New Policy: Pesan Menteri Brian ke periset: Jangan viral dulu, sebelum riset laku

Pesan Menteri Brian untuk Para Peneliti: Fokus pada Hasil, Bukan Popularitas

New Policy – Di Jakarta, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto memberikan pesan penting kepada para peneliti dan inovator nasional. Ia mengingatkan agar mereka tidak tergoda untuk menjadi populer di media sosial sebelum produk riset mereka benar-benar mendapat hasil yang konkrit di pasar. “Bapak, ibu sekalian, jika kita baru membuat prototipe, jangan terburu-buru mengunggah ke media sosial. Produk riset kita masih dalam tahap awal, dan belum tentu berhasil. Jadi, jangan terlalu cepat merasa bangga atau viral,” jelas Brian dalam acara peluncuran Program Bestari Saintek dan Program Semesta Skema Pendanaan APBN 2026, Rabu (tanggal tercantum).

Strategi untuk Hindari Keterburuan dalam Viralitas

Mendiktisaintek Brian menyoroti bahwa banyak peneliti cenderung terburu-buru mengunggah hasil atau prototipe mereka ke platform digital sebelum mendapatkan bukti nyata. Menurutnya, ini bisa mengganggu fokus pada penelitian itu sendiri. “Kadang, produk riset belum siap, tapi sudah viral. Padahal, keberhasilan sebenarnya harus diukur dari dampak ekonomi atau sosial yang berkelanjutan,” tegasnya. Ia menambahkan, ketika suatu inovasi sudah terbukti manfaatnya, maka viralitas akan menjadi alat untuk memperluas pengaruh, bukan tujuan utama.

“Jadi maksudnya, kalau sudah viral nanti kita sibuk, bapak, ibu, menjawab viral-viralnya, akhirnya tidak mengerjakan penelitian. Akhirnya kemana-mana diundang jadi narasumber, tidak menjadi peneliti lagi, jadi akhirnya menjadi celebrity researcher,” ucap Brian.

Brian menekankan bahwa viralitas sering kali menjadi alat promosi yang terlalu cepat. Ia mencontohkan bagaimana para peneliti yang terlalu fokus pada media sosial justru kehilangan kesabaran dalam mengembangkan proyek riset. “Sering kali, peneliti menghabiskan banyak waktu untuk membangun kepopuleran, padahal seharusnya fokus pada langkah-langkah konkret untuk memastikan hasilnya bisa diaplikasikan dan memberikan manfaat nyata,” jelasnya. Menurut Brian, jika inovasi hanya diunggah ke media tanpa pengecekan keberhasilan, maka produk tersebut mungkin akan mengalami kesulitan dalam penyebaran atau penerapan.

Contoh dari Penerima Nobel: Konsistensi Lebih Penting dari Viral

Dalam mengajak para peneliti untuk tetap sabar, Brian menyebutkan bahwa para penerima penghargaan Nobel justru terkenal setelah menghasilkan penelitian yang berdampak besar. “Viralnya terjadi setelah mereka dikenal, bukan sebelumnya. Mereka sibuk dengan penelitian, dan baru menjadi populer setelah bukti-buktinya teruji,” terangnya. Ia menyarankan agar para peneliti Indonesia bisa meniru pola ini, dengan terus bekerja keras dan tekun hingga inovasi mereka benar-benar memenuhi standar keberhasilan.

Menurut Brian, konsistensi dalam penelitian adalah kunci untuk menghasilkan riset yang berdampak. “Jadi saran saya, bapak, ibu sekalian, jangan terburu-buru mengunggah ke media sosial. Fokuslah pada penelitian, dan nanti jalan-jalan itu akan terbuka sendiri,” kata dia. Ia menekankan bahwa kualitas riset harus ditempatkan di atas jumlah like atau tayangan, karena popularitas di media bisa menjadi keuntungan sementara, sementara dampak ilmiah dan ekonomi harus berkelanjutan.

