TempatDonasi
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

New Policy: ITS Bikin Kapal Remote Control Sederhana Pembersih Sampah

Published Juni 15, 2026 · Updated Juni 15, 2026 · By Sinta Kurniawan

ITS Bikin Kapal Remote Control Sederhana Pembersih Sampah

Pengembangan Teknologi untuk Penanggulangan Sampah Laut

New Policy - Tim riset Teknik Perkapalan dari Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil merancang tiga unit kapal otomatis yang berfungsi untuk membersihkan sampah di perairan. Dua dari kapal-kapal tersebut telah dikirim ke daerah pesisir Bali dan Kalimantan Selatan sebagai bagian dari upaya mengatasi masalah pencemaran lingkungan. Sementara itu, kapal ketiga yang lebih kecil tengah diuji coba di danau kampus ITS di Surabaya, Jawa Timur.

Inspirasi dari Keresahan Lingkungan

Hasanudin, pemimpin tim riset, mengungkapkan bahwa ide ini lahir dari kekhawatiran terhadap tumpukan sampah yang mengancam kehidupan biota laut di perairan Indonesia. "Kita melihat kebutuhan akan solusi yang lebih efektif dan murah dalam mengatasi sampah plastik yang terus menumpuk di laut," ujarnya dalam siaran pers, Jumat 12 Juni 2026.

“Jadi kapalnya ini memiliki dua lambung sejajar, dengan alat pengumpul sampah di bagian tengah,” kata Hasanudin dalam wawancara.

Hasanudin menjelaskan bahwa kapal-kapal ini dirancang untuk bergerak mandiri, menghampiri area dengan sampah, lalu menampungnya melalui sistem yang terintegrasi. "Kapal ini bekerja dengan mekanisme penggerak otomatis yang memungkinkan operasi tanpa pengemudi manusia," tambahnya.

Konsep Desain yang Praktis

Dalam proses pembuatan, tim riset berfokus pada kesederhanaan desain agar mudah dioperasikan dan dirawat oleh masyarakat lokal. "Teknologi canggih seringkali tidak bisa bertahan lama karena biaya pemeliharaan tinggi dan kurangnya tenaga ahli di daerah terpencil," jelas Hasanudin.

Salah satu keunggulan kapal ini adalah kemampuannya untuk berjalan dengan jarak hingga satu kilometer menggunakan sistem remote control. Teknologi ini memungkinkan operator dari darat mengarahkan kapal secara real-time, tanpa harus menyentuh laut langsung. Selain itu, kapal dilengkapi dengan alat pencacah sampah, sistem pemantauan kamera CCTV, serta panel surya sebagai sumber energi ramah lingkungan.

Penggunaan Kapal di Daerah Strategis

Dua kapal berukuran panjang 8 meter dan lebar 2,6 meter memiliki kapasitas maksimal 500 kilogram sampah. "Kapal besar ini sudah digunakan oleh Pertamina untuk kegiatan pembersihan di perairan Bali dan Kalimantan Selatan," papar Hasanudin.

Kapal yang lebih kecil, berukuran 4 meter x 1,5 meter, memiliki daya tampung 300 kilogram. Kapal ini sedang diuji coba di danau kampus ITS sebagai prototipe untuk skala penggunaan yang lebih luas. "Dengan ukuran yang lebih ringkas, kita bisa mengadaptasinya ke berbagai kondisi lingkungan, baik laut maupun danau," katanya.

Langkah-Langkah Masa Depan

Tim peneliti juga berencana menambahkan teknologi kecerdasan buatan (AI) berbasis Internet of Things (IoT) sebagai langkah selanjutnya. "Pada tahap selanjutnya, kapal akan mampu mendeteksi area sampah secara otomatis dan memprioritaskan daerah yang paling parah terkontaminasi," kata Hasanudin.

Hasanudin menekankan bahwa inovasi ini bertujuan memperkuat kolaborasi antara akademisi, industri, dan masyarakat. "Kapal ini tidak hanya menjadi alat pembersih, tapi juga mendorong kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga kebersihan maritim," ujarnya.

Potensi Aplikasi yang Luas

Proyek ini diharapkan menjadi langkah awal dalam pengembangan teknologi laut yang lebih ramah lingkungan. Hasanudin menyoroti bahwa desain sederhana yang digunakan memungkinkan adaptasi lebih mudah di berbagai lokasi, termasuk daerah dengan infrastruktur terbatas.

Kapal remote control ini juga bisa dijadikan contoh dalam mendukung keberlanjutan lingkungan. "Dengan sistem pengumpulan sampah otomatis, kita bisa mengurangi ketergantungan pada tenaga manusia, sekaligus meningkatkan efisiensi operasional," jelas Hasanudin.

Kolaborasi untuk Masa Depan Maritim

Pada jangka panjang, Hasanudin menargetkan ekspansi penggunaan kapal-kapal ini ke berbagai wilayah pesisir Indonesia. "Kolaborasi antara universitas, pemerintah, dan sektor swasta sangat penting untuk memastikan proyek ini berkelanjutan," katanya.

Kapal remote control ini juga diharapkan menjadi pemicu perubahan pola pikir masyarakat terkait sampah plastik. "Dengan teknologi yang mudah diakses, kita bisa mengajak masyarakat aktif dalam menjaga kebersihan laut," ujarnya.

Tim riset dari FTK ITS sedang bekerja sama dengan pihak eksternal untuk mengembangkan sistem yang lebih canggih. "Kita berharap ada peningkatan fungsionalitas, seperti sistem pengelompokan sampah berdasarkan jenisnya," tambah Hasanudin.

Manfaat untuk Lingkungan dan Ekonomi

Dengan mengurangi sampah di perairan, kapal ini diharapkan mampu memperbaiki kualitas ekosistem laut. Hasanudin menjelaskan bahwa setiap kapal bisa mengumpulkan sampah selama beberapa jam sebelum kembali ke daratan untuk dipilah dan didaur ulang.

"Selain membantu lingkungan, kapal ini juga memiliki potensi untuk menghasilkan nilai ekonomi," katanya. "Masyarakat lokal bisa terlibat langsung dalam pengoperasian dan perawatan, sehingga menciptakan peluang kerja baru."

Langkah-Langkah untuk Penyelesaian Masalah Global

Hasanudin menegaskan bahwa inovasi ini berpotensi menjadi solusi global untuk masalah sampah laut. "Dengan teknologi yang bisa disesuaikan, kita bisa mengatasi tantangan lingkungan di berbagai negara," ujarnya.

Proyek ini juga menjadi bukti bahwa perguruan tinggi bisa berperan aktif dalam menjaga kedaulatan maritim. "Kita tidak hanya mempelajari teknologi, tapi juga membangun solusi yang sesuai dengan kebutuhan lokal," tambah Hasanudin.

Dalam siaran persnya, Hasanudin mengingatkan bahwa sampah laut tidak hanya menjadi ancaman bagi lingkungan, tapi juga berdampak pada ekonomi perikanan dan pariwisata. "Kapal ini adalah langkah kecil, tapi bisa berdampak besar," pungkasnya.