Key Discussion: Legislator minta penyaluran bantuan pangan segera direalisasikan

f4e597b8-951e-4152-b7e4-7837fc0ba70c-0

Legislator minta penyaluran bantuan pangan segera direalisasikan

Key Discussion – Dari Jakarta, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, mengemukakan kebutuhan agar distribusi bantuan pangan, seperti beras dan minyak goreng, segera dimulai kepada 33.244.408 keluarga penerima manfaat (KPM) yang telah ditetapkan. “Penyaluran bantuan periode Februari-Maret 2026 bertujuan untuk meringankan beban ribuan KPM yang terdaftar dalam menghadapi momen ibadah besar seperti Ramadhan dan Lebaran,” jelas Alex pada Rabu. Namun, menurutnya, keberhasilan tujuan tersebut belum tercapai hingga Mei 2026, karena anggaran untuk bantuan ini masih dalam status nol persen.

Kritik Terhadap Progres Realisasi

Alex menyoroti ketidaktepatan dari rencana distribusi bantuan yang telah dirancang secara rapi. “Mengapa rencana ini belum terealisasi meski telah disusun dengan matang?” tanyanya, dalam menyampaikan kekecewaan terhadap kinerja Badan Pangan Nasional (Bapanas). Ia menilai adanya penundaan penyaluran bantuan merupakan pelanggaran terhadap fungsi utama Bapanas, yaitu menjaga kestabilan harga dan distribusi pangan di tengah situasi ekonomi yang terus berubah.

“Sekarang, harga pangan terus meroket. Jika kemudian alasan utama yang digunakan adalah masalah perang, oke kami terima. Namun, pertanyaan utama yang muncul adalah bagaimana rencana bapak ibu untuk menghadapi dampak gejolak perang saat ini?”

Menurut Alex, kebutuhan untuk menyusun strategi antisipatif menjadi sangat mendesak karena kenaikan harga sembako yang terus melaju. “Sementara rakyat menghadapi tekanan ekonomi, Bapanas harus segera bertindak,” tegasnya. Ia juga menyoroti bahwa keterlambatan ini memperparah kesulitan masyarakat, terutama di wilayah dengan akses logistik yang terbatas.

Konteks Penyaluran Bantuan

Penyaluran bantuan pangan yang dimaksudkan sebagai bentuk dukungan bagi KPM di bulan suci Ramadhan dan hari raya Idul Fitri, seharusnya menjadi prioritas utama. Dalam sesi rapat dengar pendapat (RDP) Komisi IV dengan Bapanas pada Selasa, 19 Mei 2026, Alex menyampaikan kekhawatiran ini. “Kebutuhan beras sebanyak 664.888 ton dan minyak goreng sebanyak 132,9 juta liter masih belum terpenuhi hingga kini,” kata legislator yang juga Ketua Panitia Kerja (Panja) Alih Fungsi Lahan Komisi IV DPR RI. Angka tersebut menunjukkan volume bantuan yang cukup besar, terutama mengingat jumlah KPM yang terdaftar.

Di sisi lain, Alex mengkritik keterlambatan Bapanas dalam melakukan koordinasi dengan Perum Bulog, lembaga yang bertugas sebagai pelaksana utama distribusi bantuan pangan. “Dengan bantuan yang tidak kunjung terdistribusi, apakah Bapanas mampu memastikan stabilitas pasar pangan saat ini?” tanyanya. Hal ini menjadi sorotan karena kenaikan harga beras dan minyak goreng terus terjadi, menimbulkan tekanan pada masyarakat ekonomi rendah.

Upaya untuk Mempercepat Realisasi

Menyikapi situasi tersebut, Alex menegaskan bahwa Bapanas harus segera menindaklanjuti rencana penyaluran bantuan. “Segera laporkan ke Komisi IV jika peta jalannya untuk menstabilkan harga pangan telah selesai disusun,” pinta dia. Ia menilai perlu ada kejelasan terkait mekanisme distribusi dan strategi yang diambil untuk mengatasi lonjakan harga pangan. “Ini bukan hanya soal penyaluran bantuan, tetapi juga tentang respons cepat terhadap krisis ekonomi yang sedang terjadi,” tambahnya.

Alex juga menekankan pentingnya keberhasilan distribusi bantuan sebagai bentuk kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. “KPM yang terdaftar membutuhkan bantuan segera, terutama untuk memenuhi kebutuhan pokok selama bulan puasa dan hari raya. Jika bantuan tidak terealisasi, apa jadanya upaya pemerintah dalam mengelola krisis pangan?” ujarnya. Ia menyarankan agar Bapanas mempercepat persiapan logistik dan melibatkan berbagai pihak untuk mengoptimalkan distribusi.

Perspektif Politik dan Ekonomi

Dalam konteks kebijakan pangan nasional, Alex menilai bahwa keterlambatan penyaluran bantuan menjadi indikator kinerja lembaga yang diangkat sebagai pengelola strategi pangan. “Kita tidak bisa menyebut Bapanas sebagai lembaga yang efektif jika proyek yang sudah dirancang tidak segera dijalankan,” katanya. Ia menambahkan bahwa tugas Bapanas bukan hanya untuk menyusun rencana, tetapi juga untuk memastikan pelaksanaannya secara konkret.

Selain itu, Alex mengingatkan bahwa kenaikan harga pangan berdampak langsung pada inflasi dan daya beli masyarakat. “Jika Bapanas tidak mampu menjaga stabilitas harga, maka risiko kenaikan harga pangan bisa berdampak luas terhadap ekonomi nasional,” jelasnya. Ia menekankan bahwa langkah-langkah antisipatif seperti penyimpanan cadangan pangan dan penegakan harga jual harus segera diambil. “Ini adalah tugas yang tidak bisa ditunda, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi yang terus meningkat,” tambahnya.

Alex juga menyoroti bahwa Bapanas harus memperkuat koordinasi dengan lembaga pemerintah lain, seperti Perum Bulog, agar distribusi bantuan bisa berjalan efisien. “Kita perlu menjamin bahwa setiap ton beras dan liter minyak goreng sampai tepat sasaran,” kata dia. Ia menambahkan bahwa jika Bapanas tidak mampu mengoptimalkan kerja sama dengan lembaga penyimpanan dan distribusi pangan, maka rencana penyaluran bantuan bisa terganggu.

Kebutuhan akan bantuan pangan semakin mendesak mengingat permintaan akan beras dan minyak goreng terus meningkat. “Masyarakat membutuhkan bantuan ini untuk memenuhi kebutuhan pokok, terutama di saat harga pangan sedang naik,” jelas Alex. Ia berharap Bapanas bisa menyelesaikan semua langkah teknis dan logistik secara cepat, sehingga bantuan bisa tersalurkan tepat