TempatDonasi
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Topics Covered: Butet Kartaredjasa Beri Paus Leo XIV Lukisan Jalan Salib

Published Juni 19, 2026 · Updated Juni 19, 2026 · By Sari Setiawan

Butet Kartaredjasa Serahkan Lukisan Jalan Salib ke Paus Leo XIV

Topics Covered - Budayawan ternama Butet Kartaredjasa kembali menjadi sorotan publik setelah menyerahkan karya seni berupa lukisan yang menggambarkan tokoh Punakawan dalam tradisi pewayangan Jawa kepada Paus Leo XIV di Basilika Santo Petrus, Kota Vatikan, Roma, Italia. Pertemuan ini terjadi pada Rabu pagi, 17 Juni 2026, di mana Butet dan istrinya, Rulyani Isfihana, membawa 14 karya seni berbentuk lukisan yang menceritakan interpretasi lokal dari Jalan Salib, sebuah peristiwa penting dalam ajaran Katolik. Kedua pasangan tersebut melakukan perjalanan dari rumah mereka di Bantul, Yogyakarta, ke Kota Vatikan sebagai bagian dari harapan spiritual yang telah mereka rancang sejak lama.

Karya Seni yang Menyatukan Budaya dan Iman

Lukisan-lukisan yang disajikan Butet bertema "Jalan Salib Versi Jawa" merupakan hasil karya berseri yang dibuat pada tahun 2024. Karya ini menggambarkan Yesus Kristus sebagai tokoh Semar, sementara Gareng, Petruk, dan Bagong diperlihatkan sebagai pendamping yang turut serta dalam perjalanan kesengsaraan. Tema kesembilan dari seri ini memiliki makna khusus, karena angka sembilan dianggap sebagai simbol keberuntungan dalam filosofi Jawa. Ide melukis Jalan Salib muncul setelah Butet pulih dari kondisi kelumpuhan akibat cedera saraf kejepit parah pada 2021, yang memicu refleksi mendalam tentang makna pengorbanan dan kesabaran.

"Lukisan ini menyampaikan perjuangan kemanusiaan, yang merupakan esensi dari Jalan Salib," ujar Butet saat dihubungi melalui telepon pada Kamis, 18 Juni 2026. Ia menjelaskan bahwa penggambaran Yesus melalui tokoh Semar dianggap lebih sesuai dengan karakteristik budaya Jawa yang menekankan kebijaksanaan dan kerendahan hati. "Saya ingin menunjukkan bagaimana iman Katolik bisa harmonis dengan nilai-nilai tradisi Indonesia," tambahnya.

Pertemuan di Basilika Santo Petrus tidak hanya menjadi momen penting bagi Butet, tetapi juga membawa makna simbolis bagi keberagaman iman. Ia menegaskan bahwa kehadiran Rulyani, yang beragama Islam, menjadi bagian dari kesan unik dalam acara tersebut. "Kami menganggap perjalanan ke Vatikan sebagai pengalaman ibadah seperti haji, di mana keberagaman lintas agama diperlihatkan secara nyata," kata Butet. Proses pengantaran lukisan membutuhkan persiapan yang matang, termasuk melobi sekretaris Paus melalui bantuan Duta Besar Indonesia untuk Vatikan, Michael Trias Kuncahyono, yang berhasil memfasilitasi pertemuan tersebut.

Penjelasan Simbolisme dalam Lukisan

Lukisan yang diserahkan Butet memiliki elemen visual menarik, di mana Yesus digambarkan dengan tubuh terluka dan berbingkai kaca, sementara salib yang dikenakan menunjukkan warna merah. Gambar ini menggambarkan peristiwa penyaliban Yesus, yang dalam tradisi Katolik disebut Via Dolorosa, sebagai representasi penderitaan dan pengorbanan. Namun, dalam konteks Jawa, peristiwa ini diterjemahkan melalui kisah Punakawan yang dikenal memiliki nilai moral dan sosial yang dalam.

