Solving Problems: Martalena olah ikan invasif Danau Toba Red Devil jadi makanan ringan
Martalena Manalu, Pemilik UMKM AIVAH, Ciptakan Kerupuk Tayo-Tayo dari Ikan Red Devil Invasif
Solving Problems – Di tengah tantangan ekosistem perairan Danau Toba yang terus menghadapi ancaman dari spesies ikan invasif, Martalena Manalu, seorang pengusaha kecil menengah (UMKM) asal Pardede Onan, Balige, Sumatera Utara, menunjukkan inovasi berbeda. Dengan mengolah ikan Red Devil yang dikenal sebagai penyebab kekacauan ekosistem di daerah itu, Martalena berhasil mengubahnya menjadi produk makanan ringan bernama Kerupuk Tayo-Tayo. Inisiatif ini tidak hanya membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar, tetapi juga menjadi solusi kreatif untuk mengatasi masalah ikan asli yang terancam.
Bisnis Kreatif Berbasis Ikan Invasif
UMKM AIVAH, yang berlokasi di Jalan Lumban Sisoding, Pardede Onan, Balige, Sumatera Utara, telah memproduksi Kerupuk Tayo-Tayo menggunakan ikan Red Devil sebagai bahan utamanya. Produk ini kini menjadi oleh-oleh khas Danau Toba yang diminati wisatawan dan masyarakat lokal. Martalena menjelaskan, keberadaan ikan Red Devil di perairan Danau Toba selama ini dianggap mengganggu keseimbangan alam dan mengancam populasi ikan endemik seperti ikan Toba. “Kami tertarik mengolah ikan Red Devil karena menjadi salah satu spesies invasif yang berkembang pesat di sini,” katanya dalam wawancara di Balige, Selasa.
Dalam pernyataannya, Martalena menekankan bahwa inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap lingkungan sekaligus upaya meningkatkan nilai tambah dari hasil perikanan lokal. “Produk olahan ini bukan hanya camilan, tetapi juga cara untuk memanfaatkan ikan invasif agar berkontribusi pada perekonomian masyarakat sekitar,” tambahnya. Selain itu, inisiatifnya diharapkan mampu memperkuat identitas kuliner khas Danau Toba, yang sebelumnya lebih dikenal dengan produk tradisional seperti ulos atau rempeyek.
Solusi untuk Lingkungan dan Ekonomi
Red Devil, yang masuk ke Danau Toba sejak beberapa tahun terakhir, dikenal sebagai ikan yang sangat agresif. Karena memakan ikan lokal secara massal, spesies asli mulai mengalami penurunan jumlah. Martalena mengakui bahwa ikan invasif ini memang dianggap sebagai ancaman, tetapi ia melihat peluang untuk mengubahnya menjadi sumber penghasilan. “Kehadiran produk ini adalah contoh bagaimana tantangan lingkungan bisa diubah menjadi peluang ekonomi kreatif,” ujarnya.
Produk Kerupuk Tayo-Tayo Original, yang mulai dipasarkan, tidak hanya diminati oleh wisatawan, tetapi juga menjadi simbol keberhasilan pemanfaatan sumber daya lokal. Martalena menjelaskan, produksinya saat ini berjalan dengan sistem pre-order (PO) untuk memastikan pasokan tetap stabil. “Kami memulai sistem ini sejak 2023 untuk mengoptimalkan distribusi dan memperluas pasar,” katanya. Dengan pendekatan ini, ia bisa mengontrol jumlah ikan yang digunakan serta memastikan kualitas produk tetap terjaga.
Pemanfaatan Potensi Lokal
Sebelum fokus pada Kerupuk Tayo-Tayo, Martalena pernah menghasilkan rempeyek dan ulos sebagai oleh-oleh khas Toba. “Kami ingin memperkenalkan berbagai bentuk olahan ikan yang bisa dinikmati oleh berbagai kalangan,” katanya. Pemasaran produknya dilakukan melalui media sosial dan dukungan komunitas lokal, yang secara aktif membantu menyebarluaskan informasi tentang bisnis ini. “Dukungan dari Dinas Koperasi dan Inalum sangat berarti untuk mengembangkan UMKM AIVAH,” tambahnya.
