TempatDonasi
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Special Plan: Memahami Penghuni Jakarta Sebenarnya

Published Juni 7, 2026 · Updated Juni 7, 2026 · By Maya Rahman

Memahami Penghuni Jakarta Sebenarnya

Special Plan - Jakarta, kota yang menjadi pusat kehidupan sehari-hari bagi jutaan penduduk, ternyata memiliki identitas yang lebih kompleks dari yang kita bayangkan. Sejarawan JJ Rizal memberikan perspektif menarik dalam talkshow Urban Talks: Jati Diri Jakarta dalam Arus Budaya yang diadakan di Jakarta Future Festival, Taman Ismail Marzuki, pada Jumat, 5 Juni 2026. Menurut Rizal, terdapat dua kategori warga Jakarta yang terbentuk dari dinamika sejarah, yaitu tracker dan believer.

Kategori Penduduk Jakarta: Tracker dan Believer

Rizal menjelaskan bahwa tracker adalah warga yang tidak memiliki ikatan emosional atau identitas kuat terhadap Jakarta. Sebaliknya, believer adalah individu yang merasa kota ini seperti rumah kedua mereka. "Believers memiliki rasa memiliki terhadap Jakarta, seperti merasa ini kampung gue," kata Rizal dalam wawancara. "Sementara tracker tidak peduli pada kota ini, karena mereka tidak merasa terhubung secara mendalam."

"Tracker tidak punya ikatan dengan Jakarta. Believers merasa ini kampung gue."

Menurut Rizal, keyakinan sebagai believer tidak hanya dimiliki oleh masyarakat Betawi, tetapi juga oleh kelompok etnis lain yang sudah lama bermukim di kota ini. "Believers memproduksi kebudayaan dan membangun identitas bersama," tambahnya. "Sementara tracker hanya mengikuti alur kehidupan tanpa berkontribusi pada perubahan budaya atau sosial kota."

Sejarah Jakarta: Dari Batavia ke Kota Multikultural

Jakarta pada awalnya tidak dirancang sebagai sebuah kota, melainkan sebagai pusat perdagangan yang dikenal sebagai Batavia, sebelum diberi nama resmi Jakarta. Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen, tokoh utama VOC, membangun kota ini sebagai tempat pengumpulan keuntungan untuk kepentingan Belanda. "Batavia dipilih karena strategis sebagai markas dagang, bukan untuk menjadi kota yang memadu padamkan identitas berbagai suku," ujar Rizal.

"Jakarta awalnya tak direncanakan sebagai kota, melainkan markas dagang VOC yang diberi nama Batavia."

Kolonialisme Belanda memperkuat identitas kota ini dengan menerapkan kebijakan segregasi berdasarkan ras dan suku. Pada masa itu, Batavia dibagi menjadi wilayah khusus, seperti kampung Jawa, Melayu, Ambon, dan lainnya. VOC, sebagai pihak penguasa, lebih memilih menduduki satu individu sebagai representasi dari kelompok tertentu, sehingga mengabaikan keberagaman lokal. "Mereka enggak pernah mengurus orang Jawa secara langsung, jadi hanya memilih satu kapiten untuk mewakili seluruh kelompok," jelas Rizal.

Perkawinan Budaya dan Identitas Baru

Dalam waktu yang berlangsung, keberagaman budaya di Batavia mulai bercampur. Perkawinan antar suku dan interaksi sosial yang intens membuat identitas warga menjadi lebih terbuka. "Tidak ada lagi orang yang benar-benar memiliki identitas tunggal, karena semua elemen budaya saling memengaruhi," kata Rizal. Pada tahun 1930, pemerintah Belanda akhirnya mengakui keberadaan kelompok baru yang disebut Batavian, sebagai akibat dari proses adaptasi dan integrasi budaya yang terjadi.

Jakarta, sekarang, menjadi simbol dari keberagaman yang tidak terpisahkan. Arif Zulkifli, Direktur Utama Tempo Media, menyoroti bahwa kota ini merupakan tempat pertemuan berbagai unsur budaya, sosial, dan ekonomi. "Kita tidak bisa lagi hanya berbicara tentang Betawi ketika membicarakan Jakarta. Kota ini adalah melting pot yang menggabungkan semua kebudayaan," ujarnya.

"Jakarta adalah kota yang menjadi tempat meleburnya berbagai kebudayaan. Jika bicara tentang Jakarta, kita tidak bisa cuma bicara soal Betawi. Ini adalah melting pot," kata Arif.

Jakarta Future Festival: Wadah Kolaborasi dan Vision

Jakarta Future Festival (JFF) pada tahun 2026 menghadirkan ruang dialog bagi berbagai ide dan suara dari berbagai lapisan masyarakat. Acara ini menampilkan peserta mulai dari anak-anak, remaja, hingga lansia, yang berpartisipasi dalam menyuarakan gagasan, membangun kolaborasi, dan menggali potensi Jakarta di masa depan. Tema utama Navigating Resilience mengajak masyarakat untuk memahami ketangguhan ibu kota sebagai kemampuan adaptasi, integrasi, dan pertumbuhan di tengah perubahan.

JFF berlangsung dari Jumat, 5 Juni hingga Minggu, 7 Juni 2026, dengan lebih dari 500 kolaborator dari berbagai institusi, seperti Kementerian Ekonomi Kreatif, Jalindonesia, Urun Daya Kota Foundation, Georgetown University, RUJAK CUS, Thinkpolicy, IDEAfest, dan ARCH:ID. Seluruh kegiatan dalam festival ini terbuka untuk umum dan dapat diikuti secara gratis dengan mendaftar di jakartafuturefestival.com.

"Jakarta berinteraksi dengan banyak hal, terutama dalam era VOC melalui perdagangan dan budaya. Di era internet sekarang, interaksi ini menjadi lebih luas," kata Arif.

Dari perspektif sejarah hingga kehidupan modern, Jakarta terus berkembang sebagai kota yang dinamis. Perkembangan ini menunjukkan bahwa identitas warga tidak hanya dipengaruhi oleh asal-usul mereka, tetapi juga oleh interaksi sehari-hari, pendidikan, dan lingkungan sosial yang melibatkan berbagai latar belakang. Festival Jakarta Future Festival 2026 menjadi salah satu wujud dari upaya menjaga keberlanjutan identitas kota ini di tengah arus perubahan global.

Dengan menampilkan berbagai perspektif, JFF berupaya membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya kerja sama dan adaptasi. Kota yang selama ini dikenal sebagai pusat administrasi juga menunjukkan kemampuan untuk menjadi sentral inovasi. "Jakarta bukan hanya kota yang dibangun, tetapi juga kota yang terus berkembang melalui partisipasi warganya," pungkas Arif.