadi pelaku finansial yang lebih berisiko. Dengan adanya ketergantungan pada pasar internasional, perusahaan bisa terpengaruh oleh perubahan kebijakan moneter atau kondisi ekonomi global.

Perkembangan Awal dan Target Penerbitan

Sebenarnya, Danantara awalnya hanya menargetkan penerbitan perdana sebesar US$ 1 miliar. Namun, setelah melakukan roadshow ke berbagai pusat keuangan internasional, permintaan investor meningkat signifikan. Bahkan, dana yang dibutuhkan mencapai US$ 4,6 miliar atau sekitar Rp 81,5 triliun, dengan asumsi kurs rupiah 17.725 per dolar AS. Dengan demikian, penerbitan obligasi diputuskan dinaikkan menjadi USD 1,5 miliar untuk memenuhi permintaan pasar.

Pertumbuhan permintaan ini mengindikasikan kepercayaan investor terhadap instrumen keuangan Indonesia. Namun, Bhima Yudhistira mempertanyakan apakah pihak manajemen mampu memastikan penggunaan dana yang optimal. Jika dana tersebut lebih banyak dialokasikan untuk menyokong BUMN, maka risiko quasi-fiskal bisa semakin tinggi, terutama jika ada ketergantungan berkelanjutan pada pencairan dana luar negeri.

Dengan nilai aset mencapai US$ 1 triliun, Danantara memiliki kapasitas finansial yang cukup besar. Namun, peningkatan utang hingga USD 1,5 miliar berarti rasio utang terhadap aset bisa meningkat, yang berpotensi mengurangi fleksibilitas perusahaan dalam menghadapi krisis. Selain itu, tingkat risiko per jenis aset yang tidak jelas bisa memperbesar kemungkinan kerugian, terutama jika pasar global mengalami volatilitas.

Kritik Celios terhadap langkah Danantara ini menjadi bahan diskusi kementerian keuangan dan lembaga pemeringkat. Apakah penerbitan obligasi menjadi alternatif yang sehat untuk mengatasi defisit APBN, atau justru mengembangkan ketergantungan fiskal yang lebih kompleks? Pilihan ini menunjukkan kebijakan pengelolaan keuangan yang perlu dipertimbangkan secara matang, terutama dalam konteks keterbukaan dan transparansi penggunaan dana.

Apakah Ini Tanda Kebijakan yang Lebih Baik?

Walau ada risiko, keberhasilan penerbitan Global Bond Danantara tetap menjadi langkah penting. Ini menunjukkan bahwa institusi keuangan swasta masih memiliki daya tarik dalam mendanai program pemerintah. Namun, agar kebijakan ini berjalan efektif, perlu ada pengawasan yang ketat terhadap alokasi dana serta manajemen risiko.

Langkah ini bisa menjadi percontohan bagi lembaga keuangan lain, asalkan tidak mengabaikan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Dengan menarik dana dari pasar internasional, Danantara menunjukkan kemampuan dalam menjaga kepercayaan investor. Tapi, apakah ini hanya jangka pendek, atau mewakili kebijakan jangka panjang yang lebih berkelanjutan? Jawabannya mungkin tergantung pada pengelolaan dana yang tepat dan kemampuan mengurangi risiko quasi-fiskal.