Menghadapi Tantangan: Di Sidang Korupsi Pertamina, Ahok: Periksa Presiden Bila Perlu
Di Sidang Korupsi Pertamina, Ahok: Periksa Presiden Bila Perlu
Dalam sidang kasus korupsi PT Pertamina (Persero), Basuki Tjahaja Purnama, yang dikenal sebagai Ahok, mengungkapkan kesaksian penuh emosi. Mantan Komisaris Utama perusahaan minyak tersebut secara langsung mengecam sistem penggantian direksi yang menurutnya dipengaruhi oleh kepentingan pribadi, bukan berdasarkan kemampuan profesional. Ia menyebutkan bahwa para pejabat terbaik justru dikeluarkan dari jabatan, sementara kesalahan operasional tidak dicegah.
Ahok secara tegas menyoroti dua mantan direktur Pertamina, Joko Priyono dan Mas’ud Khamid. Joko, mantan Direktur Utama Kilang Pertamina Internasional, serta Mas’ud, mantan Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, disebutnya sebagai tokoh paling handal dalam sejarah perusahaan. “Bagi saya, dua orang ini adalah direktur terhebat yang pernah Pertamina miliki,” tegasnya. Menurut Ahok, Mas’ud seharusnya diberhentikan daripada menandatangani kontrak yang menciptakan kerugian. “Joko adalah orang yang paling mengerti teknis kilang,” tambahnya.
“Kenapa saya mau lapor ke jaksa? Periksa sekalian BUMN, periksa Presiden bila perlu. Kenapa orang-orang terbaik justru dicopot?”
Kekecewaan Ahok semakin memuncak saat mempertanyakan alasan pencopotan dua direksi yang dinilainya berprestasi. Ia menantang penuntut untuk menyelidiki semua pihak terlibat, tanpa memihak. Pernyataannya disambut dengan tepuk tangan dari para peserta sidang, namun hakim segera memperingatkan untuk menjaga ketertiban. “Ini persidangan, bukan hiburan. Tolong jangan bertepuk tangan,” ujarnya.
Dalam surat dakwaan, Kejaksaan Agung menyebutkan bahwa dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan BBM Pertamina menyebabkan kerugian negara mencapai Rp285 triliun. Angka ini mencakup kerugian keuangan sebesar Rp285,9 triliun, termasuk USD2.732.816.820,63 yang setara dengan sekitar Rp45,1 triliun. Nilai kerugian ini bisa berubah tergantung kurs yang digunakan dalam perhitungan akhir.
Ahok menyampaikan rasa terpukul ketika mengetahui Joko Priyono, setelah dipecat, kembali ke Yogyakarta dan bekerja sebagai tukang las. “Itu yang bikin saya marah,” ujarnya. Ia menilai bahwa dua mantan direktur tersebut menjadi korban dari sistem yang tidak memberi ruang bagi profesional berintegritas.