Dukungan untuk Meningkatkan Penerapan Riset

Menteri Brian juga memastikan bahwa Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi telah bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Penelitian (LPDP) untuk memberikan pendanaan yang memadai. “Kita ingin menjamin bahwa riset yang dihasilkan tidak hanya unggul secara teknis, tapi juga bisa diaplikasikan secara luas di berbagai sektor,” ujarnya. Dengan dukungan ini, ia berharap para peneliti bisa fokus pada hilirisasi, yaitu proses mengubah hasil riset menjadi produk atau layanan yang bisa digunakan oleh masyarakat.

“Sehingga, tujuan kita memberikan dampak yang betul-betul nyata. Kampus sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru, lahirnya industri-industri baru itu bisa kita lihat dalam waktu yang tidak terlalu lama,” tutur Brian Yuliarto.

Menurut Brian, kampus-kampus di Indonesia adalah salah satu sumber daya penting yang bisa menggerakkan inovasi nasional. Ia menyoroti bahwa peneliti yang tekun dan konsisten akan menjadi bahan bakar utama bagi pertumbuhan ekonomi. “Riset yang berhasil diaplikasikan akan menjadi fondasi untuk mengembangkan bisnis baru, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat daya saing bangsa,” tambahnya. Dukungan dari LPDP, katanya, akan memastikan bahwa para peneliti memiliki akses ke dana yang memadai untuk menguji ide-ide mereka secara menyeluruh.

Di sisi lain, Brian juga memberikan peringatan tentang risiko ketika peneliti terlalu cepat mencari popularitas. “Banyak peneliti yang tergoda untuk menjadi viral, tapi justru lupa bahwa penelitian membutuhkan waktu, konsistensi, dan evaluasi berkala. Jika terburu-buru, maka hasil yang diperoleh mungkin tidak akan bertahan lama,” jelasnya. Ia menilai bahwa viralitas bisa memberikan perhatian sementara, tetapi tidak akan mampu memastikan kesuksesan jangka panjang.

Upaya Mendorong Kemandirian dalam Riset Nasional

Menurut Brian, penelitian yang dihasilkan di Indonesia harus mampu memenuhi standar nasional maupun internasional. “Kita ingin membangun ekosistem riset yang mandiri, di mana inovasi tidak hanya dikembangkan untuk kebutuhan lokal, tetapi juga bisa bersaing di pasar global,” ucapnya. Untuk mencapai hal ini, ia menekankan pentingnya pendanaan yang terarah dan program pelatihan yang memadai bagi para peneliti muda.

Brian menilai bahwa para peneliti yang tidak dikenal di media tetapi terus bekerja keras adalah contoh yang luar biasa. “Mereka mungkin tidak memiliki jumlah pengikut yang besar, tapi kontribusinya terhadap bidang ilmu sangat berarti. Ini membuktikan bahwa ketekunan dan kualitas riset akan memperoleh pengakuan di waktu yang tepat,” kata dia. Ia juga menyoroti peran penting dari institusi pendidikan tinggi dalam menghasilkan inovasi yang berdampak, terlepas dari apresiasi publik.

Dalam kesempatan tersebut, Brian juga menyebutkan bahwa program Bestari Saintek dirancang untuk memacu semangat para peneliti melalui pendanaan dan pelatihan yang terintegrasi. “Program ini tidak hanya memfokuskan pada pengembangan ide, tetapi juga membantu mengidentifikasi peluang pasar, serta memastikan hasil riset bisa diaplikasikan secara nyata,” ujarnya. Ia berharap para peneliti akan menikmati proses penelitian dan tidak terburu-buru untuk mengejar popularitas yang tidak berdasar.

Brian menegaskan bahwa sukses dalam riset tidak bisa diukur hanya dari jumlah pengikut di media sosial. “Kita perlu menilai berdasarkan dampak jangka panjang, seperti peningkatan produktivitas, penerapan teknologi, atau kualitas hidup masyarakat. Jadi, jangan lupa untuk mencatatkan pencapaian yang berarti, sebelum membanggakan hasilnya ke publik,” pungkasnya. Pesan ini diharapkan dapat menjadi bimbingan bagi para peneliti nasional agar tetap fokus pada tujuan utama, yaitu memberikan manfaat yang konkret dan berkelanjutan.