TempatDonasi
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Meeting Results: Cina Desak Myanmar Buat Pembangunan yang Didukung Rakyat

Published Juni 17, 2026 · Updated Juni 17, 2026 · By Tegar Ananda

Kunjungan Presiden Myanmar ke Beijing: Cina Desak Penetapan Pembangunan Berbasis Rakyat

Meeting Results - Dalam pertemuan resmi di Beijing pada Selasa, 16 Juni 2026, Presiden Tiongkok Xi Jinping mengeluarkan pesan penting kepada Pemimpin Myanmar Min Aung Hlaing. Xi meminta negara tetangga untuk menetapkan langkah-langkah pembangunan yang tepat dan didukung oleh masyarakat luas, sekaligus mengembangkan strategi yang sesuai dengan kebutuhan nasional. Pertemuan ini menjadi momen penting dalam menjaga hubungan diplomatik antara kedua negara, yang terus berupaya memperkuat kerja sama di berbagai bidang.

Diplomasi Tetangga dan Prioritas Kebangsaan

Menurut laporan Xinhua News yang disebarkan oleh Antara, pertemuan antara Xi dan Min berlangsung setelah upacara sambutan di Beijing. Xi menegaskan bahwa Tiongkok menjadikan hubungan dengan Myanmar sebagai prioritas utama dalam kebijakan luar negerinya. Ia juga menyoroti dukungan pemerintah Tiongkok terhadap pemerintahan baru Myanmar, khususnya dalam upaya mengoordinasikan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas keamanan.

"Kerja sama antara Tiongkok dan Myanmar akan menjadi fondasi untuk mencapai keberlanjutan pembangunan yang sesuai dengan kondisi lokal dan mendapat dukungan masyarakat," ujar Xi dalam pidatonya.

Kunjungan Min ke Beijing terjadi di tengah kondisi Myanmar yang sedang menghadapi tekanan politik dan sosial akibat perang etnis yang berkecamuk sejak 2021. Sejak menjabat sebagai pemimpin negara tersebut, Min memperparah ketegangan dengan menggulingkan pemerintahan sipil, sehingga menyebabkan kekacauan yang berdampak pada perekonomian dan kehidupan masyarakat.

Proyek Koridor Ekonomi dan Peran BRI

Meski situasi politik Myanmar sedang tidak stabil, Xi tetap menilai Koridor Ekonomi Tiongkok-Myanmar sebagai proyek strategis dalam kerangka Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI). Proyek ini dianggap sebagai penggerak utama untuk meningkatkan keterhubungan regional dan mendorong pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia Tenggara.

Dalam pembicaraan mereka, kedua pemimpin menyoroti kemajuan proyek infrastruktur kunci, seperti pembangunan jalan raya, jaringan listrik, dan proyek transportasi laut. Xi menyatakan bahwa proyek-proyek tersebut diperkirakan akan memperkuat daya tahan ekonomi Myanmar dan meningkatkan kesejahteraan rakyat, terutama di daerah-daerah yang kurang berkembang. Ia juga menegaskan dukungan Tiongkok terhadap upaya Myanmar menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayahnya.

Mengapa Kunjungan Ini Penting?

Min tiba di Beijing pada Senin, 15 Juni 2026, sebagai bagian dari kunjungan kenegaraan lima hari yang diundang oleh Xi. Ini adalah pertama kalinya Min melakukan lawatan ke Tiongkok sejak menjadi presiden pada April 2026, setelah sebelumnya memimpin Myanmar sebagai kepala militer selama beberapa tahun. Kunjungan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun kembali kepercayaan dan memperkuat kerjasama bilateral.

Selama kunjungan, Min juga akan bertemu dengan Perdana Menteri Li Qiang dan Pemimpin Komite Tetap Majelis Rakyat Nasional Cina Zhao Leji. Pertemuan tersebut dilakukan dalam suasana yang menegaskan komitmen kedua pihak untuk meningkatkan koordinasi politik dan ekonomi, terutama dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

Kerja Sama Ekonomi dan Dampaknya

Pertemuan antara Xi dan Min terjadi saat Tiongkok dan Myanmar berupaya memperkuat hubungan ekonomi mereka. Saat ini, Tiongkok menjadi mitra dagang terbesar Myanmar, dengan nilai perdagangan bilateral mencapai US$19,4 miliar pada tahun lalu. Kedua negara memiliki ketergantungan yang tinggi dalam sektor-sektor seperti energi, infrastruktur, dan perdagangan lintas batas.

Dalam beberapa bulan terakhir, Tiongkok aktif berpartisipasi dalam pembangunan proyek-proyek infrastruktur yang menghubungkan Myanmar dengan wilayah Asia Tenggara. Proyek-proyek ini bukan hanya meningkatkan aksesibilitas, tetapi juga memperkuat jaringan ekonomi yang menjadikan Myanmar sebagai pintu masuk ke pasar pasar Asia Selatan.

Perkembangan Politik dan Tantangan di Depan

Sebelumnya, pada awal Juni, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi menerima Menteri Luar Negeri Myanmar Tin Maung Swe di Beijing. Pertemuan ini menegaskan komitmen kedua negara untuk mempercepat proses integrasi ekonomi dan kebijakan luar negeri. Kedua pemimpin juga membahas langkah-langkah konkret untuk meningkatkan investasi, mengurangi ketergantungan pada sumber daya alam, dan mendorong pembangunan berkelanjutan.

Kunjungan Min ke Beijing terjadi setelah ia melakukan lawatan ke India, yang menjadi langkah pertama sebagai presiden. Dengan demikian, Myanmar sedang memperluas kemitraan dengan negara-negara tetangga, baik di Asia Tenggara maupun India, guna mengamankan stabilitas ekonomi dan keamanan politik. Xi menyatakan bahwa Tiongkok akan terus mendukung Myanmar, terutama dalam upaya menyelesaikan konflik yang berkepanjangan di wilayah pedalaman.

Pertemuan antara Xi dan Min tidak hanya menegaskan kembali perjanjian lama, tetapi juga membuka ruang untuk diskusi tentang masa depan Myanmar. Xi meminta pemerintahan baru untuk fokus pada kebijakan yang bisa mendorong kesejahteraan rakyat, sekaligus memperkuat peran Tiongkok dalam menghadirkan kestabilan di Asia Tenggara. Ia menekankan bahwa proyek-proyek BRI akan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Myanmar, meski harus diimbangi dengan kebijakan yang lebih transparan dan inklusif.

Editor: Waswas Terdampak Konflik Myanmar, Cina akan Patroli Bersenjata di Perbatasan

Dalam konteks ketegangan yang berlangsung di Myanmar, Tiongkok diberitakan akan melakukan patroli bersenjata di perbatasan sebagai upaya menjaga keamanan dan stabilitas. Langkah ini diharapkan dapat mencegah eskalasi konflik antar-etnis yang berdampak pada proyek-proyek infrastruktur dan perdagangan. Xi juga meminta Myanmar untuk fokus pada pembangunan yang berkelanjutan, terutama dalam memperbaiki infrastruktur dan memastikan bahwa rakyat menjadi penentu utama kebijakan pembangunan.

Dengan dukungan Tiongkok, proyek Koridor Ekonomi diperkirakan akan menjadi salah satu penopang utama perekonomian Myanmar. Proyek ini tidak hanya memperkuat ekspor dan impor, tetapi juga membuka akses ke pasar ekspor global. Meski demikian, Tiongkok mengingatkan bahwa keberhasilan proyek tersebut bergantung pada keterlibatan masyarakat dalam mengambil keputusan dan memperoleh manfaat