Butet menjelaskan bahwa Punakawan dalam pewayangan Jawa melambangkan kebijaksanaan, sifat rendah hati, serta pengendalian kekuasaan. Salah satu prinsip ikonik yang diangkat oleh Semar adalah "Ojo dumeh" atau "jangan mentang-mentang", yang menjadi pesan utama dari karya seni ini. "Makna dari lukisan ini adalah mengingatkan manusia untuk tidak sombong, tidak menyalahgunakan kekayaan, dan tetap rendah hati," katanya. Paus Leo XIV, menurut Butet, menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap karya seni yang datang dari jarak jauh, dengan mengapresiasi bagaimana budaya Jawa mampu menyampaikan pesan iman secara unik.

Konteks Pertemuan dan Perjalanan Spiritual

Pertemuan selama lima menit dengan Paus Leo XIV berlangsung dalam suasana yang sederhana, di mana Butet dan Rulyani mengenakan pakaian adat Jawa. Mereka sempat berbincang singkat sebelum berjabat tangan dan berdoa bersama. Butet menyebut perjalanan delapan hari yang ia sebut "Butet Sowan Paus" merupakan pengorbanan pribadi, karena biaya kegiatan tersebut ditanggung sepenuhnya dari dana pribadi. "Ini adalah perjuangan yang sepadan, karena kami merasa diberkati oleh pertemuan dengan Paus," kata Butet.

Dalam kesempatan tersebut, Paus juga menyampaikan pidato dalam bahasa Italia tentang seruan perdamaian untuk Iran. Komentar sang Paus menunjukkan perhatiannya terhadap isu global yang menyangkut konflik antarumat beragama. Butet menganggap pertemuan ini sebagai bentuk pengakuan terhadap keberagaman budaya di tengah umat Katolik yang berada di Vatikan. "Kami ingin menunjukkan bahwa iman Katolik tidak membatasi diri hanya pada tradisi barat, tetapi juga mampu berdialog dengan budaya Timur," ujarnya.

Butet tidak hanya memperkenalkan lukisan, tetapi juga menyampaikan pesan tentang pentingnya memperhatikan nilai-nilai lokal dalam membangun identitas budaya global. Ia menekankan bahwa karya seni ini adalah bentuk ekspresi iman yang tidak terbatas pada satu agama saja, melainkan mampu menyerap dan menyampaikan makna keagamaan dari berbagai latar belakang. "Dengan melukiskan Jalan Salib dalam perspektif Jawa, saya berharap bisa memperkenalkan bagaimana narasi iman bisa bersifat inklusif dan menginspirasi," jelas Butet.

Kritik terhadap Penetapan Hari Kebudayaan Nasional

Selain menyampaikan karya seni, Butet juga mengungkapkan pandangan kritis terhadap penetapan Hari Kebudayaan Nasional. Ia menyebut keputusan tersebut menimbulkan perdebatan karena dianggap seperti upaya menjilat kekuasaan. "Saya merasa kebudayaan Jawa perlu dihargai secara lebih mendalam, bukan hanya sebagai bentuk pujian belaka," katanya. Namun, kehadiran Paus Leo XIV dianggap sebagai momen penting yang mendorong dialog antarbudaya dan meyakinkan bahwa kebudayaan Indonesia bisa diakui secara internasional.

Dalam perjalanan ke Vatikan, Butet juga mengirimkan 14 lukisan ke Kedutaan Besar Indonesia sejak awal tahun lalu sebagai bentuk persiapan. Dengan bantuan Duta Besar Michael Trias Kuncahyono, karya seni tersebut akhirnya bisa diterima dan dipresentasikan kepada Paus. "Perjuangan ini memperlihatkan bagaimana kebudayaan bisa menjadi jembatan antara bangsa dan agama," katanya. Kebahagiaan Butet dan Rulyani tidak hanya berasal dari pertemuan dengan Paus, tetapi juga dari keberhasilan menunjukkan keberagaman budaya di tengah dunia yang seringkali terjebak dalam stereotip.

Kehadiran Butet di Vatikan menegaskan peran seni sebagai medium komunikasi budaya. Dengan menampilkan lukisan yang menggabungkan narasi Jawa dan iman Katolik, ia berharap bisa membangun pemahaman yang lebih luas tentang bagaimana kebudayaan lokal dapat berkontribusi pada nilai-nilai universal. Pertemuan ini juga menjadi momen penting bagi keberagaman iman, di mana antara Islam dan Katolik dapat bersinergi dalam menciptakan harmoni sosial yang lebih dalam.