Latest Program: TKHK intensifkan edukasi konsumsi oralit bagi JCH Bengkulu
TKHK Intensifkan Edukasi Konsumsi Oralit bagi Jamaah Calon Haji Bengkulu
Latest Program – Bengkulu menjadi salah satu fokus utama dalam upaya pencegahan dehidrasi yang mengancam kesehatan jamaah calon haji (JCH) asal provinsi tersebut saat mengikuti ibadah haji di Makkah. Untuk itu, Tenaga Kesehatan Haji Kloter (TKHK) terus meningkatkan sosialisasi penggunaan oralit, serta kebiasaan minum air putih secara teratur. Langkah ini dilakukan sebagai antisipasi terhadap kondisi cuaca ekstrem yang terjadi di Arab Saudi, khususnya selama periode puncak ibadah haji.
Kebutuhan Edukasi Kesehatan Sebelum Armuzna
Kebiasaan konsumsi oralit dan air putih menjadi prioritas dalam program kesehatan yang dijalankan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu. Hal ini diungkapkan oleh Penanggung Jawab Program Kesehatan Haji, Kurniawan Arianto Abdul Gani, saat memberikan keterangan di Bengkulu pada hari Kamis. “TKHK memberikan instruksi kepada jamaah haji mengenai penggunaan oralit satu bungkus per hari, serta konsumsi air putih 200 cc setiap jam,” katanya. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya penggunaan alat pelindung diri (APD) ketika jamaah keluar dari tempat penginapan, yaitu Komplek Al Hidayah Tower Hotel Makkah.
“Edukasi ini diberikan menjelang puncak penyelenggaraan ibadah haji, yakni Armuzna, yang akan dimulai pada 25 hingga 30 Mei 2026,” jelas Kurniawan. Ia menambahkan, para jamaah calon haji Bengkulu yang tergabung dalam kloter PDG 02, PDG 03, PDG 04, dan PDG 05 Padang, Sumatera Barat, telah tiba di Makkah setelah menyelesaikan ibadah umrah wajib. Mereka kini menempati kompleks hotel tersebut sebagai tempat istirahat sementara selama acara haji.
Kelompok jamaah calon haji dari Bengkulu diberi bimbingan khusus oleh TKHK untuk menjaga kesehatan tubuh selama masa penyelenggaraan ibadah. Kurniawan menjelaskan bahwa penggunaan oralit diperlukan karena suhu panas di Arab Saudi bisa berdampak serius pada kondisi fisik para jamaah, terutama ketika melakukan aktivitas ibadah yang intens. “Oralit menjadi salah satu cara efektif untuk menjaga tubuh tetap sehat dan tidak kehilangan cairan tubuh secara berlebihan,” katanya.
Pelayanan Medis 24 Jam di Makkah
Sebagai penunjang, pelayanan medis 24 jam tetap berjalan di Makkah. Tenaga kesehatan haji kloter siap memberikan pertolongan darurat kepada jamaah yang mengalami gejala kesehatan. Kurniawan menyebutkan bahwa layanan ini bertujuan memastikan kondisi para jamaah terus dipantau secara rutin, terutama selama jadwal ibadah haji yang padat.
Berdasarkan laporan dari Siskohatkes dan langsung dari TKHK, hingga Kamis, tercatat telah diberikan 1.709 layanan kesehatan kepada JCH Bengkulu. Selain itu, jumlah kunjungan visitasi terhadap jamaah dengan risiko kesehatan tinggi mencapai 2.550. Dari data tersebut, 175 orang mendapat perhatian khusus karena kondisi tubuh yang lebih rentan terhadap gangguan.
Diagnosis Umum yang Ditemukan
Kondisi kesehatan jamaah calon haji yang terpantau menunjukkan beberapa masalah umum. Diagnosis paling sering terjadi meliputi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hipertensi, demam, diabetes melitus, nyeri otot, sakit tenggorokan, dan dermatitis. Kurniawan menjelaskan bahwa kondisi tersebut bisa terjadi akibat kelelahan, perubahan cuaca, atau faktor lingkungan yang tidak terduga di Makkah.
Adapun total anggota JCH Provinsi Bengkulu yang telah diberangkatkan ke Arab Saudi mencapai 1.344 orang. Dari jumlah tersebut, satu orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 1.343 jamaah lainnya saat ini berada di Kota Makkah. Kurniawan memastikan bahwa semua jamaah tetap terlayani dengan baik, baik melalui edukasi, maupun bantuan medis yang siap 24 jam.
Kontinuitas Upaya Pencegahan Dehidrasi
TKHK Bengkulu terus memperkuat langkah-langkah pencegahan dehidrasi melalui berbagai metode. Selain edukasi, mereka juga memberikan panduan tentang cara mengatur waktu istirahat dan menghindari aktivitas berlebihan di bawah terik matahari. “Kami berharap edukasi ini bisa membantu jamaah tetap sehat sepanjang periode haji,” kata Kurniawan. Ia menambahkan bahwa penekanan pada konsumsi cairan akan berlanjut hingga akhir masa penyelenggaraan ibadah.
Dalam situasi cuaca ekstrem, seperti yang terjadi di Makkah, dehidrasi merupakan ancaman serius bagi jamaah calon haji. Suhu panas yang mencapai tingkat tinggi bisa menyebabkan peningkatan kehilangan cairan tubuh, terutama ketika jamaah melakukan aktivitas fisik sepanjang hari. Oleh karena itu, TKHK memastikan bahwa setiap jamaah mendapatkan informasi lengkap mengenai cara mengonsumsi oralit dan air putih secara tepat.
Kontak dan Pengawasan Terus Diperketat
Pengawasan kesehatan terhadap jamaah calon haji dilakukan secara intensif oleh TKHK. Mereka terus berkoordinasi dengan pihak pengelola hotel dan pihak terkait untuk memastikan aksesibilitas dan keandalan layanan. Kurniawan menyebutkan bahwa anggota TKHK juga terlibat langsung dalam memberikan edukasi kepada jamaah, baik melalui diskusi langsung maupun media seperti brosur dan video pembelajaran.
Dalam pelaksanaan edukasi, TKHK memperhatikan kebutuhan jamaah berdasarkan usia, kondisi kesehatan sebelum keberangkatan, dan riwayat penyakit. Hal ini bertujuan untuk meminimalkan risiko komplikasi sebelumnya. “Kami melakukan adaptasi terhadap kondisi masing-masing jamaah agar program kesehatan lebih efektif,” ujarnya. Selain itu, TKHK juga memberikan pelatihan kepada petugas lokal mengenai tindakan darurat yang harus dilakukan jika jamaah mengalami gejala serius.
