TempatDonasi
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Meeting Results: Xi Jinping Bertemu Kim Jong Un, Bahas Senjata Nuklir?

Published Juni 10, 2026 · Updated Juni 10, 2026 · By Sari Setiawan

Pertemuan Pemimpin Cina dan Korea Utara: Fokus pada Perkuatan Hubungan

Meeting Results - Pada Selasa, 9 Juni 2026, Presiden Cina Xi Jinping dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menegaskan komitmen mereka untuk menjaga hubungan bilateral yang berkelanjutan, seperti yang dilaporkan oleh media pemerintah Cina. Dalam pertemuan tersebut, keduanya memperkuat komitmen persahabatan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kyodo dan Antara melaporkan bahwa Xi dan Kim menekankan pentingnya kerja sama dalam berbagai bidang, termasuk ekonomi dan politik.

Pertukaran Militer: Langkah Baru dalam Diplomasi

Kunjungan Xi ke Korea Utara, yang merupakan pertemuan pertama sejak 2019, melibatkan beberapa aktivitas strategis. Salah satu momen penting adalah ketika Xi memberikan penghormatan di Menara Persahabatan Cina-Korea Utara, sebuah simbol untuk mengenang pasukan Cina yang turut serta dalam Perang Korea 1950–1953. Menara ini dibangun sebagai pengingat akan peran Cina dalam membantu Korea Utara saat krisis militer.

Dalam kegiatan tersebut, Kim Jong Un turut serta dan menunjukkan keseriusan dalam mempererat hubungan kedua negara. Keduanya juga mengunjungi Sekolah Pelatihan Kader Partai Buruh Korea Selatan, serta melakukan kegiatan bersama seperti menanam pohon cemara. Menurut Kantor Berita Xinhua, kunjungan ini mencerminkan upaya untuk meningkatkan pertukaran dalam bidang militer, selain sektor lain seperti diplomasi dan hukum.

Denuklirisasi: Penyepakatan yang Tidak Terungkap

Secara terbuka, Kementerian Luar Negeri Cina tidak menyebutkan program nuklir Korea Utara dalam pernyataan mereka terkait pertemuan Xi dan Kim. Namun, beberapa analis memperkirakan bahwa isu senjata nuklir tetap menjadi topik yang dibahas meski tidak diungkapkan secara eksplisit. Misalnya, Profesor Park Jong Chol dari Universitas Nasional Gyeongsang di Korea Selatan menyatakan bahwa sikap Cina terhadap denuklirisasi Korea Utara belum berubah, dan keduanya kemungkinan telah menyetujui kesepakatan baru.

"Xi Jinping dan Kim Jong Un mungkin telah menyetujui bahwa Cina tidak akan menentang senjata nuklir yang sudah diproduksi oleh Korea Utara, sementara Pyongyang berkomitmen untuk menghentikan produksi lebih lanjut," ujar Park Jong Chol dalam wawancara terkini.

Komentar tersebut memperjelas bahwa meski Cina tetap menekankan tujuan denuklirisasi, mereka mungkin bersedia menerima status quo senjata nuklir Korea Utara sebagai bagian dari kesepakatan strategis. Hal ini berbeda dengan sikap Beijing yang sebelumnya lebih kritis terhadap program nuklir Pyongyang.

Komunikasi Strategis: Peringatan 65 Tahun Perjanjian Bantuan

Kantor Berita Resmi Korea Utara, KCNA, melaporkan bahwa pertemuan Xi dan Kim dilakukan dalam rangka memperingati 65 tahun perjanjian bantuan timbal balik yang ditandatangani pada 1961. Dokumen tersebut menyebutkan bahwa kedua negara akan memberikan dukungan militer dan bantuan lainnya secara cepat jika salah satu negara menghadapi serangan bersenjata.

Pertemuan tersebut menandai peningkatan komunikasi strategis antara Beijing dan Pyongyang. Dalam pernyataan yang dirilis Senin, sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Cina menegaskan siap meningkatkan pertukaran dengan Pyongyang di berbagai sektor, termasuk kebijakan luar negeri. Meski tidak disebut secara langsung, isu nuklir dipercaya tetap menjadi bahan pembahasan yang mendasar.

Dukungan Militer: Dalam Perang Korea dan Pertukaran Baru

Kedua pemimpin juga menghadiri acara jamuan penyambutan dan menyaksikan pertunjukan seni bersama. Selama kunjungan, Xi didampingi oleh pejabat senior, termasuk Menteri Pertahanan Cina Dong Jun, yang tercatat sebagai bagian dari rombongan pengiring. Ini menunjukkan intensitas hubungan militer yang diperkuat dalam beberapa bulan terakhir.

