Intip Rutinitas Viktor Axelsen Setelah Pensiun: Sibuk Bisnis hingga Antar Anak Sekolah!
Intip Rutinitas Viktor Axelsen Setelah Pensiun: Sibuk Bisnis hingga Antar Anak Sekolah!
Intip Rutinitas Viktor Axelsen Setelah Pensiun – JAKARTA — Setelah mengakhiri perjalanan karier yang mengesankan di dunia bulu tangkis, Viktor Axelsen kini tengah menjalani kehidupan baru yang lebih dinamis dan penuh makna. Pemain tunggal putra Denmark ini secara resmi mengumumkan pensiun pada 15 April 2026, menandai akhir dari era cemerlangnya sebagai atlet. Meski tidak lagi berlaga di lapangan, Axelsen tetap aktif dalam berbagai bidang, termasuk dunia bisnis dan pengasuhan keluarga. Kehidupan setelah pensiun bukanlah jalan yang lurus, melainkan perjalanan penuh tantangan dan penuh kebahagiaan.
Kehidupan baru yang lebih beragam dimulai dengan acara Meet and Greet yang berlangsung di The Westin Jakarta pada 24 Mei 2026. Tur regional ini dirancang sebagai perayaan kariernya, dengan tema “Celebrating the Legacy of Viktor Axelsen”. Event tersebut akan dilanjutkan ke Penang, Malaysia, pada 26 Mei 2026, sebagai bentuk apresiasi dari penggemar dan mitra bisnis. Selama acara, Axelsen tidak hanya berbagi pengalaman, tetapi juga menunjukkan bagaimana nilai-nilai olahraga tetap relevan dalam kehidupan pribadinya.
Berkompetisi di panggung terbesar dunia telah mengajarkan saya nilai-nilai seperti disiplin, konsistensi, dan ketangguhan. Nilai-nilai tersebut, menurut Axelsen, tidak hanya berlaku dalam olahraga, tetapi juga dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk bisnis dan keluarga.
Setelah pensiun, Axelsen menjalani hari-harinya dengan lebih banyak fokus pada kehidupan pribadi. Ia mengatakan bahwa saat ini waktu yang paling berharga adalah bersama anak-anak. “Saya mencoba menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan kedua putri saya,” jelasnya. Namun, rutinitas sebagai orang tua tidak menghalangi ia tetap menjalani kegiatan lain. Dalam menjalani hari-hari, Axelsen menyisihkan waktu untuk mengantar putrinya ke penitipan anak atau sekolah. Setelah menyelesaikan tugas tersebut, ia selalu melanjutkan latihan fisik untuk menjaga kebugaran tubuh.
Latihan fisik bukan hanya bagian dari rutinitasnya, tetapi juga cara untuk mempertahankan semangat dan keseimbangan hidup. Axelsen menjelaskan bahwa aktivitas ini membantu ia tetap sehat secara fisik dan mental, meskipun tidak lagi menjadi atlet profesional. “Tubuh yang terjaga dan pikiran yang tajam adalah kunci untuk mengejar berbagai kegiatan setelah pensiun,” ujarnya. Selain itu, latihan tersebut juga menjadi sarana untuk berlatih kembali teknik dasar yang pernah diajarkan selama berkarier di level tertinggi.
Dalam ranah bisnis, Axelsen telah merambah ke berbagai sektor, termasuk teknologi dan olahraga. Sebagai Brand Ambassador, ia aktif mempromosikan produk yang berhubungan dengan olahraga, sementara dalam bisnis teknologi, ia terlibat dalam proyek-proyek inovatif yang menurutnya sangat menantang. “Bisnis mengajarkan saya tentang strategi, kolaborasi, dan tanggung jawab,” katanya. Menurut Axelsen, peralihan dari atlet ke bisnis berjalan mulus karena keterampilan yang dibelajarnya selama bermain bulu tangkis bisa diterapkan dalam dunia usaha.
