Agenda Kunjungan: Bayang-bayang Perang Dunia III, Sudahkah Indonesia Bersiap?

JAKARTA, KOMPAS.com

Pada Rabu (21/1/2026) kemarin, Presiden Amerika Serikat kembali memicu sorak-sorai internasional dengan mengunggah foto buatan AI yang menunjukkan perluasan peta wilayah negara. Foto tersebut diposting melalui akun @realDonaldTrump di platform social media truthsocial.com. Dalam peta, wilayah Kanada dan Venezuela tampak mengadopsi corak warna bendera Amerika Serikat.

Bukan hanya gambar, Trump juga mengunggah foto dirinya sedang membawa bendera Amerika Serikat untuk ditancapkan di tanah Greenland. Di samping foto itu, terdapat papan bertuliskan “Greenland US Territory Est. 2026”. Unggahan ini tidak hanya dianggap sebagai lelucon, tetapi juga dijadikan kesempatan untuk menyatakan keinginan mengakuisisi Greenland secara resmi melalui forum internasional.

“Faktanya adalah tidak ada negara atau kelompok negara berada dalam posisi apa pun untuk dapat mengamankan Greenland, selain Amerika,” ujar Trump.

Benarkah Indonesia Aman jika Perang Dunia III Pecah?

Dalam acara World Economic Forum di Davos, Swiss, Trump menyebut langkah pengambilalihan Greenland sebagai bentuk penyelamatan. Forum ekonomi tersebut berubah menjadi panggung debat mengenai ambisi Trump yang dianggap mengancam kedaulatan Denmark di wilayah tersebut.

Reaksi dari Negara-Negara Eropa

Negara-negara Eropa tak tinggal diam menghadapi tindakan Trump. Dikutip dari dw.com, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan bahwa cara Trump menekan Uni Eropa dengan tarif resiprokal adalah kesalahan. “Uni Eropa dan Amerika Serikat sudah sepakat. Dalam politik seperti dalam bisnis, kesepakatan tetaplah kesepakatan,” tegasnya.

“Faktanya adalah tidak ada negara atau kelompok negara berada dalam posisi apa pun untuk dapat mengamankan Greenland, selain Amerika,” ujar Trump.

Suara Paling Tegas dari Macron

Penolakan terhadap ancaman AS terhadap kedaulatan wilayah negara Eropa datang dari Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Ia secara tegas menyatakan bahwa ancaman AS tidak bisa diterima, terutama jika berujung pada penggagalan kedaulatan negara-negara Eropa.

“Kami lebih memilih rasa hormat daripada para perundungan. Kami lebih memilih sains daripada teori konspirasi. Kami lebih memilih supremasi hukum daripada kebrutalan,” katanya.