TempatDonasi
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

New Policy: Pergeseran Tren Kuliner Mewah Tak Lagi Soal Mahal

Published Juni 12, 2026 · Updated Juni 12, 2026 · By Tegar Utami

Pergeseran Tren Kuliner Mewah Tak Lagi Soal Mahal

New Policy - Tren makanan berkelas di wilayah Asia Tenggara kini mengalami pergeseran penting yang terlihat jelas. Konsumen dengan kemampuan finansial tinggi semakin menyadari bahwa berkunjung ke tempat makan mewah tidak hanya tentang biaya yang tinggi atau eksklusivitas produk, tetapi lebih pada upaya untuk mengekspresikan nilai pribadi, memperkuat hubungan sosial, serta mendapatkan pengalaman yang lebih bermakna dalam kehidupan sehari-hari.

Mewah sebagai Sarana Ekspresi dan Koneksi

Berdasarkan laporan white paper terbaru berjudul "Taste and Transformation: How Luxury Dining Is Shaping Identity, Connection and Lifestyle in Southeast Asia", para penggemar kuliner mewah kini melihatnya sebagai bagian dari identitas diri dan sarana untuk menikmati hubungan dengan orang lain serta budaya sekitar. Studi ini merupakan kolaborasi antara konsultan komunikasi strategis Vero dan perusahaan media BurdaLuxury, dengan bantuan lembaga riset GMO-Z.com Research. Mereka menyurvei 600 konsumen premium di Malaysia, Singapura, dan Thailand, serta merilis temuan mereka dalam ajang Lifestyle Asia Best Bites Awards yang diadakan di Andaz One Bangkok, Jumat 8 Juni 2026.

CEO BurdaLuxury, Bjorn Rettig, menjelaskan bahwa penelitian tersebut mengonfirmasi pergeseran dari fokus pada kesan status menjadi keinginan untuk membangun pengalaman yang lebih mendalam. "Melalui white paper ini, kami ingin memahami lebih dalam apa yang benar-benar penting bagi para penikmat kuliner mewah di Asia Tenggara saat ini," ujarnya dalam keterangan pers.

“Melalui white paper ini, kami ingin memahami lebih dalam apa yang benar-benar penting bagi para penikmat kuliner mewah di Asia Tenggara saat ini,” ujarnya dalam keterangan pers.

Perbedaan Pola Konsumsi di Tiga Negara

Secara regional, hasil riset menunjukkan bahwa konsumen kelas atas di Asia Tenggara memperdefinisikan kemewahan melalui aspek emosional dan makna pribadi, bukan hanya harga mahal atau ketenaran merek. Di tiga negara yang disurvei, pengunjung ke restoran berkelas dianggap sebagai pilihan sadar untuk membangun koneksi dengan diri sendiri, orang lain, atau budaya lokal. Menurut data, sekitar 33,17 persen responden mengunjungi tempat makan mewah sebagai bentuk apresiasi diri, sementara 31,5 persen menganggapnya sebagai cara merayakan pencapaian hidup, dan 31 persen memilihnya sebagai pelarian dari kesibukan rutinitas.

Terlepas dari motivasi emosional yang sama, kebiasaan konsumen di setiap negara menunjukkan ciri khas yang berbeda. Di Malaysia dan Singapura, fine dining lebih sering dianggap sebagai acara istimewa yang dilakukan secara berkala. Sebaliknya, konsumen Thailand terbukti lebih aktif dalam memanfaatkan pengalaman kuliner sebagai bagian dari keputusan rencana perjalanan mereka. Mereka juga lebih rentan terpengaruh oleh preferensi kuliner dalam membangun hubungan dengan brand dan komunitas.

Pengaruh Luas ke Sektor Lain

Kemajuan tren makanan mewah ini ternyata tidak terbatas pada industri restoran. Studi menunjukkan bahwa sektor desain interior menjadi yang paling terinspirasi dari pengalaman kuliner, dengan kontribusi sebesar 39,67 persen. Di sisi lain, industri mode juga terlihat terkait erat dengan kegiatan ini, mencapai 40,16 persen. Paling dominan dalam keterkaitan ini adalah konsumen Thailand, yang menyumbang 51 persen, diikuti Malaysia (36 persen) dan Singapura (33,5 persen).

Menariknya, kategori kesehatan juga tetap relevan. Sebanyak 38,5 persen responden menyatakan bahwa pengalaman makan yang istimewa mendorong mereka untuk memperhatikan aspek kesehatan dalam gaya hidup. Selain itu, media sosial memainkan peran penting dalam ekosistem ini. Dari sepuluh responden, sembilan orang mengaku pernah mencoba restoran atau menu baru setelah melihat postingan online.

Keterlibatan Konsumen dalam Membentuk Pengalaman

Sireethon Auerat, Account Director Vero Thailand, menambahkan bahwa konsumen premium kini tidak hanya menerima informasi dari merek, tetapi juga aktif dalam menciptakan pengalaman yang unik. "Karena pengalaman kuliner bisa meninggalkan kesan yang kuat, pengaruhnya tidak berhenti di meja makan," ujarnya.

“Karena pengalaman kuliner bisa meninggalkan kesan yang kuat, pengaruhnya tidak berhenti di meja makan,” ujarnya.

Pengalaman yang diperoleh dari aktivitas makan mewah terbukti memengaruhi berbagai aspek kehidupan konsumen, termasuk cara mereka membangun koneksi, memilih destinasi wisata, dan mengambil keputusan pembelian. "Hal ini berpeluang menciptakan pengalaman yang terasa personal, bermakna, dan layak untuk dibagikan," imbuh Sireethon.

Contoh Konkrit dari Perubahan Tren

Perubahan ini juga terlihat dalam pengembangan tempat makan yang lebih berfokus pada kualitas pengalaman daripada harga. Restoran yang menawarkan nuansa unik, seperti seni tradisional atau elemen kultur lokal, menjadi daya tarik utama. Di Jakarta, misalnya, ada sejumlah usaha yang menempatkan makanan khas sebagai bagian dari perjalanan kemewahan. Salah satu contoh adalah silsilah Bakmi Legendaris, yang selama ini dianggap sebagai panganan sederhana, kini ditempatkan dalam konteks kuliner premium dengan peningkatan bahan baku, teknik masak, dan keunikan rasa.

Konsumen modern lebih menghargai kualitas dan kreativitas dalam penyajian makanan, meskipun tidak mengabaikan harga. Sejumlah brand lokal mulai beradaptasi dengan menggabungkan tradisi dan inovasi, menghadirkan menu yang menawarkan kenangan, estetika, dan kesan mendalam. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa makanan mewah kini menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih holistik, bukan sekadar layanan makanan.

Perspektif Global dan Lokal

Dari perspektif global, tren ini mencerminkan pergeseran ke arah konsumsi yang lebih emosional dan berorientasi pengalaman. Di Asia Tenggara, makanan mewah menjadi sarana untuk mengakui