TempatDonasi
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Latest Program: UNHCR Apresiasi Komitmen Indonesia Lindungi Pengungsi

Published Juni 21, 2026 · Updated Juni 21, 2026 · By Wahyu Kurniawan

UNHCR Mengapresiasi Konsistensi Indonesia dalam Mendukung Kemanusiaan bagi Pengungsi

Latest Program - Komisariat Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR) menyoroti peran Indonesia sebagai mitra yang konsisten dalam upaya melindungi para pengungsi. Dalam sebuah pernyataan, mereka menyampaikan penghargaan atas komitmen negara ini dalam memberikan kepastian serta kesempatan bagi individu yang terpaksa meninggalkan rumah kampungnya. Pernyataan ini dirilis pada Ahad 21 Juni 2026, seperti dilansir dari ANTARA, dan diucapkan oleh Hendrik Therik, juru bicara UNHCR Indonesia.

Peran Indonesia dalam Perlindungan Pengungsi

Therik menekankan bahwa kebijakan kemanusiaan Indonesia tidak hanya menciptakan rasa aman bagi pengungsi, tetapi juga menunjukkan keberhasilan kerja sama antar lembaga dan masyarakat. "Pengungsi yang tinggal di Indonesia memiliki harapan yang nyata, karena peran negara ini menunjukkan komitmen global terhadap keadilan sosial," ujarnya dalam siaran pers.

“Komitmen kemanusiaan Indonesia selama ini telah memberikan rasa aman dan harapan bagi orang-orang yang terpaksa mengungsi, sekaligus menunjukkan pentingnya tanggung jawab bersama,” kata Hendrik Therik.

Berdasarkan laporan Global Trends yang diterbitkan UNHCR, sebagian besar pengungsi di dunia—tujuh dari sepuluh—berada dalam kondisi pengungsian jangka panjang. Mereka menghabiskan tahun-tahun dengan terpisah dari lingkungan asalnya, sambil menunggu solusi yang lebih stabil. Meskipun bantuan material bisa menyelamatkan nyawa, pendekatan lebih komprehensif diperlukan agar pengungsi dapat memulihkan kehidupan mereka.

Cerita Pengungsi yang Berkontribusi untuk Masyarakat

Dua contoh nyata dari 12.000 pengungsi dan pencari suaka yang berada di Indonesia adalah Amed dan Amina. Amed, seorang laki-laki yang berasal dari Irak, kini menjalankan program komunitas yang berfokus pada pendidikan informal dan adaptasi pengungsi anak terhadap lingkungan baru. Sementara Amina, seorang ibu rumah tangga dari Afganistan, memimpin kelompok karate yang membantu sesama pengungsi meningkatkan kepercayaan diri dan ketangguhan.

“Namun, ketika diberikan kesempatan untuk memanfaatkan keterampilan, melanjutkan pendidikan, menjadi sukarelawan, dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat, semua pihak akan diuntungkan,” kata Emily Bojovic, Senior Protection Officer UNHCR Indonesia.

Dalam rangka menggali potensi pengungsi, UNHCR menekankan bahwa organisasi yang dipimpin oleh pengungsi sendiri memiliki dampak besar. Mereka tidak hanya memperkuat kohesi sosial, tetapi juga menciptakan ruang untuk pengungsi membangun identitas baru dan berkontribusi secara aktif. Bojovic menambahkan, "Kami melihat betapa besar dampaknya ketika para pengungsi punya kesempatan untuk mewujudkan potensi dan berkontribusi bagi komunitas di sekitar mereka."

Tantangan Hukum yang Dihadapi Indonesia

Seorang dosen hukum internasional dari Universitas Indonesia, Arie Afriansyah, menyoroti kesulitan yang dihadapi Indonesia sebagai negara transit dalam menyediakan perlindungan jangka panjang. Ia menyebut bahwa keberadaan pengungsi di Indonesia selama bertahun-tahun memerlukan kerangka hukum yang lebih kuat untuk menjamin hak-hak mereka.

