Menghadapi Tantangan: Trump Klaim Kemenangan Atas Iran, Ancam Serang Infrastruktur Energi Jika Jalur Damai Gagal
Trump Klaim Kemenangan Atas Iran, Ancam Serang Infrastruktur Energi Jika Jalur Damai Gagal
PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menyatakan bahwa kemenangan dalam konflik bersenjata dengan Iran telah diraih. Meskipun menegaskan bahwa perang telah usai, Trump menunjukkan kemungkinan untuk melanjutkan serangan terhadap infrastruktur energi Iran jika negosiasi damai yang sedang berlangsung tidak menghasilkan kesepakatan.
Dalam wawancara di Oval Office, Trump memastikan dominasi militer AS atas Iran yang menurutnya sudah tidak mampu bergerak bebas. Ia juga mengkritik liputan media yang dianggapnya memperparah ketegangan. “Anda tahu, saya tidak suka mengatakan ini, tetapi kita telah memenangkan perang ini karena mereka tidak punya apa-apa lagi,” tegas Trump saat mengomentari laporan terkini.
“Satu-satunya yang suka membiarkan konflik ini terus berlanjut adalah berita bohong (fake news),” ujar Trump. Ia menyoroti ketimpangan kekuatan militer antara kedua pihak sebagai bukti kemenangannya. Menurut Trump, Iran telah lumpuh di bawah tekanan armada tempur AS.
“Kita tidak sedang memenangkan perang di mana mereka tidak punya angkatan laut atau udara, sementara kita bisa menguasai wilayah mereka dengan pesawat yang terbang di atas Teheran,” tambahnya. Retorika Trump juga menyoroti kemampuan AS untuk menyerang objek vital kapan saja. “Jika saya ingin meruntuhkan pembangkit listrik besar, mereka tidak bisa menghalanginya,” ujar Trump.
Kebijakan Trump terhadap akhir perang ini terus berubah dalam beberapa minggu terakhir. Sebelumnya, ia sempat mengancam akan “melenyapkan” pembangkit energi Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka hingga Senin malam. Namun, pada Senin pagi, Trump membatalkan ancaman tersebut. Ia menyebut bahwa AS dan Iran telah melakukan “percakapan produktif” serta memutuskan menunda serangan selama lima hari guna memberi ruang bagi negosiasi.
Pandangan Internal Pemerintahan Trump
Menariknya, Trump mengungkapkan adanya perbedaan pendapat di internal kabinetnya mengenai opsi gencatan senjata. Ia menyatakan bahwa Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Jenderal Dan Caine lebih memilih menyelesaikan masalah melalui jalur militer. “Pete tidak ingin masalah ini diselesaikan melalui kesepakatan,” ungkap Trump.
Trump menambahkan bahwa Hegseth dan Caine tergolong “dua orang yang cukup kecewa” dengan peluang negosiasi. Meskipun demikian, ia memuji sikap tegas kedua petinggi militer tersebut. “Mereka tidak tertarik pada penyelesaian, melainkan ingin memenangkan konflik ini sepenuhnya,” pungkas Trump.
