TempatDonasi
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

New Policy: Indef Nilai Kenaikan Harga Pertamax Pengaruhi Daya Beli

Published Juni 14, 2026 · Updated Juni 14, 2026 · By Sinta Kurniawan

Indef: Kenaikan Harga Pertamax Berdampak pada Daya Beli Masyarakat

New Policy - Menurut Institute for Development of Economics and Finance (Indef), kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) Pertamax tidak hanya memengaruhi inflasi, tetapi juga berpotensi mengurangi daya beli masyarakat secara signifikan. Institusi ini menekankan bahwa dampak utama dari kenaikan harga tersebut lebih terfokus pada penurunan kemampuan ekonomi kelompok kelas menengah, yang menjadi pengguna utama jenis bahan bakar ini.

Kenaikan Harga Pertamax dan Peningkatan Biaya Hidup

Menjelaskan situasi pasar saat ini, Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, mengungkapkan bahwa kenaikan harga Pertamax terjadi di tengah kondisi ekonomi yang membebani masyarakat. Faktor-faktor seperti suku bunga acuan Bank Indonesia yang mencapai 5,50 persen, pelemahan nilai tukar rupiah, serta kenaikan biaya kehidupan secara umum, semakin memperkuat dampak negatif dari kebijakan harga BBM ini.

“Kenaikan harga Pertamax berpotensi menambah beban pengeluaran rumah tangga, terutama pada sektor transportasi. Kondisi ini dapat mengurangi pendapatan riil masyarakat dan memperlambat pertumbuhan konsumsi domestik, yang menjadi salah satu pilar utama ekonomi Indonesia,” ujar Rizal dalam wawancara dengan Tempo pada Jumat, 12 Juni 2026.

Kelompok kelas menengah, menurut Rizal, menjadi sasaran utama dari kenaikan harga Pertamax. Kelompok ini tidak hanya memiliki pengeluaran transportasi yang signifikan, tetapi juga cenderung lebih rentan terhadap perubahan harga bahan bakar. Dengan menaikkan harga BBM, pemerintah berisiko menghambat kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama dalam hal perjalanan dan akses ke layanan jasa.

Potensi Dampak pada Inflasi dan Sektor Ekonomi

Meski kenaikan harga Pertamax tidak langsung menyebabkan lonjakan inflasi, Rizal menyatakan bahwa dampaknya bisa muncul secara bertahap melalui mekanisme second-round effect. Penyesuaian biaya operasional di sektor jasa, transportasi, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bisa memicu kenaikan harga barang dan jasa umum, yang pada akhirnya memengaruhi daya beli konsumen.

Rizal menyoroti bahwa Pertamax bukan merupakan bahan bakar utama untuk angkutan umum atau logistik. Oleh karena itu, kontribusi harga BBM ini terhadap inflasi nasional relatif terbatas. Namun, di tengah tingkat inflasi tahunan yang mencapai 3,08 persen pada Mei 2026, kenaikan harga Pertamax dianggap sebagai faktor tambahan yang bisa memperparah tekanan ekonomi.

“Pengalaman kenaikan harga Pertamax pada Desember 2025, di mana harga BBM tersebut mencapai Rp12.750 per liter, menunjukkan bahwa kebijakan ini tidak langsung menjadi penyebab utama kenaikan inflasi nasional,” tambah Rizal. Namun, meski harga BBM kembali menurun pada Januari dan Februari 2026, dampaknya tetap berlangsung melalui penyesuaian biaya usaha di berbagai sektor.

Kebijakan Harga Pertamax dan Regulasi Pemerintah

Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, PT Pertamina Patra Niaga secara resmi menaikkan harga Pertamax dan Pertamax Green. Dalam kebijakan tersebut, harga Pertamax RON 92 naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sedangkan Pertamax Green RON 95 meningkat dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Kenaikan ini dilakukan setelah evaluasi berdasarkan formula harga yang ditetapkan pemerintah.

