Main Agenda: Dari kanan ke utara, kisah mesra ultras Lazio dan Inter Milan
Dari kanan ke utara, kisah mesra ultras Lazio dan Inter Milan
Main Agenda – Pertandingan antara Lazio dan Inter Milan, termasuk final Coppa Italia 2025/2026 yang berlangsung di Stadion Olimpico, Roma, selalu menjadi momen yang menarik. Momen tersebut tidak hanya memperlihatkan pertarungan antar tim, tetapi juga hubungan unik antara dua kelompok suporter ekstrem yang dikenal dengan sebutan Boys San dan Irriducibili. Meski berbeda kota dan tradisi, kedua kelompok ini memiliki hubungan yang mengakar dalam ideologi politik. Perbedaan itu bukan dari sisi olahraga, melainkan dari aliran kepercayaan politik yang menyatukan mereka: fasisme dari kanan.
Hidup dalam Ideologi Kebangsaan
Boys San, suporter Inter Milan, dan Irriducibili, ultras Lazio, berada di tribun utara masing-masing stadion, Giuseppe Meazza dan Olimpico. Akan tetapi, kebersamaan mereka tidak berasal dari semangat sepak bola semata. Peran utama yang mempersatukan keduanya adalah ideologi politik yang mengakar dalam sejarah Italia. Fasisme, yang diperkenalkan oleh Benito Mussolini pada 1922–1945, menjadi fondasi bagi kepercayaan tersebut. Meski era Mussolini telah berlalu, jejaknya masih hidup dalam berbagai bentuk, termasuk di kalangan suporter yang menganggap dirinya sebagai bagian dari perjuangan nasionalisme.
Jejak Fasisme Mussolini
Mussolini, dengan pemerintahan yang disebut sebagai kekuasaan absolut, membawa fasisme ke puncak popularitas. Ideologi ini mengajarkan keseragaman dan kekakuan, menghancurkan perbedaan yang dianggap sebagai ancaman. SAM, atau Squadre d’azione Mussolini, adalah salah satu organisasi paramiliter yang didirikan untuk mendukung visi sang diktator. Seiring waktu, SAM menjadi simbol kekuasaan yang menekan kebebasan individu. Jejak ideologi ini terus berkembang, dan sekarang diwujudkan dalam bentuk neo-fasisme, yang masih relevan di tengah kemunculan kelompok-kelompok ekstremis di era modern.
Neo-Fasisme di Pinggir Lapangan Hijau
Menurut Gil Meiler, penulis tesis di Universitas Luiss Guido Carli, Roma, neo-fasisme merupakan warisan dari kebijakan Mussolini yang terus berpangaruh hingga hari ini. Meiler menyoroti hubungan antara Boys San dengan partai sayap kanan Movimento Sociale Italiano (MSI), yang bergerak dalam arah neo-fasisme. Sejarah kelompok suporter ini bermula pada 1969, ketika Franco Servello, tokoh MSI yang memiliki hubungan dekat dengan Inter Milan, memimpin pembentukan “Boys-Furie Nerazzurre”. Awalnya, anggotanya terdiri dari pemuda yang berhaluan kekanan, dan nama “San” diambil dari “Squadre d’azione Nerazzure” atau “Pasukan Aksi Hitam-Biru”.
Nama “San” ini juga mengingatkan pada SAM, organisasi paramiliter Mussolini yang dipakai untuk memperkuat dominasi pemerintah. SAM berperan penting dalam membentuk struktur kekuasaan Mussolini, dan konsep serupa terus hidup dalam bentuk neo-fasisme. Di sisi lain, suporter Lazio yang dikenal sebagai “Irriducibili” juga memiliki hubungan ideologis yang kuat dengan kepercayaan politik. Mereka, yang berbasis di curva nord Olimpico, menyatakan keanggotaan mereka bukan hanya karena cinta terhadap tim, tetapi juga karena kepercayaan pada prinsip-prinsip nasionalisme yang kuat.
Irriducibili: Kepercayaan yang Kuat
Irriducibili, yang muncul pada 1987, memiliki filosofi yang ketat terhadap siapa pun yang berada di tribun mereka. Dalam bahasa Inggris, istilah “Irriducibili” berarti “tidak dapat direduksi” atau “tidak tergoyahkan”. Mereka percaya bahwa keanggotaan di curva nord adalah bukti dari kepatuhan pada ideologi. Sebagian besar anggota ini adalah pemuda yang mengagumi kekuasaan militer Italia era Mussolini. Pada saat Lazio memenangkan Liga Italia 1973/1974, euforia terhadap tim tersebut meningkat, termasuk di kalangan suporter yang tergabung dalam Fronte della Gioventu, sayap pemuda dari MSI.
Anak Muda Kebangsaan: Kekuatan dan Kekhawatiran
Menurut Simon Martin, dalam bukunya “Football, Fascism and Fandom in Modern Italy” yang dimuat di Revista Critica de Ciencias Sociais (2018), MSI memiliki pengaruh signifikan terhadap keberadaan Irriducibili. Hal ini menunjukkan bahwa ekstremisme politik tidak hanya berjalan di lapangan politik, tetapi juga memasuki dunia olahraga. Selain itu, Alberto Testa dan Gary Armstrong, dalam karya mereka “Italian Ultras and Neo-Fascism” yang dipublikasikan di Social Indentities: Journal for the Study of Race, Nation and Culture (2008), menyebut bahwa Irriducibili sering terlibat dalam praktik rasialisme.
“Motif ideologis mereka lebih kental daripada loyalitas terhadap sepak bola,” tulis Testa dan Armstrong.
Mereka menjelaskan bahwa Irriducibili tidak hanya mendukung tim Lazio, tetapi juga memperkuat identitas nasionalisme yang berbasis pada pemikiran kekanan. Suporter ini memilih secara ketat siapa yang berhak duduk di tribun utara, karena mereka percaya bahwa kehadiran seseorang di sana adalah bukti dari kepatuhan ideologis. Jejak neo-fasisme ini menunjukkan bahwa kekuasaan politik tetap hidup dalam tuntutan identitas budaya dan olahraga.
Titik Temu Antara Tim dan Ideologi
Sejarah ultras Lazio dan Inter Milan menjadi bukti bagaimana ideologi politik bisa menyatu dengan dunia olahraga. Meskipun Boys San dan Irriducibili bertanding sebagai tim lawan, mereka membagi ruang yang sama di stadion, dengan separuh berada di curva nord Giuseppe Meazza dan separuh di curva nord Olimpico. Kedekatan ini terjadi karena mereka memiliki pandangan yang sejalan terhadap kekuasaan dan kebanggaan nasional. Kini, di tengah dinamika sepak bola Italia, peran mereka tetap menjadi sumber daya ideologis yang tak terpisahkan.
Konflik antara dua klub ini tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga di antara suporter mereka. Namun, justru dalam perbedaan tersebut, kebersamaan ideologi fasisme terus dipertahankan. Penelitian menunjukkan bahwa tuntutan kekuasaan dan kebanggaan nasional tidak pernah benar-benar
