Skip to content
Tekno

Menangkal Kepunahan Ginseng of Java Lewat Pemuliaan Tanaman

Sari Setiawan - tempatdonasi.com 3 mins read

waceng Melalui Program Pemuliaan Tanaman Menangkal Kepunahan Ginseng of Java Lewat - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah menggalakkan inovasi dalam

Menangkal Kepunahan Ginseng of Java Lewat Pemuliaan Tanaman

Upaya BRIN Melestarikan Purwaceng Melalui Program Pemuliaan Tanaman

Tempatdonasi.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah menggalakkan inovasi dalam bidang pemuliaan tanaman herbal purwaceng. Tujuan utama dari program ini adalah menciptakan varietas yang memiliki keunggulan lebih baik serta mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan dibandingkan dengan populasi yang tumbuh secara alami. Tanaman endemik Indonesia ini, yang selama ini hanya ditemukan di kawasan dataran tinggi, kini menghadapi status terancam punah akibat berbagai tekanan lingkungan dan eksploitasi berlebihan.

Nilai Farmakologis dan Ancaman Kepunahan

Otih Rostiana, seorang Peneliti Ahli Utama yang bertugas di Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, menjelaskan bahwa purwaceng sering dijuluki sebagai “Ginseng of Java” karena kandungan senyawa bioaktifnya yang sangat bermanfaat. Senyawa-senyawa tersebut berperan penting dalam meningkatkan vitalitas tubuh, menjaga kesehatan saluran kemih, serta memperbaiki sirkulasi darah. Popularitas tanaman ini sebagai bahan baku obat tradisional telah menyebabkan penurunan signifikan terhadap jumlah populasi purwaceng di alam liar.

Merespons ancaman kepunahan tersebut, tim peneliti BRIN telah melaksanakan berbagai langkah pemuliaan tanaman. Proses ini mencakup seleksi sumber daya genetik, pemurnian galur, hingga akhirnya menghasilkan varietas unggul. Otih menyampaikan bahwa varietas baru yang telah dikembangkan memiliki karakter genetik yang lebih baik dibandingkan dengan tanaman asli. Selain itu, terdapat peningkatan kandungan sitosterol serta kemampuan adaptasi yang lebih luas terhadap berbagai kondisi lingkungan.

“Kami telah menghasilkan varietas unggul yang memiliki karakter genetik lebih baik dan menunjukkan peningkatan kandungan sitosterol serta kemampuan adaptasi yang lebih luas dibandingkan populasi alaminya,” ujar Otih dalam keterangan tertulisnya pada Kamis, 16 Juli 2026.

Karakteristik Varietas Baru dan Tantangan Produksi

Varietas purwaceng hasil pemuliaan ini menampilkan karakteristik unik berupa tulang daun berwarna merah keunguan. Performa genetik yang lebih baik juga menjadi salah satu keunggulan utama. Peningkatan kandungan sitosterol serta kemampuan beradaptasi pada lokasi budi daya yang lebih rendah dibandingkan habitat aslinya menjadi nilai tambah yang signifikan. Namun, keberhasilan pemuliaan tanaman belum sepenuhnya menyelesaikan seluruh persoalan dalam pengembangan purwaceng. Salah satu tantangan terbesar yang masih dihadapi adalah penyediaan benih dalam jumlah yang memadai untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Dari perspektif industri, Otih menekankan bahwa keberhasilan pengembangan purwaceng tidak hanya diukur dari hasil varietas unggul. Standardisasi mutu bahan baku menjadi aspek yang sama pentingnya untuk memastikan produk herbal yang dihasilkan memiliki kualitas yang konsisten. Mutu purwaceng sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk kepastian identitas tanaman, teknik budi daya yang digunakan, waktu panen yang tepat, serta penanganan pascapanen yang baik.

Standardisasi dan Pencegahan Pemalsuan

Otih juga mengingatkan adanya risiko pemalsuan bahan baku yang semakin tinggi seiring dengan meningkatnya permintaan pasar. Beberapa tanaman lain, seperti Valeriana officinalis, kolesom, maupun som jawa, memiliki bentuk akar yang menyerupai purwaceng. Meskipun secara visual mirip, kandungan senyawa aktif dan manfaat farmakologisnya berbeda secara signifikan. Oleh karena itu, diperlukan standardisasi yang ketat untuk menjamin keamanan, mutu, dan khasiat produk herbal secara berkelanjutan.

“Purwoceng masih berpotensi besar untuk dikembangkan. Karena itu, budi daya, konservasi, dan standardisasi bahan baku harus terus diperkuat agar tanaman ini tetap lestari, memberikan manfaat ekonomi bagi petani, serta mampu memenuhi kebutuhan industri dengan mutu yang terjamin,” kata Otih.

Program pemuliaan purwaceng oleh BRIN ini merupakan langkah strategis dalam melestarikan kekayaan biodiversitas Indonesia. Dengan kombinasi antara pengembangan varietas unggul, budi daya yang tepat, dan standardisasi mutu, tanaman endemik ini diharapkan dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia maupun industri herbal global.

Join the discussion