“Tantangan lain adalah keterbatasan kapasitas daerah penampung, potensi ketegangan sosial dengan masyarakat lokal, serta munculnya jaringan penyelundupan manusia yang memanfaatkan situasi pengungsi,” kata Arie saat dihubungi ANTARA di Jakarta.

Arie juga menyoroti bahwa Indonesia belum meratifikasi Konvensi Pengungsi 1951 dan Protokol 1967, yang menjadi dasar hukum internasional dalam menjamin perlindungan bagi para pengungsi. Kerangka hukum yang berlaku sejauh ini terbatas pada Peraturan Presiden (Perpres) No. 125 tahun 2016 tentang Penanganan Pengungsi dari Luar Negeri. Meski aturan ini memberikan kemudahan dalam fase awal penanganan, Arie menegaskan bahwa ia tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang pengungsi.

Berdasarkan analisis Arie, perlu adanya penyesuaian dalam aspek hukum, kemanusiaan, diplomasi, dan kerja sama regional. "Pendekatannya tidak bisa semata-mata berfokus pada keamanan perbatasan, tetapi harus memadukan aspek-aspek tersebut," jelasnya. Hal ini penting untuk memastikan pengungsi tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga bisa menikmati kesejahteraan dan kemajuan.

Komitmen Indonesia di Tengah Tekanan Global

UNHCR berterima kasih kepada Indonesia karena terus menjaga komitmen untuk melindungi pengungsi, meskipun hak untuk mencari suaka menghadapi tekanan di berbagai belahan dunia. "Bagi ribuan pengungsi yang mencari perlindungan di Indonesia selama beberapa dekade, negara ini tetap menjadi simbol kemanusiaan," ujar Hendrik Therik.

Dalam konteks global, Indonesia dianggap sebagai negara yang menjadi tempat transit bagi banyak individu yang berada dalam situasi darurat. Arie Afriansyah menegaskan bahwa keterbatasan kapasitas penampungan dan ketegangan sosial membutuhkan solusi yang lebih holistik. Menurutnya, Indonesia tidak bisa mengandalkan penempatan ke Australia sebagai satu-satunya jalan keluar, mengingat jumlah penerimaan pengungsi ke negara tersebut terbatas.

Selain itu, Arie mengingatkan bahwa prinsip non-refoulement—yang melarang pengembalian pengungsi ke tempat di mana mereka berisiko mengalami penganiayaan—harus tetap dihormati. "Kita harus memastikan bahwa setiap pengungsi tidak hanya diberi tempat, tetapi juga peluang untuk beradaptasi dan berkembang secara sosial dan ekonomi," katanya.

Di sisi lain, Amed dan Amina menjadi bukti bahwa pengungsi tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga berkontribusi pada kehidupan masyarakat. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa kebijakan yang inklusif bisa membawa perubahan positif, terutama bagi pengungsi yang memiliki keterampilan dan semangat untuk berpartisipasi. Dengan memadukan upaya lokal dan internasional, Indonesia bisa menjadi contoh yang baik dalam upaya melindungi para pengungsi di tengah tantangan yang semakin kompleks.

Kontribusi Komunitas Pengungsi dalam Membangun Masa Depan

Program-program yang dijalankan oleh organisasi komunitas pengungsi, seperti yang dipimpin Amed, menunjukkan pentingnya keterlibatan langsung dari individu yang terdampak. Mereka tidak hanya memperkuat kapasitas penampungan, tetapi juga menciptakan lingkungan yang lebih harmonis antara pengungsi dan masyarakat setempat. Dukungan ini berdampak signifikan dalam mengurangi isolasi dan membangun hubungan saling menghargai.

Dengan adanya kelompok karate yang dipimpin Amina, para pengungsi tidak hanya diberikan pelatihan fisik, tetapi juga peran sosial sebagai bagian dari komunitas. Keterlibatan ini mencipt