Kebijakan Baru: Bali Mulai ‘Berdarah’ Efek Perang Iran, Jumlah Penerbang Turun Drastis

Bali Terkena Dampak Perang Iran, Jumlah Penumpang Penerbangan Turun Drastis

Jakarta, CNBC Indonesia – Perang antara Iran dan negara-negara lain di wilayah Timur Tengah telah mengganggu operasional industri penerbangan global. Maskapai udara kini terpaksa menghindari jalur udara di sekitar Iran serta area sensitif lainnya, menyebabkan perjalanan penerbangan memakan waktu lebih lama dan memerlukan bahan bakar yang lebih banyak. Dampak ini juga mengakibatkan kenaikan biaya operasional, serta perubahan jadwal penerbangan. Indonesia dan Thailand dianggap sebagai destinasi yang paling terkena.

Penumpang Mengalami Efek Langsung

Dampak ini mulai dirasakan oleh calon penumpang. Menurut laporan Reuters, maskapai di Asia dan Eropa telah meningkatkan harga tiket, menambah biaya bahan bakar, dan menyesuaikan jadwal penerbangan. Lonjakan harga bahan bakar dan perubahan rute menjadi faktor utama, sehingga risiko penurunan permintaan perjalanan jarak jauh, terutama yang bersifat opsional, diperkirakan meningkat dalam beberapa bulan mendatang. Terutama pelancong yang peka terhadap harga.

Baca: Efek Perang Iran Vs AS-Israel Lebih Parah dari Krisis Minyak 1970-an

Baca: 3 WNA Ditangkap usai Bikin Konten Porno di Bali, Terancam Bui 10 Tahun

Thailand dan Bali dianggap Paling Rentan

Para ahli di sektor penerbangan menilai bahwa Thailand dan Indonesia, khususnya Bali, menjadi destinasi di Asia Tenggara yang paling rentan jika gangguan ini berlanjut. Bali bergantung kuat pada wisatawan dari Eropa dan pasar internasional lainnya, sedangkan Thailand menghadapi tantangan serupa akibat peningkatan durasi perjalanan, pengurangan kapasitas kursi, dan kenaikan harga tiket. Hal ini berpotensi mengurangi daya tarik destinasi pada masa puncak liburan.

Malaysia Mengantisipasi Peluang Baru

Di tengah ketidakstabilan, Malaysia melihat kesempatan strategis. Norazman Mahmud, kepala penerbangan sipil Malaysia, menyatakan bahwa bandara di Thailand, Singapura, Hong Kong, dan Malaysia bisa menjadi alternatif transit yang lebih aman dan menguntungkan bagi penumpang menuju Eropa. Maskapai seperti Malaysia Airlines telah menambah frekuensi penerbangan ke kawasan Eropa, termasuk ke London dan Paris, untuk memenuhi kebutuhan selama periode gangguan.

Malaysia dinilai lebih tahan terhadap dampak langsung, karena wisatawan Eropa hanya menyumbang kurang dari 15% dari total kunjungan. Meski demikian, mereka memiliki durasi tinggal yang lebih lama serta pengeluaran lebih besar untuk akomodasi, tur, dan belanja. CNA mencatat bahwa setidaknya 200 penerbangan dari Bandara Kuala Lumpur menuju Timur Tengah telah dibatalkan sejak konflik pecah. Namun, permintaan dari Asia Timur, India, dan kawasan Asia Tenggara diharapkan mampu menggantikan penurunan dari pasar Eropa.

Program Visit Malaysia 2026 serta tren peningkatan pariwisata yang terus berlangsung dianggap mampu memperkuat daya tarik negara tersebut. Sementara itu, kebijakan seperti perpanjangan larangan terbang ke Dubai hingga 30 April oleh Singapore Airline juga menjadi langkah untuk mengoptimalkan jadwal penerbangan selama masa gangguan.

[Gambas:Video CNBC] Next Article: Siap-Siap! Arus Mudik Libur Nataru ke Wilayah RI Ini Bakal Membeludak