TempatDonasi
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Meeting Results: Iran: Selat Hormuz Ditutup karena Serangan Israel ke Libanon

Published Juni 21, 2026 · Updated Juni 21, 2026 · By Sinta Kurniawan

Iran: Selat Hormuz Ditutup karena Serangan Israel ke Libanon

Meeting Results - Iran mengumumkan rencana untuk mengunci kembali Selat Hormuz pada Sabtu 20 Juni 2026, sebagai respons atas serangan Israel terhadap wilayah Lebanon selatan. Langkah ini diumumkan melalui pernyataan militer Iran, yang menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap perjanjian dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang regional di Timur Tengah. Seperti dilaporkan oleh CNA, Teheran menilai tindakan Israel sebagai penyebab ketegangan yang mengancam kesepakatan yang ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Iran Masoud Pezeshkian pekan ini.

Kejadian Serangan Israel di Lebanon Selatan

Operasi militer Israel yang dilakukan di Lebanon selatan terjadi beberapa jam setelah AS mengumumkan gencatan senjata baru dalam pertempuran di wilayah tersebut. Serangan ini menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat, karena beberapa pihak menilai tindakan itu sebagai bentuk kecurangan terhadap kesepakatan yang telah disepakati. Dalam pernyataan resmi, komando militer Iran menegaskan bahwa mereka akan mengambil langkah tegas untuk memblokir jalur laut strategis tersebut sebagai bentuk protes.

Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting pengangkutan energi global, telah terkena dampak signifikan dari tindakan Iran sebelumnya. Dalam sejarah, jalur ini sering menjadi titik kontroversi dalam konflik antara Iran dan negara-negara Timur Tengah. Penutupan kembali Selat Hormuz akan berdampak pada pasokan minyak dan gas ke berbagai negara, termasuk Eropa dan Asia, yang bergantung pada jalur ini.

Peran Hizbullah dan Kesepakatan Damai

Permusuhan antara Iran dan Israel telah memperparah keadaan perjanjian yang ditandatangani antara AS dan Iran. Kesepakatan ini bertujuan mengakhiri perang regional yang melibatkan Hizbullah, kelompok yang didukung Iran. Namun, Israel terus melakukan serangan terhadap Hizbullah, menurut pernyataan pihak militer Iran. Dengan alasan 'pelanggaran perjanjian' antara AS dan 'serangan terus-menerus oleh rezim Zionis' di Lebanon selatan, Iran mengambil keputusan untuk menutup Selat Hormuz.

Sebelumnya, Iran telah menyetujui pembukaan kembali Selat Hormuz berdasarkan perjanjian pendahuluan dengan AS. Dalam beberapa hari terakhir, lalu lintas kapal kembali normal, namun hal itu tidak bertahan lama karena serangan Israel yang terjadi. Pernyataan dari pihak Iran menunjukkan bahwa mereka tidak akan membiarkan pasokan energi terganggu tanpa adanya kejelasan dari pihak Israel.

Dampak Serangan pada Wilayah Nabatieh dan Sidon

Media pemerintah Libanon melaporkan bahwa Israel melakukan serangan udara di sekitar 20 lokasi di wilayah Nabatieh. Badan pertahanan sipil mengatakan bahwa 16 orang tewas dalam serangan tersebut. Di sisi lain, Kementerian Kesehatan Libanon menyatakan bahwa tujuh korban tambahan tewas dan 13 lainnya terluka dalam serangan di desa dekat kota Sidon. Anggota parlemen Hizbullah, Hassan Fadlallah, mengatakan bahwa kelompoknya memiliki hak penuh untuk menghadapi musuh ketika mereka menyerang.

“Kami kembali ke desa beberapa hari yang lalu, tetapi tas kami siap untuk melarikan diri lagi,” ujar Fadi Zayat, warga Tayr Debba yang melarikan diri dari kota tersebut. “Kami menunggu keputusan serius untuk mengakhiri perang agar dapat kembali ke kehidupan kami.”

Sementara itu, media publik Kan melaporkan bahwa seorang pejabat militer Israel menggambarkan pendekatan negaranya terhadap gencatan senjata sebagai 'berdasarkan prinsip balas dendam'. Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, menegaskan bahwa Hizbullahlah yang melanggar perjanjian. “Israel menghormati gencatan senjata sambil membela diri dari serangan teroris, seperti yang akan dilakukan oleh negara mana pun yang menghargai diri sendiri,” katanya.

Konflik Berkelanjutan dan Pelanggaran Gencatan Senjata

Hizbullah menyeret Libanon ke dalam konflik Timur Tengah yang lebih luas sejak awal Maret, ketika mereka menembakkan roket ke Israel sebagai balasan atas pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan AS-Israel. Meski telah ada kesepakatan damai pada November 2024, Israel terus melakukan pelanggaran gencatan senjata hingga puluhan ribu kali. Dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Presiden Libanon Joseph Aoun menekankan pentingnya keputusan serangan Israel terhadap kestabilan wilayah.

Sebelumnya, gencatan senjata yang seharusnya berlaku di Libanon pada April 2026 juga tidak dipatuhi oleh Israel. Kegagalan pihak Israel untuk mematuhi kesepakatan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa perang akan berlanjut, meski ada upaya mediasi oleh Qatar. Pertemuan lanjutan antara AS dan Iran direncanakan di Swiss pada Jumat, namun ditunda tanpa batas waktu karena serangan Israel yang berulang.

Media pemerintah Libanon mencatat bahwa Israel juga merebut posisi strategis di belakang Kastil Beaufort, yang bersejarah dan dekat dengan kota Nabatieh. Serangan ini mengisyaratkan bahwa konflik masih berlangsung di daerah-daerah yang sebelumnya dianggap aman. Hizbullah menambahkan bahwa para pejuangnya berada di posisi yang siap untuk menanggapi serangan Israel dengan senjata yang mereka miliki.

Kebutuhan untuk menutup Selat Hormuz menggarisbawahi ketegangan antara Iran dan Israel yang memanas kembali. Meski AS berupaya mediasi, tindakan pihak Israel di Lebanon selatan tetap menjadi pemicu utama untuk keputusan Iran. Dengan keputusan ini, Iran memperlihatkan kemampuan mereka untuk memengaruhi perdagangan energi global dan menekan AS dalam kesepakatan damai.

Konteks Politik dan Dampak Global

Keputusan Iran menutup Selat Hormuz memperkuat posisi mereka dalam konflik Timur Tengah. Dengan menghentikan lalu lintas kapal, Iran menunjukkan kekuasaan atas wilayah strategis yang menjadi jalur vital. Hal ini tidak hanya mempengaruhi ekonomi Libanon, tetapi juga berpotensi memicu krisis energi di pasar global.

Dalam upaya mencapai penyelesaian, pihak AS mengundang Iran untuk perundingan di Swiss. Namun, serangan Israel di Lebanon selatan menunda proses ini. Kebutuhan Iran untuk memblokir Selat Hormuz mengisyaratkan bahwa mereka akan menunggu sampai ada kesepakatan yang lebih kuat antara AS dan Israel. Pernyataan dari perwakilan Iran menunjukkan bahwa mereka menganggap pelanggaran