TempatDonasi
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Latest Program: 30 Ribu Calon Manajer Kopdes Mulai Jalani Pelatihan Militer

Published Juni 17, 2026 · Updated Juni 17, 2026 · By Andi Permata

30 Ribu Calon Manajer Kopdes Mulai Jalani Pelatihan Militer

Latest Program - Kementerian Pertahanan secara resmi meluncurkan Pendidikan dan Pelatihan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) untuk menghasilkan manajer koperasi desa serta pengelola kampung nelayan pada Rabu, 17 Juni 2026. Program ini menargetkan penguatan kompetensi peserta melalui kombinasi pelatihan kemiliteran dan manajerial, yang akan berlangsung selama 45 hari hingga 31 Juli 2026.

Jumlah Peserta dan Perbedaan Program

Dalam keterangan tertulis yang diterima pada Rabu, 17 Juni 2026, Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait, Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, menyebutkan total peserta pelatihan mencapai 35.476 orang. Jumlah tersebut terbagi dalam dua kategori, yaitu 30.000 calon manajer untuk Koperasi Desa Merah Putih dan 5.476 calon pengelola Kampung Nelayan Merah Putih.

Rico menjelaskan, pelatihan ini dirancang untuk memberikan bekal dasar kemiliteran kepada peserta, yang kemudian disertai pengembangan kompetensi manajerial sesuai kebutuhan pengelolaan koperasi dan kampung nelayan. “Peserta akan mendapatkan pelatihan yang terpadu antara disiplin militer dan kemampuan kepemimpinan,” katanya dalam penjelasan yang disampaikan.

Persiapan dan Tujuan Pelatihan

Upacara pembukaan program dilaksanakan di Landasan Udara Perdana Halim Kusuma, Jakarta, pada Selasa, 16 Juni 2026. Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertahanan, Mayor Jenderal Ketut Gede Wetan Pastia, menegaskan bahwa pelatihan militer ini merupakan langkah strategis pemerintah dalam menciptakan sumber daya manusia yang memiliki karakter kuat, integritas tinggi, serta kemampuan kepemimpinan yang mumpuni.

“Sistem pelatihan ini bertujuan untuk menguatkan kekuatan ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat fondasi ketahanan nasional,” ujar Ketut Gede dalam keterangan tertulis Kementerian Pertahanan pada Rabu, 18 Juli 2026. Ia menambahkan bahwa pelatihan akan dijalankan di 67 satuan pendidikan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, memastikan akses yang merata kepada peserta.

Menurut Rico, dalam 30 hari pertama pelatihan, peserta akan fokus pada pembelajaran tentang disiplin, kemampuan bela negara, serta etika kerja. Fase kedua, selama 15 hari, akan mengarahkan peserta ke bidang manajerial, seperti perencanaan proyek, pengelolaan keuangan, dan penguasaan teknik administrasi. “Kombinasi ini diharapkan melahirkan manajer yang mampu menggerakkan ekonomi lokal sekaligus menjaga stabilitas sosial,” jelas Rico.

Program SPPI ini tidak hanya berfokus pada pelatihan teknis, tetapi juga mencakup pembentukan mental dan fisik peserta. Rico menyebutkan, selama masa pelatihan, para peserta akan diberikan kesempatan untuk mengikuti latihan lapangan, simulasi operasional, serta diskusi kelompok yang bertujuan memperkaya pengalaman mereka. “Kami ingin mereka menjadi pilar kekuatan ekonomi desa dan lingkungan nelayan,” kata Rico.

Konteks dan Manfaat Pelatihan

Kopdes Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih dianggap sebagai bagian penting dari upaya pemerintah membangun ekonomi desa secara mandiri. Dengan adanya pelatihan militer, diharapkan para peserta mampu menggabungkan semangat nasionalisme dengan keterampilan manajerial, sehingga mampu memimpin proyek pengembangan wilayahnya secara lebih efektif.

Rico juga menyebutkan, pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan daya tahan masyarakat terhadap tantangan ekonomi dan politik. “Dengan adanya bekal kemiliteran, peserta akan lebih mampu menghadapi situasi sulit dan memimpin perubahan positif,” ujarnya. Selain itu, program ini diperkirakan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih terstruktur dan kolaboratif, karena peserta akan terlatih untuk bekerja dalam tim serta mengambil keputusan secara cepat.

Ketut Gede menambahkan bahwa pelatihan ini juga bertujuan untuk mencetak individu yang adaptif dan inovatif. “Peserta diharapkan mampu mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dalam berbagai konteks, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbagai proyek pembangunan,” katanya. Ia berharap program ini bisa menjadi model keberhasilan dalam pengembangan sumber daya manusia yang berwawasan nasional.

Menurut data yang dihimpun, selain pelatihan dasar kemiliteran dan manajerial, program ini juga melibatkan pihak-pihak terkait seperti Kementerian Pendidikan, Kementerian Pertanian, dan Badan Usaha Milik Desa (BUD). Kolaborasi ini diharapkan bisa memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang kebutuhan pengelolaan koperasi dan kampung nelayan, termasuk pemahaman tentang teknologi, kebijakan pemerintah, dan kebutuhan masyarakat setempat.

Program SPPI dianggap sebagai bentuk pendekatan holistik dalam membangun kekuatan ekonomi desa. Dengan menggabungkan aspek militer dan manajerial, diharapkan para peserta tidak hanya menjadi pengelola yang efisien, tetapi juga mampu menginspirasi masyarakat sekitarnya untuk terlibat dalam proses pembangunan. Rico menekankan bahwa pelatihan ini akan berdampak jangka panjang, karena peserta akan diberikan bekal yang dapat diterapkan dalam berbagai situasi.

Para peserta yang lolos seleksi akan diberikan sertifikat dan diharapkan dapat memulai tugas mereka sebagai manajer kopdes atau kampung nelayan dalam waktu dekat. Ketut Gede menyebutkan bahwa pelatihan ini juga menjadi sarana untuk mengukur kemampuan peserta secara menyeluruh, baik dari segi fisik, mental, maupun teknis. “Kami ingin mereka menjadi contoh bagi generasi muda Indonesia yang tangguh dan siap berkontribusi,” pungkasnya.

Perspektif Keterlibatan Masyarakat

Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, Ketut Gede menyoroti peran penting para manajer kopdes dan kampung nelayan dalam meningkatkan kesejahteraan warga. “Mereka akan menjadi penghubung antara pemerint