Key Strategy: Wamendag: Misi dagang RI ke Tiongkok raih transaksi Rp1,07 triliun

1000350628

Wamendag: Misi Dagang RI ke Tiongkok Raih Transaksi Rp1,07 Triliun

Key Strategy – Jakarta – Dyah Roro Esti Widya Putri, Wakil Menteri Perdagangan Indonesia, mengungkapkan bahwa hasil dari misi dagang yang dijalankan ke Tiongkok mencapai transaksi sebesar 60,3 juta dolar AS, yang setara dengan Rp1,07 triliun. Angka ini, menurutnya, melebihi proyeksi awal sebesar 30 juta dolar AS dan meningkat lebih dari dua kali lipat. Capaian ini diperoleh melalui partisipasi dalam pameran internasional SIAL Shanghai 2026, Senin (18/5/2026), serta diskusi di forum bisnis Indonesia-China yang digelar pada hari berikutnya.

Misi dagang yang dipimpin Wamendag Roro Esti mencakup berbagai upaya untuk meningkatkan hubungan ekonomi dengan Tiongkok. Dalam forum tersebut, beberapa kesepakatan strategis ditandatangani, terutama dalam sektor-sektor yang penting untuk pertumbuhan ekonomi. Nota kesepahaman (MoU) yang dibuat mencakup bidang-bidang seperti pangan olahan, produk kelapa, hasil perikanan, kopi, dan rumput laut. Kesepakatan ini, kata Roro, bertujuan untuk memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global.

“Capaian ini menunjukkan kepercayaan pasar Tiongkok terhadap produk unggulan Indonesia, yang semakin menjadi faktor kunci dalam meningkatkan ekspor nasional,” tambah Wakil Menteri Perdagangan.

Dalam proses tersebut, Wamendag Roro juga memastikan bahwa pelaku usaha Tiongkok menunjukkan antusiasme tinggi untuk menjajaki kerja sama bisnis. Hal ini, dijelaskan Roro, memberi peluang besar bagi pengembangan ekspor dan peningkatan nilai tambah dari produk Indonesia. Pemerintah berharap hasil misi ini bisa menjadi fondasi untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Seiring dengan capaian tersebut, hubungan perdagangan antara Indonesia dan Tiongkok terus menunjukkan tren positif. Data menunjukkan bahwa total perdagangan kedua negara meningkat 7,24 persen sepanjang periode 2021 hingga 2025. Pada 2025 sendiri, ekspor Indonesia ke Tiongkok mencapai 67 miliar dolar AS, menunjukkan peningkatan permintaan yang signifikan terhadap produk-produk Indonesia di pasar Tiongkok.

Tiongkok, sebagai mitra dagang strategis Indonesia, terus menjadi pusat keberhasilan ekspor nasional. Dalam empat bulan pertama tahun 2026, ekspor Indonesia mencapai 66,85 miliar dolar AS, dengan peningkatan yang solid dibandingkan tahun sebelumnya. Pemerintah Indonesia, melalui Wamendag Roro, menekankan bahwa Tiongkok memiliki peran vital dalam mendorong ekonomi kedua negara.

Komitmen Pemerintah untuk Penguatan Kualitas dan Branding

Dalam rangka memperkuat daya saing produk Indonesia di tingkat internasional, pemerintah terus berupaya meningkatkan kualitas barang, memastikan kepatuhan terhadap standar global, serta membangun branding yang lebih kuat. Upaya ini bertujuan agar produk nasional mampu bersaing secara efektif di pasar dunia.

Sebagai contoh, sektor pertanian dan perkebunan menjadi fokus utama. Ekspor produk pertanian Indonesia ke Tiongkok mencapai 1,55 miliar dolar AS pada 2025, dengan pertumbuhan mencapai 10,8 persen dalam lima tahun terakhir. Sementara itu, ekspor makanan olahan Indonesia juga mencatatkan nilai 386,48 juta dolar AS, yang menunjukkan potensi pasar yang tinggi.