Menurut Martalena, keberhasilan produk ini juga dipengaruhi oleh kebutuhan pasar yang terus meningkat. “Saat ini, kami bisa memproduksi sekitar 6 kg ikan per 3-4 bulan. Jika ada kegiatan pemerintah atau permintaan tinggi, produksi bisa mencapai 3 kg per bulan,” katanya. Namun, ia menegaskan bahwa skalabilitas bisnis masih menjadi target utama. “Saya ingin memperluas produksi agar bisa memenuhi permintaan lebih banyak lagi,” ujarnya.
Langkah-Langkah untuk Menekan Populasi Ikan Invasif
Kerupuk Tayo-Tayo yang dihasilkan dari ikan Red Devil diharapkan mampu menekan populasi spesies invasif di Danau Toba. “Semakin banyak produk yang terjual, semakin besar kemungkinan ikan Red Devil tidak lagi mengganggu ekosistem,” katanya. Hal ini sejalan dengan visinya untuk menciptakan produk yang bermanfaat bagi lingkungan dan ekonomi sekaligus. “Kami ingin ikan invasif bukan hanya dianggap sebagai masalah, tetapi juga sebagai peluang,” ujarnya.
Martalena menyebutkan, olahan ikan Red Devil ini sudah menjadi bagian dari identitas kota wisata Balige. “Kehadiran produk olahan dari ikan invasif ini menunjukkan bahwa masyarakat bisa beradaptasi dengan situasi lingkungan sekaligus menghasilkan nilai ekonomi,” katanya. Ia juga berharap inovasi ini bisa menjadi inspirasi bagi pelaku UMKM lain di sekitar Danau Toba. “Saya percaya ada banyak potensi untuk mengolah ikan invasif menjadi makanan yang enak dan bernilai ekonomis,” tambahnya.
Proses Produksi dan Dukungan Komunitas
Dalam memproduksi Kerupuk Tayo-Tayo, Martalena menggambarkan prosesnya sebagai kombinasi antara kehati-hatian dan kreativitas. “Setiap langkah kami lakukan dengan memperhatikan kebersihan dan kualitas bahan baku,” katanya. Meski produk ini tergolong baru, ia menekankan bahwa pengolahan ikan Red Devil telah melalui pengujian berkali-kali untuk memastikan rasa dan tekstur yang optimal. “Kami ingin produk ini tidak hanya memenuhi rasa, tetapi juga menjadi pilihan yang ramah lingkungan,” ujarnya.
Dukungan komunitas lokal menjadi salah satu faktor kunci dalam berkembangnya UMKM AIVAH. Martalena menjelaskan, keberadaan produk ini dianggap sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam menjaga keberlanjutan ekosistem Danau Toba. “Selain itu, komunitas juga memberikan saran untuk menyesuaikan produk agar lebih diminati oleh pasar,” katanya. Dengan berbagai strategi pemasaran, produk Kerupuk Tayo-Tayo kini sudah diakui sebagai oleh-oleh khas dan ikon baru dari daerah ini.
Harapan untuk Pengembangan Berkelanjutan
Martalena berharap, keberhasilan UMKM AIVAH bisa menjadi contoh untuk bisnis lain yang bergerak di bidang pemanfaatan sumber daya alam. “Produk ini tidak hanya membantu mengurangi jumlah ikan Red Devil, tetapi juga memberikan alternatif penghasilan bagi masyarakat sekitar,” katanya. Ia menegaskan bahwa inovasi ini tidak terbatas pada olahan ikan, tetapi juga menjadi bagian dari perubahan menuju ekonomi kreatif yang lebih berkelanjutan.
Kehadiran Kerupuk Tayo-Tayo dari Red Devil dianggap sebagai langkah nyata dalam mengatasi masalah lingkungan sekaligus memperkuat identitas kuliner Danau Toba. “Saya yakin, dengan kesadaran masyarakat dan dukungan pemerintah, produk ini bisa berkembang lebih pesat,” ujarnya. Martalena juga mengungkapkan, ia berencana untuk menambah varian produk dan memperluas jaringan distribusi guna meningkatkan kontribusi pada perekonomian daerah. “Tujuan kami adalah menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan dari semua sumber daya yang ada,” pungkasnya.
“Saya berterima kasih sudah mendapat dukungan kuat dari Dinas Koperasi dan juga Inalum,” katanya. Dukungan ini, katanya, menjadi penunjang penting dalam menjalankan bisnis UMKM AIVAH. “Kami berharap produk Kerupuk Tayo-Tayo bisa semakin mendapat pasar,” tambahnya.
