Topics Covered: Bapanas: Pemerintah intervensi harga ayam dan telur cegah deflasi
Bapanas: Pemerintah Terus Lakukan Intervensi Harga Ayam dan Telur untuk Mengatasi Deflasi
Topics Covered – Dari Jakarta, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengonfirmasi bahwa pemerintah masih terus mengambil langkah-langkah intervensi harga secara komprehensif, mulai dari sumber daya hingga distribusi, untuk menghambat deflasi yang lebih dalam terhadap dua produk utama, yaitu daging ayam ras dan telur ayam ras, di sektor peternakan nasional. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menjelaskan bahwa tindakan ini bertujuan menjaga keseimbangan harga agar tetap adil bagi peternak dan konsumen, meskipun terjadi penurunan harga saat ini.
“Supaya tak terjadi deflasi yang terdalam pada komoditas daging ayam ras dan telur ayam ras, pemerintah terus bergerak melaksanakan intervensi mulai dari hulu sampai hilir,” kata Ketut di Jakarta, Selasa.
Bapanas melaporkan bahwa harga ayam pedaging hidup dan telur ayam ras di tingkat produsen saat ini berada di bawah harga acuan pembelian (HAP) yang ditetapkan oleh pemerintah. Untuk ayam ras, harga rata-rata tercatat sekitar 8 persen di bawah HAP, sementara telur ayam ras turun sebanyak 8,09 persen dari harga yang ditetapkan. Kondisi ini mulai menyebabkan kekhawatiran di kalangan peternak, karena menekan margin keuntungan mereka.
Ketut menegaskan bahwa pemerintah fokus pada keseimbangan harga di seluruh rantai pasokan pangan, agar produksi dalam negeri tetap terjaga. Ia juga menyatakan bahwa harga di konsumen tidak boleh melampaui HAP yang telah ditetapkan, agar tidak terjadi tekanan deflasi yang berkelanjutan pada komoditas strategis. “Ini teman-teman (peternak) sudah berteriak. Ini yang akan kami dorong juga mengembalikan (kewajaran). Ini di bawah HAP tapi harus naikkan lagi, tentu akan berdampak pada Indeks Perkembangan Harga (IPH),” jelas Ketut.
Program Stabilisasi Harga untuk Menjaga Produksi Peternakan
Dalam upaya menstabilkan harga, Bapanas bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan) serta Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menyerap langsung komoditas tersebut dari peternak. “Jangan sampai harga sudah terlanjur di bawah, (malah terjadi) demo dan lain sebagainya,” ucap Ketut.
Sebagai bagian dari strategi stabilisasi, Bapanas telah menetapkan harga jagung pakan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebesar Rp5.000 per kilogram dengan pengambilan dari gudang Bulog. Harga maksimal di tingkat peternak ditetapkan sebesar Rp5.500 per kilogram. Program ini bertujuan memberikan dukungan finansial kepada peternak agar biaya produksi tetap terkendali.
Ketut menyebutkan bahwa harga jagung di tingkat peternak saat ini berkisar Rp6.700 per kilogram, sehingga SPHP jagung pakan dianggap lebih kompetitif. “Dengan bantuan SPHP jagung ini, mereka bisa menikmati keuntungan yang masih wajar,” tambah Ketut. Penyaluran SPHP jagung pakan dilakukan melalui koperasi atau asosiasi kepada anggota yang terdaftar dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian, untuk memastikan distribusi yang efisien dan tepat sasaran.
Hingga 17 Mei, Perum Bulog telah menyalurkan SPHP jagung pakan hingga 5,97 ribu ton dari target total 213,2 ribu ton. Stok cadangan jagung pemerintah (CJP) per 18 Mei mencapai 234 ribu ton, menunjukkan keberhasilan pemerintah dalam menyerap produksi domestik. Selain itu, Bapanas memastikan Bulog terus melakukan penyerapan jagung produksi dalam negeri sejak awal tahun 2026, dengan capaian 194,2 ribu ton hingga 18 Mei.
Evaluasi Kinerja Program Intervensi Pangan
Dalam rapat pengendalian inflasi yang dihadiri oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, ia menilai bahwa implementasi program intervensi pangan telah berjalan cukup baik. “Pada posisi daging ayam ras relatif terkendali. 232 daerah mengalami penurunan. Ini cukup baik artinya intervensi cukup baik dari Bulog maupun dari Badan Pangan Nasional, Kementerian Pertanian bagus,” kata Tito.
Data perubahan Indeks Perkembangan Harga (IPH) minggu kedua Mei menunjukkan bahwa daging ayam ras mengalami penurunan di 232 kabupaten/kota. Sementara telur ayam ras tercatat lebih banyak lagi dengan penurunan IPH di sejumlah wilayah. Tito menekankan bahwa keberhasilan ini merupakan bukti bahwa upaya pemerintah dalam menstabilkan harga dan pasokan pangan berjalan harmonis.
Intervensi harga ayam dan telur tidak hanya bertujuan mengatasi deflasi, tetapi juga menjaga stabilitas pangan secara nasional. Bapanas berupaya memastikan bahwa harga di tingkat produsen kembali ke level yang wajar, agar tidak terjadi permasalahan serius di sektor peternakan. Program SPHP jagung pakan dianggap sebagai salah satu alat yang efektif untuk mendukung keuntungan peternak, terutama dalam situasi harga pangan turun tajam.
Menurut Ketut, keseimbangan harga di tingkat produsen dan konsumen adalah prioritas pemerintah. Dengan mempertahankan harga di bawah HAP, tetapi tidak terlalu rendah, maka produsen bisa tetap berkembang sementara konsumen tidak dirugikan. “Kita harus memastikan harga tidak terlalu rendah hingga menyebabkan demo atau kekacauan di pasar,” jelasnya.
Dalam rangka menstabilkan pasokan, Bapanas juga memperkuat kerja sama dengan berbagai institusi terkait, termasuk Kementan dan BGN. Ketut menegaskan bahwa program ini tidak hanya berdampak pada harga jual, tetapi juga memperkuat keberlanjutan produksi nasional. “Ini adalah upaya untuk menjaga ketahanan pangan, terutama di tengah tantangan ekonomi global yang berdampak pada harga komoditas,” tambahnya.
Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman telah menandatangani pendistribusian program SPHP jagung pakan, yang disalurkan kepada peternak melalui koperasi dan asosiasi. Ketut menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang pemerintah untuk menjaga keseimbangan harga di seluruh rantai pasokan. Dengan harga jagung yang lebih