Menurut pejabat Kementerian Unifikasi Korea Selatan, pertukaran militer antara Cina dan Korea Utara diungkapkan secara resmi untuk pertama kalinya sejak Kim Jong Un memerintah setelah wafatnya ayahnya pada Desember 2011. Langkah ini dianggap sebagai peningkatan signifikan dalam komunikasi antar negara, terutama setelah hubungan sempat merenggang akibat kerja sama militer Korea Utara dengan Rusia, termasuk pengiriman pasukan untuk mendukung Moskow dalam perang di Ukraina.

Kesepakatan yang Tidak Terlihat: Posisi Cina dan Pernyataan Amerika

Sebelumnya, Beijing telah mengurangi kritik terhadap program nuklir Pyongyang. Dalam pertemuan di Beijing pada Mei 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Xi Jinping menegaskan kembali tujuan bersama untuk mewujudkan denuklirisasi Korea Utara. Namun, kebijakan Cina dalam hal ini tetap mengutamakan stabilitas regional.

Park Jong Chol menekankan bahwa pertukaran militer yang disebutkan Xi merupakan hal yang mengejutkan. Ini menunjukkan pergeseran dalam pendekatan Beijing, yang sebelumnya lebih fokus pada hubungan ekonomi. Kesepakatan antara keduanya, menurut pakar, mungkin mencakup penyesuaian terhadap posisi Korea Utara dalam konteks diplomasi global.

Perkembangan Terkini: Optimisme dan Tantangan

Beberapa analis menyatakan bahwa pertemuan ini memperlihatkan keinginan untuk mengurangi ketegangan antara Cina dan Korea Utara. Dengan kondisi geopolitik yang dinamis, Beijing berusaha membangun kepercayaan dengan Pyongyang. Namun, Park mengingatkan bahwa perkembangan ini masih perlu dipantau, karena isu nuklir tetap menjadi sumber perdebatan internasional.

Kerja sama militer antara Korea Utara dan Rusia, terutama dalam konteks perang di Ukraina, awalnya menyebabkan ketegangan dengan Cina. Namun, pertemuan Xi dan Kim dianggap sebagai langkah untuk memperbaiki hubungan tersebut. Meski demikian, dampak dari perjanjian dengan Rusia masih menjadi faktor yang perlu diperhitungkan.

Dengan latar belakang sejarah yang panjang, hubungan Cina dan Korea Utara tetap menjadi fokus utama dalam diplomasi Asia Timur. Pertemuan 9 Juni 2026 dianggap sebagai bentuk pernyataan yang menunjukkan keinginan untuk menjaga keseimbangan antara dukungan politik dan kebijakan nuklir. Apakah kesepakatan ini akan membawa perubahan signifikan atau hanya sebagai sinyal awal, masih menjadi pertanyaan yang perlu diperhatikan oleh para pemangku kepentingan.

Sementara itu, dalam laporan terkini, Kim Jong Un dan Xi Jinping menegaskan komitmen mereka untuk membangun masa depan yang lebih stabil. Kedua pemimpin juga menekankan pentingnya kerja sama dalam menjaga keamanan kawasan, termasuk melalui pembangunan infrastruktur dan pertukaran teknologi. Ini menunjukkan bahwa meski isu nuklir masih menjadi sorotan, kedua negara berusaha menjaga hubungan yang saling menguntungkan.

Perjalanan Xi ke Korea Utara bukan hanya simbolis, tetapi juga memiliki implikasi politik yang luas. Dengan kehadiran Menteri Pertahanan Cina, pembahasan tentang kemungkinan pendalaman kerja sama militer menjadi isu yang menarik. Kementerian Luar Negeri Cina, dalam konferensi pers Selasa, menegaskan siap menaikkan pertukaran dengan Pyongyang, termasuk di bidang pertahanan.

Dalam konteks global, kebijakan Cina terhadap Korea Utara selama ini dianggap sebagai strategi untuk memperkuat pengaruh di Asia Timur. Meski Amerika Serikat masih berupaya mendorong denuklirisasi, Beijing tampaknya berpegang pada pendekatan yang lebih fleksibel. Hal ini mungkin akan memengaruhi dinamika hubungan internasional di kawasan tersebut.