TempatDonasi
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Meeting Results: Libanon Minta Gencatan Senjata Penuh dengan Israel

Published Juni 7, 2026 · Updated Juni 7, 2026 · By Maya Rahman

Libanon Berharap Gencatan Senjata Lengkap dengan Israel

Meeting Results - Kepala Parlemen Libanon, Nabih Berri, mengajukan permintaan untuk gencatan senjata lengkap antara negara itu dan Israel. Ia juga menekankan bahwa penarikan pasukan Hizbullah dari wilayah Selatan Sungai Litani harus berjalan bersamaan dengan penarikan militer Israel dari area yang masih dikuasainya. Berri mengungkapkan keinginan ini dalam pernyataan yang diterbitkan oleh National News Agency (NNA), lembaga berita nasional Libanon, seperti yang dilaporkan Anadolu pada Jumat, 5 Juni 2026.

Syarat Utama untuk Gencatan Senjata

Menurut Berri, kesepakatan gencatan senjata harus mencakup seluruh area darat, laut, dan udara tanpa adanya syarat tambahan. Ia menolak kemungkinan terjadi penghancuran fasilitas sipil atau aset publik selama masa perjanjian. Selain itu, ia mengatakan bahwa henti permusuhan harus bersifat total dan menyeluruh, agar tidak memicu kerusakan tambahan di wilayah-wilayah yang disenggarahi.

“Penarikan Hizbullah dari Selatan Sungai Litani harus dipastikan sejajar dengan penarikan pasukan Israel dari wilayah yang masih dikuasainya,” ujar Berri dalam pernyataan resmi.

Keinginan Berri menyoroti keharusan kedua belah pihak untuk bertindak secara simetris. Ia menolak gagasan bahwa Hizbullah wajib lebih dulu menarik pasukan dari area tertentu, karena menurutnya langkah tersebut hanya bisa dilakukan jika Israel juga menarik pasukannya dari daerah yang dikuasainya. Berri menekankan bahwa setiap kesepakatan harus didasarkan pada prinsip keadilan dan kesetaraan, bukan hanya kepentingan satu pihak.

Perundingan yang Dimediasi Amerika Serikat

Permintaan gencatan senjata penuh muncul di tengah upaya perundingan yang dimediasi Amerika Serikat. Kesepakatan ini bertujuan untuk memperpanjang gencatan senjata yang berlaku dan mencapai kesepakatan lebih luas guna mengakhiri konflik. Seperti yang dilaporkan Yeni Safak, gencatan senjata selama 10 hari pertama berlaku pada 16 April 2026 dan telah diperpanjang dua kali. Perpanjangan terakhir menyebutkan masa berlakunya hingga pertengahan bulan Juni.

Pekan ini, delegasi dari Libanon dan Israel kembali bertemu di Washington untuk meninjau kemajuan pelaksanaan gencatan senjata. Kedua pihak membahas keberlanjutan kesepakatan tersebut, termasuk potensi perpanjangan lebih lanjut. Namun, meski telah terjadi penarikan pasukan di beberapa titik, kondisi di lapangan belum menunjukkan peningkatan signifikan.

Upaya yang Masih Terkendala

Konflik antara Libanon dan Israel yang memanas sejak Maret 2026 terus memperburuk kondisi kemanusiaan di negara itu. Menurut laporan dari otoritas setempat dan organisasi PBB, lebih dari satu juta orang telah terpaksa mengungsi akibat eskalasi pertempuran. Berri mengungkapkan bahwa kebutuhan untuk gencatan senjata penuh menjadi langkah kritis guna menjamin keamanan warga sipil.

Israel masih menguasai sejumlah wilayah di bagian selatan Libanon. Beberapa area telah diduduki sejak puluhan tahun, sementara lainnya baru direbut dalam konflik 2023-2024. Dalam serangan terbaru, pasukan Israel melaporkan operasi yang menembus lebih dari 10 kilometer ke dalam wilayah Libanon, yang merupakan penembusan terdalam militer mereka sejak tahun 2000. Data pemerintah menunjukkan bahwa lebih dari 3.500 warga tewas dan lebih dari 10.000 lainnya terluka akibat serangan Israel sejak 2 Maret.