Rutinitas yang baru ia jalani juga melibatkan menjaga hubungan dengan para mitra kerja. Baginya, kemitraan bukan hanya untuk keuntungan profesional, tetapi juga sebagai bentuk saling dukung dan pembelajaran. “Mitra kerja adalah bagian dari kehidupan yang membentuk identitas saya,” tambahnya. Axelsen menekankan bahwa komunikasi dan kepercayaan adalah dasar utama dalam menjaga hubungan bisnis yang baik. Dalam menjalani bisnis, ia sering berdiskusi dengan tim dan partner untuk memastikan proyek-proyek berjalan lancar.
Menjaga keseimbangan antara kehidupan keluarga dan bisnis menjadi tantangan tersendiri bagi Axelsen. Ia mengungkapkan bahwa jadwal harian terdiri dari tiga bagian utama: waktu bersama anak, kegiatan bisnis, dan latihan. “Setiap hari dimulai dengan menemani putri-putri saya ke sekolah, lalu saya fokus pada bisnis, dan akhirnya menghabiskan waktu untuk olahraga,” ujarnya. Hal ini menunjukkan komitmen tinggi terhadap segala hal yang ia lakukan, termasuk kegiatan yang terlihat sepele.
Dalam wawancara eksklusif dengan media, Axelsen juga menyebutkan bahwa ia ingin menginspirasi generasi muda dalam bidang olahraga dan bisnis. “Saya berharap, kehidupan setelah pensiun bisa menjadi contoh bagaimana seseorang bisa beradaptasi dengan baik di berbagai bidang,” katanya. Ia berencana untuk menggelar workshop tentang manajemen waktu dan motivasi, dengan target peserta dari kalangan atlet dan pelaku usaha. “Masa depan masih terbuka, dan saya ingin terus berkontribusi,” ujarnya dengan optimis.
Axelsen menambahkan bahwa ia masih menjaga semangat kompetitif dalam kehidupan pribadinya. “Meski tidak lagi bermain di lapangan, rasa ingin menang dan berprestasi tetap ada,” katanya. Nilai-nilai ini ia terapkan dalam bisnis, seperti mengambil risiko untuk mengembangkan ide baru atau mengejar target yang lebih tinggi. Ia juga menjelaskan bahwa konsistensi dalam berlatih dan bekerja menjadi kunci keberhasilan, baik dalam olahraga maupun dunia usaha.
Kehidupan pribadi dan profesional yang ia jalani kini memperlihatkan bagaimana seorang atlet mampu menyesuaikan diri dengan peran baru. Dengan usia 33 tahun, Axelsen merasa siap menghadapi tantangan di masa depan. Ia berharap bisa menyeimbangkan antara pengasuhan anak dan pengembangan bisnis, sekaligus memberikan contoh tentang bagaimana karier olahraga bisa menjadi fondasi untuk kesuksesan di bidang lain.
Di samping itu, Axelsen juga aktif dalam kegiatan sosial. Ia terlibat dalam beberapa proyek yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, seperti program pendidikan olahraga untuk anak-anak di daerah pedesaan. “Saya ingin berbagi pengalaman saya untuk membantu anak-anak lain meraih impian mereka,” katanya. Bagi Axelsen, pensiun bukanlah akhir dari perjalanan, tetapi awal dari fase baru yang penuh makna.
Rutinitas yang ia terapkan setelah pensiun menunjukkan bagaimana seorang atlet bisa tetap produktif meskipun tidak lagi menjadi pemain. Dengan kombinasi antara waktu bersama keluarga, kegiatan bisnis, dan latihan, ia menciptakan keseimbangan yang menurutnya ideal. “Setiap hari adalah kesempatan untuk belajar dan berkembang,” ujarnya. Axelsen percaya bahwa pengalaman di lapangan bisa menjadi bekal yang baik untuk menghadapi berbagai bidang.
Pensiun dari bulu tangkis adalah langkah besar, tetapi bagi Axelsen, itu adalah pilihan yang tepat. Ia merasa bahwa hidupnya kini lebih harmonis, karena ia tidak lagi diikat oleh jadwal latihan dan pertandingan yang sering memakan banyak waktu. “Saya bisa menikmati kehidupan pribadi dengan lebih penuh, sekaligus mengejar impian baru,” katanya. Dengan kehidupan yang lebih fleksibel, Axelsen mengatakan ia bisa berkontribusi lebih besar kepada keluarga, bisnis, dan masyarakat.