“Permintaan pasar Tiongkok terhadap produk Indonesia terus meningkat, memberi peluang besar bagi pengembangan ekspor dan peningkatan kualitas produk,” ujar Wamendag Roro.

Pemerintah Indonesia aktif berkoordinasi dengan otoritas Tiongkok untuk mempercepat akses pasar dan memastikan protokol ekspor yang efisien. Langkah-langkah ini diharapkan bisa mendukung peningkatan ekspor, serta menciptakan lapangan kerja baru di sektor produksi.

Selain itu, Wamendag Roro menyampaikan bahwa komoditas unggulan Indonesia seperti sarang burung walet, kopi, rempah-rempah, hasil perikanan, rumput laut, dan minyak kelapa sawit serta turunannya semakin diminati oleh konsumen Tiongkok. Ini menjadi indikator kuat bahwa kebijakan dagang yang dijalankan Indonesia berhasil menarik minat pasar global.

Di tengah tantangan ekonomi global, ekspor Indonesia tetap menunjukkan pertumbuhan yang konsisten. Dalam tahun 2025, total ekspor mencapai 282,91 miliar dolar AS, naik 6,15 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Roro Esti menilai bahwa hal ini menjadi bukti keberhasilan strategi pemerintah dalam memperluas pasar ekspor.

Misi dagang ke Tiongkok, menurut Roro, adalah bagian dari upaya Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kemitraan ekonomi. “Misi ini menjadi bentuk konkret dari diplomasi perdagangan dan kolaborasi antar pelaku usaha,” ujarnya.

Pelaksanaan forum bisnis dan misi dagang, kata Roro, juga memperkuat kepercayaan investasi dan kerja sama dalam berbagai sektor. Ia menambahkan bahwa dengan tingkat peningkatan ekspor yang signifikan, Indonesia berpotensi memperkuat posisinya sebagai pemain utama di kawasan Asia. “Tiongkok menjadi mitra dagang yang strategis, dan pertumbuhan ekspor bisa menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional,” jelas Wamendag Roro.

Upaya pemerintah terus berlanjut untuk memastikan akses yang lebih mudah bagi produk Indonesia ke pasar Tiongkok. Dengan koordinasi yang lebih intensif, pemerintah berharap bisa mendorong pertumbuhan ekspor, serta meningkatkan daya saing produk nasional. Selain itu, kerja sama di sektor pertanian dan pangan akan menjadi fondasi untuk keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dalam jangka panjang, Roro Esti menilai bahwa hubungan perdagangan dan kemitraan bisnis dengan Tiongkok akan memberikan dampak besar. Tidak hanya meningkatkan ekspor, hal ini juga diharapkan bisa menciptakan lapangan kerja, memperkuat industri dalam negeri, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih seimbang. Dengan dukungan dari berbagai sektor, Indonesia berpotensi menjadi negara dagang yang lebih dominan di Asia dan dunia.

Komitmen terhadap peningkatan kualitas produk dan penyesuaian standar internasional juga menjadi bagian dari strategi pemerintah. Dengan peningkatan daya saing, produk Indonesia diprediksi akan lebih mudah menembus pasar global. Roro Esti menegaskan bahwa langkah-langkah ini adalah bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia sebagai eksporir yang kompetitif.

Misi dagang ke Tiongkok, yang berlangsung dalam beberapa hari, menunjukkan bahwa kerja sama ekonomi antara kedua negara terus berkembang. Dengan berbagai kesepakatan yang telah ditandatangani, pemerintah optimis bahwa kemitraan ini akan memberikan dampak jangka panjang untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Di sisi lain, pertumbuhan ekspor yang solid pada 2025 menjadi indikator keberhasilan kebijakan perdagangan yang dijalankan. Roro Esti menyatakan bahwa ini menunjukkan kemampuan Indonesia dalam menyesuaikan diri dengan dinamika pasar global. Dengan kombinasi kebijakan yang tepat, Indonesia diharapkan bisa menembus pasar ekspor yang lebih luas.

Sebagai kesimpulan, Wamendag