Peran Amerika Serikat dalam Perundingan

Amerika Serikat memainkan peran penting dalam upaya mediasi perundingan antara dua pihak. Pemerintah AS bertindak sebagai pihak netral untuk mendorong dialog antara Libanon dan Israel. Meski demikian, para delegasi masih menghadapi tantangan dalam memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan. Berri menyebut bahwa gencatan senjata penuh tidak hanya memerlukan penarikan pasukan, tetapi juga kepastian bahwa infrastruktur serta properti tetap aman.

Dalam pernyataan resmi, Berri meminta kepada pihak Israel untuk menegakkan prinsip-prinsip kesepakatan yang berlaku, termasuk menghentikan serangan udara yang terus terjadi di sejumlah wilayah. Ia juga menyoroti bahwa serangan tersebut menciptakan ketidakstabilan, meski gencatan senjata sudah dijalankan. Hizbullah, di sisi lain, menuduh Israel melanggar aturan yang disepakati, dengan mengutip beberapa insiden serangan terhadap fasilitas sipil.

Kondisi Lapangan yang Belum Stabil

Situasi di lapangan masih jauh dari ideal. Meskipun gencatan senjata telah diperpanjang, serangan udara terus berlangsung, dengan peringatan evakuasi yang dikeluarkan di berbagai wilayah. Berri menegaskan bahwa setiap tindakan militer harus diawasi ketat, agar tidak memicu kerusakan tambahan. Ia menyoroti perlunya peningkatan koordinasi antara kedua belah pihak untuk memastikan kesepakatan berjalan efektif.

Konflik ini telah mengakibatkan kerusakan besar di sektor pertanian, infrastruktur, dan perumahan. Menurut laporan dari sejumlah organisasi internasional, lebih dari satu juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka, sementara jutaan lainnya mengalami gangguan kehidupan normal. Berri mengingatkan bahwa gencatan senjata penuh menjadi solusi terbaik untuk mengurangi tekanan terhadap warga sipil dan mengembalikan kestabilan ke wilayah yang terlibat.

Di sisi lain, peran Hizbullah dalam konflik terus menjadi fokus perdebatan. Berri mempertahankan posisi bahwa organisasi tersebut harus dilibatkan secara aktif dalam proses penarikan pasukan. Ia menambahkan bahwa gencatan senjata hanya bisa dianggap berhasil jika kedua belah pihak menarik pasukan mereka secara bersamaan. Ini bertujuan untuk mencegah keadaan yang kembali memanas setelah kesepakatan berakhir.

Syarat Penuh dan Komprehensif

Berri memperjelas bahwa gencatan senjata penuh harus mencakup seluruh wilayah yang diperlakukan sebagai zona konflik. Ia menegaskan bahwa setiap langkah harus terukur dan berimbang, dengan mengutamakan perlindungan warga sipil. Berri juga menyarankan adanya pemantauan bersama untuk memastikan kepatuhan terhadap kesepakatan. Menurutnya, ini adalah langkah penting untuk membangun kepercayaan antar pihak.

Permintaan Berri ini memperkuat upaya Libanon untuk memperoleh keadilan dalam konflik yang telah berlangsung bertahun-tahun. Ia menekankan bahwa gencatan senjata penuh bukan hanya tentang henti permusuhan, tetapi juga tentang pembagian wilayah secara adil. Berri berharap bahwa kesepakatan ini dapat menjadi fondasi untuk perdamaian jangka panjang, yang mencakup kembalinya wilayah yang dikuasai Israel.

Sementara itu, rakyat Libanon terus menantikan penyelesaian yang lebih cepat. Mereka mengkhawatirkan bahwa penghentian senjata hanya bersifat sementara, dengan kemungkinan konflik kembali memanas. Berri menyatakan bahwa keberhasilan mediasi perlu dilihat dari dampak positif yang dirasakan oleh masyarakat, bukan hanya dari jumlah korban yang berkurang.