New Policy: Terminal Rambutan gencarkan pilah sampah kurangi beban Bantargebang
Terminal Rambutan Gencarkan Program Pemilahan Sampah untuk Kurangi Beban Bantargebang
New Policy – Jakarta, Rabu — Manajemen Terminal Bus Kampung Rambutan, bekerja sama dengan instansi pemerintah dan polisi, sedang mendorong implementasi program pemilahan sampah sebagai upaya mengurangi volume limbah yang diangkut ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Menurut Revi Zulkarnain, kepala terminal tersebut, langkah ini penting karena sampah yang dihasilkan dari area publik tersebut tidak bisa diabaikan. “Kita perlu melakukan pemilahan dan pengolahan sampah agar tidak semua dibuang ke TPST Bantargebang,” ujarnya.
Kemitraan dengan Pihak Lain
Revi menjelaskan, Terminal Kampung Rambutan sering dikunjungi oleh warga dari berbagai daerah dan latar belakang. Setiap hari, tempat ini menghasilkan sampah dalam jumlah yang cukup besar. Karena itu, diperlukan kerja sama yang lebih intensif antara pengelola terminal dan pihak terkait untuk mengatasi masalah ini. Ia mengapresiasi dukungan dari Kecamatan Ciracas serta Satpel Lingkungan Hidup yang aktif memberikan pendampingan dan edukasi kepada masyarakat.
“Dukungan lintas instansi dapat memperkuat program pengelolaan sampah di Terminal Kampung Rambutan, sehingga berjalan lebih optimal ke depannya,” tambah Revi.
Program ini juga bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan. Selain petugas kebersihan, terminal terus mendorong partisipasi pengunjung untuk memilah sampah sejak awal dan membuangnya tepat tempat. Dengan cara ini, Revi berharap kebersihan serta kenyamanan di area terminal bisa terjaga, memberikan suasana yang lebih sehat bagi penumpang, pedagang, dan pekerja.
Pelatihan dan Keterlibatan Masyarakat
Camat Ciracas, Panangaran Ritonga, menegaskan bahwa keterlibatan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci keberhasilan program ini. Ia mengungkapkan, kawasan terminal merupakan titik aktif dengan volume sampah yang tinggi setiap hari. “Program pemilahan dan pengolahan sampah diharapkan mampu menekan beban sampah yang sampai ke lokasi akhir,” tuturnya.
Kegiatan pemilahan sampah di Terminal Kampung Rambutan dilakukan dengan pendekatan edukasi. Sejumlah peserta, yang terdiri dari perwakilan perusahaan otobus (PO Bus) dan petugas kebersihan, diberikan penjelasan tentang cara memilah sampah organik dan non-organik. Selain itu, mereka juga belajar pengolahan sampah menjadi kompos sebagai bagian dari upaya daur ulang.
Acara ini melibatkan berbagai pihak, termasuk Satpel Lingkungan Hidup Kecamatan Ciracas, Polsek Ciracas, pengurus PO Bus, masyarakat sekitar, serta pekerja di area terminal. Salah satu simbolisasi kegiatan adalah praktik pemilahan sampah menggunakan tong biru oleh pejabat yang hadir. Ritonga menekankan bahwa kehadiran masyarakat lokal sangat berperan dalam memastikan program ini berjalan efektif.
Fasilitas Pendukung
Di kawasan Terminal Kampung Rambutan, telah tersedia fasilitas bank sampah dan pengolahan kompos. Sampah non-organik yang dikumpulkan digunakan untuk program daur ulang, sementara sampah organik diolah menjadi pupuk kompos yang dimanfaatkan untuk menanam tanaman di area tersebut. Fasilitas ini bertujuan memperkuat keberlanjutan pengelolaan lingkungan serta memberikan nilai ekonomis dari limbah.
Program ini tidak hanya fokus pada penanganan sampah, tetapi juga mencakup edukasi berkelanjutan kepada pengunjung. Revi Zulkarnain menjelaskan, selain memilah sampah, pengunjung diharapkan memperhatikan kebersihan lingkungan dan menerapkan prinsip pengurangan penggunaan plastik serta barang berbahaya. “Seluruh elemen harus saling mendukung agar tercapai hasil yang maksimal,” katanya.
Revi menambahkan, TPST Bantargebang menjadi tempat akhir untuk sampah yang tidak bisa didaur ulang. Dengan program pemilahan, diharapkan volume sampah yang masuk ke sana bisa dikurangi. Ia juga menyoroti pentingnya kebersihan lingkungan terminal sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat. “Kawasan terminal yang bersih akan menciptakan lingkungan yang nyaman bagi semua pengguna,” ujarnya.
Selama kegiatan, sekitar 50 peserta hadir untuk mengetahui prosedur pemilahan dan pengolahan sampah. Revi menyebutkan, pelatihan ini juga memperkuat hubungan antara pengelola terminal dengan warga sekitar. Sejumlah masyarakat memanfaatkan TPS di area terminal untuk menyimpan sampah rumah tangga. Dengan adanya program ini, diharapkan warga sekitar lebih sadar mengenai pengelolaan sampah yang baik.
Pemilahan sampah menjadi bagian dari perubahan pola hidup masyarakat. Revi menjelaskan, sampah organik seperti sisa makanan atau daun dapat diolah menjadi kompos yang berguna untuk tanaman. Sementara sampah non-organik seperti plastik atau kertas diangkut ke bank sampah untuk diproses lebih lanjut. Dengan cara ini, limbah tidak hanya dibuang, tetapi dimanfaatkan sebagai sumber daya baru.
Manajemen Terminal Rambutan menegaskan, keberhasilan program ini bergantung pada partisipasi aktif semua pihak. Dukungan dari aparat kepolisian dan pemerintah kecamatan Ciracas berperan penting dalam menjaga disiplin pengelolaan sampah. Revi menyampaikan harapan bahwa inisiatif ini bisa menjadi contoh untuk terminal lain di sekitar Jakarta Timur.
Program pemilahan sampah ini juga menjadi langkah strategis dalam menghadapi tantangan lingkungan. Jumlah sampah yang dihasilkan di Jakarta terus meningkat, sehingga keberadaan TPST Bantargebang menjadi solusi utama. Namun, untuk mengurangi beban, pengelolaan sampah di titik awal sangat diperlukan. Revi berharap dengan kerja sama yang solid, kawasan terminal bisa menjadi contoh lingkungan yang ramah dan berkelanjutan.
