TempatDonasi
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Meeting Results: Iqbaal Ramadhan Berburu Kamera Analog hingga Thailand

Published Juni 7, 2026 · Updated Juni 7, 2026 · By Sinta Kurniawan

Iqbaal Ramadhan Berburu Kamera Analog hingga Thailand

Meeting Results - Dalam dunia yang semakin bergantung pada teknologi digital, Iqbaal Ramadhan tetap mempertahankan kecintaannya pada fotografi analog. Di balik keramaikan cahaya panggung, aktor dan musisi ini memiliki pendekatan unik dalam mencatat dunia sekitarnya melalui gulungan film seluloid. Baginya, fotografi bukan hanya sekadar menekan tombol rana, melainkan alat untuk merekam realitas secara pribadi dan mendalam.

Kecintaan pada Analog: Dari Kamera ke Video

Seiring berjalannya waktu, hobi yang ia geluti ini mulai berkembang ke arah videografi analog. "Saya suka fotografi dan segala sesuatu yang berbau analog, terutama," ujar Iqbaal saat mengunjungi kantor Tempo di Jakarta, Kamis 7 Mei 2026. Ia menjelaskan bahwa eksplorasi terhadap teknik analog bukan hanya terbatas pada bidang foto, tetapi juga melibatkan dunia video dengan proses yang serupa. Ini menunjukkan bagaimana kreativitasnya terus berkembang, menggabungkan dua bentuk ekspresi seni yang berbeda.

"Saya coba mengeksplorasi lebih jauh, termasuk ke video. Prosesnya pun mirip, tapi lebih membutuhkan perencanaan dan kehati-hatian karena setiap momen punya nilai lebih," kata Iqbaal.

Kecintaannya terhadap alat-alat analog sempat mengalami fase naik turun. Seperti banyak pemula, ia pernah terjebak dalam keinginan impulsif mengoleksi berbagai jenis kamera. Namun, setelah menyadari bahwa menumpuk peralatan tanpa memanfaatkannya secara optimal adalah sia-sia, ia memutuskan untuk menyederhanakan koleksinya. Sebagian besar kamera yang pernah ia beli kini berpindah tangan, hingga hanya tersisa beberapa yang masih sering digunakan. Mereka kini disimpan rapi dalam drybox, tempat yang wajib dibersihkan setiap hari agar tetap dalam kondisi sempurna.

Pengalaman Unik di Bangkok: Kamera Legendaris yang Ditemukan

Satu momen yang tak terlupakan dalam perjalanan kreativitasnya adalah saat berburu kamera dan peralatan pendukungnya hingga Thailand. Selama perjalanan ke sebuah workshop pribadi di Bangkok, Iqbaal mengaku merasa cemas dan khawatir, terutama karena tidak mengerti bahasa setempat. Namun, ketakutan itu berlalu ketika ia menemukan kamera Contax G2, salah satu model legendaris yang sempat populer di kalangan selebritas Hollywood.

"Dia punya dua kardus brand new in box," ujar Iqbaal, yang memerankan Bona dalam film Monster Pabrik Rambut.

Kamera rangefinder asal Jepang ini dikenal memiliki akurasi tinggi dan kualitas lensa Zeiss yang tajam. Bagi Iqbaal, keberadaannya menjadi bukti bahwa teknologi analog tetap relevan dan bisa menghasilkan keunikan yang tidak terdapat pada alat digital. Pengalaman ini tidak hanya memperkaya koleksinya, tetapi juga memperkuat keyakinannya bahwa fotografi analog adalah cara yang lebih personal untuk menyampaikan pesan.

Intimitas dalam Setiap Frame

Bagi Iqbaal, fotografi analog bukan sekadar menghasilkan gambar, melainkan cara menangkap momen yang tidak bisa diabadikan oleh banyak orang. Ia menekankan bahwa teknik ini mengajarkan kehati-hatian dan kesadaran akan nilai setiap frame. "Saya ingin mencatat hal-hal yang tidak semua orang punya kesempatan untuk melihat," katanya. Contoh momen-momen yang ia prioritaskan termasuk situasi di balik layar, seperti proses kreatif di studio musik atau kegiatan backstage. Termasuk pula momen saat menghadiri sesi pembacaan naskah hingga adegan syuting film.

Keterbatasan jumlah frame dalam kamera analog membuat Iqbaal lebih selektif dalam memilih objek yang layak diabadikan. Proses ini juga memberinya kesempatan untuk menggali emosi dan koneksi lebih dalam dengan subjek foto. "Saya merasa lebih mampu mengungkapkan perasaan melalui analog karena ada pertimbangan yang lebih berat," katanya.

Menjadi Seorang Pekerja Kerah Biru dalam Kreativitas

Pengalaman berburu kamera hingga Thailand memberinya pelajaran berharga tentang bagaimana kreativitas bisa berkembang di luar lingkungan nyaman. Ia menjelaskan bahwa proses mencari kamera yang tepat juga seperti mencari jati diri sebagai seorang pekerja kerah biru. "Setiap alat punya karakteristik unik, dan menemukannya membutuhkan waktu dan kesabaran," ujarnya.

Di sisi lain, kamera analog juga mengajarkan ia untuk lebih peka terhadap detail. "Saya bisa merasakan ketika kamera mampu menangkap nuansa yang tidak terlihat oleh mata biasa," katanya. Dengan penggunaan film seluloid, setiap foto memiliki keunikan yang tidak bisa diulang, sehingga memaksa ia untuk lebih berpikir sebelum mengambil gambar. Hal ini sejalan dengan filosofi kreatifnya, yaitu menjadikan setiap momen sebagai karya yang berharga.

Kamera analog, menurut Iqbaal, bukan hanya alat, tetapi juga cermin dari keinginan untuk mengekspresikan diri secara lebih tulus. "Saya merasa seperti menulis puisi dengan alat yang lebih konkrit," katanya. Dalam konteks film Monster Pabrik Rambut, ia menegaskan bahwa kamera analog menjadi bagian dari proses menciptakan dunia visual yang lebih hidup dan menyentuh.

Perjalanan ke Thailand tersebut menjadi simbol dari komitmen yang ia tunjukkan terhadap seni analog. Meski tergolong kecil dalam skala global, kecintaannya terhadap kamera dan prosesnya tetap menjadi jembatan antara teknologi lama dan kreativitas modern. Iqbaal Ramadhan, yang secara berkala membagikan karyanya melalui media sosial, terus menjalankan perjalanan ini dengan semangat untuk mengeksplorasi lebih jauh, meski dengan langkah yang lebih hati-hati dan penuh pertimbangan.