Roberth M.V. Dumatubun, Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga, menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan sesuai dengan instruksi regulator. Kebijakan ini dianggap sebagai respons terhadap perubahan harga minyak dunia dan dinamika pasar ekonomi yang terus bergerak. Selain itu, Pertamina juga menjelaskan bahwa keputusan penyesuaian harga tidak hanya didasarkan pada permintaan, tetapi juga untuk memastikan stabilitas sistem keuangan.

“Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui evaluasi yang mempertimbangkan kondisi ekonomi dan harga minyak global,” kata Roberth dalam keterangan tertulis. Ia menegaskan bahwa kenaikan harga BBM ini menjadi bagian dari upaya menyesuaikan kebijakan subsidi yang berlaku.

Analisis Jangka Panjang dan Tantangan Ekonomi

Menurut Indef, kenaikan harga Pertamax bisa berdampak jangka panjang terhadap daya beli masyarakat. Dengan biaya transportasi yang meningkat, konsumen lebih sulit mengalokasikan dana untuk kebutuhan lain, seperti pendidikan, kesehatan, atau hiburan. Rizal mengingatkan bahwa konsumsi domestik, yang selama ini menyumbang lebih dari 50 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, berisiko melambat jika daya beli terus tertekan.

Dalam jangka pendek, kenaikan harga Pertamax bisa berdampak pada tingkat inflasi. Meski tidak langsung menjadi faktor utama, kenaikan biaya transportasi dan jasa akan memperkuat tekanan inflasi yang sudah terjadi. Dengan rata-rata inflasi pada Mei 2026 mencapai 3,08 persen, kenaikan harga Pertamax bisa mendorong harapan masyarakat tentang kenaikan harga barang kebutuhan pokok.

Rizal menegaskan bahwa dampak terbesar dari kebijakan ini tidak hanya berupa kenaikan inflasi, tetapi juga perubahan pola konsumsi masyarakat. Penyesuaian harga bahan bakar ini berpotensi memengaruhi sektor-sektor yang bergantung pada kebutuhan transportasi, seperti retail, logistik, dan industri jasa. Dengan daya beli yang menurun, konsumsi masyarakat bisa berkurang, yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi.

Perbandingan dengan Kenaikan Harga Sebelumnya

Dalam analisisnya, Indef juga membandingkan kenaikan harga Pertamax saat ini dengan kebijakan sebelumnya. Pada Desember 2025, harga Pertamax naik hingga Rp12.750 per liter, tetapi dampaknya tidak terlalu signifikan karena ada penyesuaian yang lebih cepat di sektor lain. Kenaikan harga pada Juni 2026, yang mencapai 32,1 persen, dikhawatirkan berdampak lebih besar karena kenaikan biaya hidup yang terus meningkat.

Rizal mengingatkan bahwa kebijakan harga BBM harus dilihat dalam konteks keseluruhan ekonomi. Jika tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan, kenaikan harga Pertamax bisa menjadi perangkap yang mengurangi kualitas hidup masyarakat. Selain itu, kebijakan ini juga perlu dianalisis dari segi keadilan distribusi, apakah benar-benar menguntungkan perekonomian secara menyeluruh atau justru membebani kelompok tertentu.

Dengan demikian, kebijakan harga Pertamax harus menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan subsidi dan pertumbuhan ekonomi. Kenaikan harga ini perlu diiringi dengan upaya meningkatkan produktivitas atau pemasukan masyarakat agar daya beli tidak terlalu terganggu.

Kesimpulan dan Perspektif Masa Depan

Rizal Taufikurahman menutup pernyataannya dengan mengingatkan bahwa kenaikan harga Pertamax menjadi tantangan baru bagi daya beli masyarakat. Ia menekankan bahwa kebijakan harga BBM harus dipertimbangkan secara cermat, terutama dalam menghadapi dinamika ekonomi yang kompleks. Di sisi lain, Pertamina