What Happened During: Gus Lilur: Muktamar ke-35 jadi pijakan NU tetap jadi penjaga moral RI
What Happened During: Gus Lilur Muktamar 35 jadi Pijakan NU Penjaga Moral RI
Peran NU dalam Pembentukan Kemerdekaan Indonesia
What Happened During – Jakarta — Sebagai tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), Khalilur Abdullah Sahlawiy atau lebih dikenal dengan Gus Lilur, menyoroti bahwa Muktamar ke-35 adalah titik balik penting bagi NU untuk tetap menjadi penjaga moral dan spiritual bangsa. Menurut Gus Lilur, acara ini bukan sekadar ajang pemilihan ketua umum dan rais aam, tetapi juga menjadi sarana untuk mengingat peran NU sebagai pilar keutuhan bangsa. “NU adalah jembatan antara rakyat dan negara, yang tetap berakar pada nilai-nilai agama dan kebijaksanaan spiritual,” ujarnya dalam pernyataan di Jakarta, Rabu. Ia menekankan bahwa bangsa Indonesia berdiri karena kontribusi para ulama NU yang mengorbankan kehidupan mereka, baik secara fisik maupun mental. “Darah dan doa para kiai adalah semangat perjuangan yang menjadi dasar keberlanjutan republik,” tambah Gus Lilur.
Preservasi Nilai Etika melalui Muktamar ke-35
What Happened During mencerminkan keinginan Gus Lilur untuk menegaskan bahwa Muktamar ke-35 harus menjadi pelajaran sejarah bagi seluruh anggota NU. “Muktamar ini seharusnya menjadi wahana diskusi mengenai keberlanjutan organisasi, bukan hanya ajang kepentingan politik,” jelasnya. Ia menyoroti bahwa peran ulama NU di masa kritis, seperti saat awal kemerdekaan, sangat vital dalam menjaga keutuhan bangsa. “Dulu, para kiai adalah garda depan dalam menghadapi tantangan politik, militer, dan administratif,” ujar Gus Lilur. Hal ini menunjukkan bahwa Muktamar ke-35 harus menjadi momen untuk mengingatkan NU pada tugas utamanya sebagai penjaga etika dan moral.
Kemampuan NU dalam Menghadapi Tantangan Zaman
Dalam pernyataannya, Gus Lilur mengingatkan bahwa Muktamar ke-35 harus dijadikan sebagai pilar untuk mempertahankan keutuhan organisasi. “NU tidak boleh jadi alat negara, tetapi tetap menjadi mitra yang berpijak pada kepentingan rakyat dan moral bangsa,” tegasnya. Ia menegaskan bahwa kekuatan NU terletak pada kesadaran kolektif masyarakat yang dibangun oleh pesantren-pesantren NU. “Kiai-kiai di pesantren adalah sumber inspirasi bagi generasi muda,” imbuh Gus Lilur. Menurutnya, semangat agama dan kesetaraan yang diperjuangkan ulama NU masih relevan hingga hari ini, baik dalam politik maupun kehidupan sosial.
Visi Gus Yahya untuk Muktamar 2026
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah mengumumkan Muktamar ke-35 akan digelar 1–5 Agustus 2026. Dalam pernyataan resmi, Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, yang akrab disapa Gus Yahya, menekankan bahwa acara ini bukan ajang percepatan politik menuju Pemilu 2029. “Muktamar ini diharapkan menjadi momentum untuk mengingatkan NU pada visi awalnya sebagai penjaga etika dan moral,” ujarnya. Gus Yahya menjelaskan bahwa pesan ini telah diulang selama hampir lima tahun dalam kepemimpinannya, dengan tujuan mempertahankan fungsinya sebagai forum untuk memperkuat nilai-nilai bangsa.
Tantangan Muktamar ke-35 dalam Mempertahankan Identitas NU
What Happened During juga menyoroti bahwa Muktamar ke-35 harus menjadi upaya untuk memperkuat keberlanjutan NU. “Kita perlu memastikan bahwa acara ini tidak hanya membahas jabatan, tetapi juga arah organisasi di masa depan,” jelas Gus Lilur. Ia menambahkan bahwa peran ulama dalam membentuk kesadaran kolektif masyarakat tetap menjadi fondasi penting. “Dengan Muktamar ke-35, NU bisa memperlihatkan komitmen untuk tetap menjadi mitra strategis dalam perjuangan moral,” kata Gus Lilur. Gus Yahya menegaskan bahwa PBNU berharap muktamar ini tidak hanya menjadi simbol konsistensi, tetapi juga menyajikan wawasan baru mengenai peran NU di tengah dinamika politik dan sosial.
Refleksi Sejarah untuk Memperkuat Semangat Perjuangan
Gus Lilur berharap Muktamar ke-35 menjadi titik balik bagi NU untuk kembali menegaskan peran moralnya. “Kita harus mengingat sejarah agar tidak melupakan visi awal NU,” ujarnya. Ia menyoroti bahwa keberhasilan Indonesia dalam membangun republik tidak hanya tergantung pada perjuangan politik, tetapi juga pada kontribusi ulama yang membawa semangat spiritual dan keadilan. “Muktamar ini seharusnya menjadi cerminan kembali dari perjuangan awal, seperti hubungan Bung Karno dengan pendiri NU, Kiai Haji Hasyim Asy’ari,” tambah Gus Lilur. Dengan semangat tersebut, ia berharap NU tetap menjadi penjaga moral yang berakar pada akhlak dan nilai-nilai kebangsaan.
