TempatDonasi
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Solution For: Gempa Darat di Palu sampai Mengoyak Air Laut? Ini Kata BMKG

Published Juni 17, 2026 · Updated Juni 17, 2026 · By Maya Rahman

Gempa Darat di Palu sampai Mengoyak Air Laut? Ini Kata BMKG

Solution For - Sebuah gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang wilayah Sulawesi Tengah pada hari Selasa, 16 Juni 2026, pukul 10.27 WIB. Peristiwa tersebut menimbulkan perubahan tinggi muka air laut di Pelabuhan Pantoloan, Kota Palu, yang tercatat oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Meski pusat gempa berada di daratan, efeknya tetap terasa di sekitar daerah pesisir. BMKG mengungkapkan bahwa kenaikan muka air laut terjadi, meski hanya terbatas pada lokasi tertentu.

Analisis BMKG tentang Perubahan Muka Air

Berdasarkan data dari stasiun pasang surut yang terdapat di sekitar wilayah Palu, BMKG mencatat bahwa hanya perairan Pantoloan yang mengalami kenaikan muka air laut. Tingginya mencapai 7,5 sentimeter, sedangkan daerah lain seperti Parigi Moutong dan Poso tidak melaporkan perubahan serupa. Hal ini menunjukkan bahwa dampak gempa terhadap permukaan laut tidak merata, dengan kejadian tersebut lebih bersifat lokal.

“Kami memastikan bahwa perubahan muka air laut ini bukan merupakan tanda gelombang tsunami yang berpotensi besar. Masyarakat dianjurkan tetap tenang dan tidak terburu-buru menghadapi isu-isu yang menyebut gempa ini mengakibatkan bahaya besar,” kata Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, dalam konferensi pers yang disiarkan secara daring pada hari yang sama.

Lokasi dan Penyebab Gempa

Saat konferensi pers, Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menjelaskan bahwa gempa tersebut berpusat di daratan, berjarak sekitar 45 kilometer ke arah tenggara Kota Palu. Menurutnya, lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya menunjukkan bahwa gempa ini termasuk jenis gempa dangkal yang disebabkan oleh aktivitas Sesar Sausu. “Aktivitas tektonik di Sesar Sausu menjadi faktor utama dalam menimbulkan gempa bumi kali ini,” ujarnya.

Sesar Sausu, yang merupakan salah satu sesar aktif di Indonesia, dikenal sebagai penyebab berbagai peristiwa seismik di wilayah Sulawesi. Dengan kedalaman hiposenternya yang relatif dangkal, gempa ini lebih mungkin menyebabkan getaran yang terasa kuat di permukaan, tetapi tidak selalu berarti akan memicu gelombang tsunami. BMKG juga memperkirakan bahwa kejadian ini memperlihatkan pola aktivitas geofisika yang berlangsung di area tersebut.

Aktivitas Gempa Susulan

Sebelumnya, BMKG mencatat bahwa gempa utama di Palu diikuti oleh sejumlah gempa susulan. Sampai pukul 12.00 WIB, tercatat minimal 20 gempa kecil dengan magnitudo tertinggi mencapai 5,1. Nelly Florida Riama menegaskan bahwa BMKG tetap melakukan pemantauan terhadap aktivitas gempa susulan tersebut, karena dapat mengubah dinamika risiko di wilayah tersebut.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa gempa susulan ini umumnya berkekuatan rendah, namun tetap bisa memberikan kesan tidak nyaman bagi masyarakat. BMKG memperingatkan bahwa sejumlah bangunan yang rusak masih memerlukan perhatian khusus, terutama karena potensi kerusakan lanjutan yang bisa terjadi akibat gempa susulan.

Dampak pada Infrastruktur

Menurut BMKG, sejumlah bangunan mengalami kerusakan sedang akibat gempa bumi ini. Beberapa struktur yang terkena dampak antara lain Kantor Bupati Kabupaten Sigi, Auditorium Universitas Tadulako, Hotel Santika di Kota Palu, dan lima rumah warga di Kabupaten Parigi Moutong. Masyarakat dianjurkan untuk menjauhi bangunan yang retak atau rusak agar mengurangi risiko cedera akibat reruntuhan.

Kerusakan pada bangunan tersebut memperlihatkan bahwa gempa bumi yang berkekuatan 6,7 masih memiliki dampak signifikan, terutama di daerah yang berdekatan dengan pusat gempa. Pemantauan terus dilakukan untuk mengevaluasi tingkat kerusakan dan menentukan apakah ada perbaikan yang perlu dilakukan pada infrastruktur lokal.

Langkah Pemantauan dan Peningkatan Kesadaran Masyarakat

BMKG menekankan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap gejala-gejala gempa yang berpotensi mengakibatkan tsunami. Meski perubahan muka air laut di Pantoloan tidak dianggap berbahaya, situasi ini memberi pelajaran bahwa setiap gempa perlu dianalisis secara menyeluruh. Sejumlah wilayah lain di sekitar Palu, seperti Pantoloan, berada dalam area risiko tinggi, sehingga BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan memperhatikan informasi resmi dari lembaga tersebut.

Dalam konteks ini, BMKG juga berupaya memperkuat sistem pengawasan gempa dan tsunami, terutama di daerah pesisir. Meski gempa yang terjadi pada 16 Juni 2026 tidak memicu gelombang besar, perubahan muka air laut yang tercatat menjadi indikator awal untuk mengevaluasi aktivitas tektonik yang berpotensi lebih besar di masa depan. Masyarakat diimbau untuk terus memantau update dari BMKG dan bersiap menghadapi skenario apapun yang mungkin terjadi.

Pilihan Editor: Gempa di Mindanao Sampai Mengangkat Lantai Laut Jadi Daratan

Editor mengusulkan bahwa gempa bumi yang terjadi di Palu sebenarnya memiliki kesamaan dengan gempa di Mindanao, wilayah yang berada di sebelah utara Sulawesi.