Key Discussion: Pelatih PSIM sebut timnya masih miliki masalah finishing

Pelatih PSIM sebut timnya masih miliki masalah finishing

Kekalahan di Bantul Jadi Pelajaran Baru

Key Discussion – Kamis (2/5) lalu, PSIM Yogyakarta mengalami kekalahan 0-1 dari Persita Tangerang dalam pertandingan di Stadion Sultan Agung Bantul. Hasil ini memperparah performa tim yang sebelumnya sudah mencatatkan rekor negatif dalam beberapa laga terakhir. Pelatih PSIM, Jean-Paul van Gastel, mengakui bahwa timnya masih menghadapi kendala dalam menyelesaikan peluang yang ada, terutama di akhir pertandingan.

“Kita selalu kesulitan mengubah peluang menjadi gol. Ini yang jadi hambatan utama,” ungkap Van Gastel, seperti yang dilansir dari laman resmi liga. Meski kekalahan ini terjadi di bawah tekanan, ia menilai bahwa timnya tetap berusaha maksimal untuk merespons situasi tersebut.

Persita Tangerang menunjukkan dominasi lebih besar sejak menit awal, dengan gol tunggal Aleksa Andrejic pada menit keenam menjadi penentu kemenangan mereka. Kekalahan ini adalah yang kedua belas dalam musim kompetisi BRI Super League 2025/2026, yang berdampak pada penurunan peringkat PSIM. Dalam tujuh pertandingan terakhir, tim yang berjuluk Laskar Mataram ini hanya mampu meraih tiga hasil imbang dan empat kekalahan.

Van Gastel menyebutkan bahwa kesulitan dalam finishing terus mengganggu performa timnya, bahkan menyebabkan kehilangan momentum di pertandingan-pertandingan krusial. “Kita punya peluang cukup baik, tapi tak bisa terealisasi. Ini jadi masalah besar,” tambahnya. Kondisi ini membuat PSIM kini hanya memiliki satu kemenangan dalam 13 laga terakhir, dengan gol-gol berharga terus terlewatkan.

Meski demikian, Van Gastel mengakui bahwa timnya tetap menunjukkan kemampuan bertahan baik dalam pertandingan kali ini. Namun, kegagalan untuk mencetak gol dari sepertiga akhir lapangan dinilainya sebagai kelemahan yang perlu diperbaiki. “Kita menguasai bola di sebagian besar pertandingan, tapi tak bisa menembus pertahanan lawan secara efektif,” jelasnya. Tantangan terbesar bagi PSIM, menurut pelatih asal Belanda tersebut, adalah bagaimana mempertahankan kompetitif dalam menghadapi lawan yang lebih solid di bagian akhir pertandingan.

Salah satu momen penyelamatan dalam laga tersebut adalah upaya kiper Cahya Supriadi yang mampu menggagalkan penalti Persita yang dieksekusi Pablo Ganet pada menit ke-84. Meski demikian, Van Gastel mengakui bahwa hasil ini tetap menyakitkan. “Kita sudah berusaha, tapi skor tetap tak bisa diubah. Ini jadi pelajaran yang berharga,” katanya.

Kekecewaan Van Gastel pun disampaikan dalam konteks klasemen sementara yang membuat PSIM harus berada di posisi kedua belas. Dengan 39 poin dari 30 pertandingan, tim ini mengumpulkan poin yang sama dengan Arema FC yang berada di peringkat kesepuluh. Situasi ini menunjukkan bahwa PSIM belum mampu meraih kemenangan konsisten sepanjang musim, sehingga tekanan dari lawan-lawan yang lebih kuat akan semakin besar.

Dalam laga selanjutnya, PSIM akan menghadapi Persib Bandung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api. Pertandingan ini akan digelar pekan depan, Senin (4/5) pukul 15.30 WIB, dan dianggap sebagai tantangan berat. Persib, yang berambisi mempertahankan gelar juara, diharapkan bisa menunjukkan dominasi mereka kembali. Dalam hal ini, Van Gastel mengatakan bahwa timnya harus memperbaiki kesalahan di akhir pertandingan agar bisa meraih hasil yang lebih baik.

Van Gastel juga menyoroti peran kiper Cahya Supriadi yang berhasil memutus rencana Persita mengambil keuntungan dari situasi tendangan bebas. “Cahya tampil luar biasa hari ini. Tanpa kehadirannya, skor bisa berbeda,” ujarnya. Meski begitu, dia menyatakan bahwa tugas utama timnya tetap harus berfokus pada penyelesaian akhir, karena ini menjadi faktor kritis dalam menentukan kemenangan.

Kekalahan dari Persita memberi kesan bahwa PSIM belum benar-benar menemukan solusi untuk mengatasi masalah finishing. Kebiasaan untuk melewatkan peluang terus mengganggu permainan mereka, terutama di situasi yang memaksa. “Kita harus lebih konsisten dalam mengubah peluang menjadi gol. Jika ini terus terjadi, hasil buruk akan semakin mengancam,” lanjut Van Gastel.

Di sisi lain, Van Gastel mengakui bahwa timnya tetap memiliki kekuatan dalam aspek lain, seperti kreativitas pemain di tengah lapangan dan ketangguhan pertahanan. Namun, jika finishing tetap menjadi masalah utama, maka PSIM akan kesulitan meraih poin penting. “Kita punya potensi untuk memenangkan pertandingan, tapi sayangnya selalu kandas di akhir,” pungkasnya.

Dengan rencana melawan Persib, Van Gastel menilai bahwa PSIM harus lebih siap secara mental dan teknik. “Kami akan mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi lawan yang kuat. Kekalahan kemarin adalah pembelajaran bagi kami,” tambahnya. Pertandingan ini menjadi momen penting untuk menunjukkan perbaikan dari segi finishing, yang selama ini dianggap menjadi poin lemah dalam penampilan tim.

Sebagai tim yang sebelumnya berhasil memenangkan pertandingan melawan PSBS Biak, kini PSIM harus memperbaiki performa mereka agar bisa kembali ke jalur kemenangan. Jika tak mampu menyiasati masalah finishing, maka mereka akan kesulitan untuk meraih hasil maksimal dalam laga-laga berikutnya. Van Gastel berharap bahwa pemain-pemainnya bisa lebih berani dalam menembus pertahanan lawan dan membuat peluang lebih produktif.

Keberhasilan dalam finishing, menurut pelatih asal Belanda tersebut, adalah kunci utama dalam mencapai target musim ini. “Kita harus memastikan setiap peluang tidak terlewatkan. Ini akan menjadi perubahan signifikan bagi performa kami di laga-laga mendatang,” tuturnya. Dengan perbaikan ini, PSIM diharapkan bisa meningkatkan posisi mereka dalam klasemen dan menghindari kekalahan beruntun yang kian mengkhawatirkan.