Topics Covered: Kesenjangan pemberitaan tentang perubahan iklim di daerah masih tinggi
Kesenjangan Pemberitaan tentang Perubahan Iklim di Daerah Masih Tinggi
Topics Covered – Makassar menjadi pusat pembahasan mengenai perbedaan dalam menghadirkan isu perubahan iklim melalui media lokal. Dalam sebuah studi yang dilakukan secara bersama oleh Monash Climate Communication Hub (MCCH), Australia-Indonesia Centre (AIC), dan Universitas Hasanuddin (Unhas), terungkap bahwa kesenjangan dalam pemberitaan tentang perubahan iklim masih signifikan. Dalam sebuah wawancara di Makassar, Rabu, Amelia Pearson, Operation Manager and Science Communicator MCCH, menjelaskan bahwa media daerah sering kali kurang menyelidiki hubungan antara fenomena cuaca ekstrem dengan aktivitas manusia yang menjadi penyebab utama perubahan iklim.
Temuan Utama Kajian
Menurut Amelia, perhatian media lokal lebih cenderung tertuju pada dampak bencana alam dan cara penangannya, daripada pada akar masalah yang mengarah ke perubahan iklim jangka panjang. Ia menekankan bahwa pengetahuan jurnalis mengenai isu iklim dan energi belum cukup memadai untuk menangani peliputan yang semakin rumit. Faktor penyebab utama kesenjangan ini, kata Amelia, adalah minimnya pelatihan yang diberikan kepada para jurnalis mengenai konsep-konsep terkini terkait perubahan iklim.
“Salah satu indikasi kesenjangan pemberitaan ini adalah media lokal masih jarang mengaitkan cuaca ekstrem dengan perubahan iklim akibat aktivitas manusia,” ujarnya.
Dalam studi tersebut, data menunjukkan bahwa hanya sekitar lima persen dari informasi yang digunakan dalam laporan berita mengenai perubahan iklim berasal dari sumber ilmiah seperti ilmuwan atau pakar. Sementara itu, mayoritas informasi masih bergantung pada sumber pemerintah dan dunia usaha, masing-masing menyumbang 45 persen dan 40 persen dari total konten yang dikaji. Hal ini menunjukkan bahwa perspektif ilmiah dan kepentingan masyarakat yang terdampak perubahan iklim belum mendapat perhatian yang cukup dalam narasi media.
Kegiatan Program Pelatihan Iklim
Berdasarkan temuan tersebut, MCCH, AIC, dan Unhas meluncurkan program “Supporting Climate Reporting in Indonesian Newsroom” untuk meningkatkan kapasitas jurnalis dalam menggali isu perubahan iklim. Program ini menargetkan 15 peserta dari Sulawesi Selatan, yang akan mengikuti serangkaian kegiatan. Mulai dari diskusi akademis di Makassar, peserta juga diberi kesempatan mengunjungi lokasi fisik seperti kampung pesisir Laikang di Kabupaten Takalar. Di sana, mereka langsung melihat tantangan yang dihadapi masyarakat, seperti kesulitan nelayan dan petani rumput laut akibat perubahan iklim.
Salah satu aktivitas utama dalam program ini adalah pelatihan intensif di Melbourne, yang dilakukan bersama para ahli dari Monash University. Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya belajar tentang teknik jurnalistik berbasis solusi, tetapi juga berdiskusi dengan peneliti dan jurnalis Australia terkait cara menyajikan isu iklim secara lebih mendalam dan objektif. Amelia Pearson menilai bahwa kegiatan ini membuka ruang bagi jurnalis untuk mengembangkan keterampilan dalam mengolah data dan berkomunikasi dengan sumber ilmiah.
Hasil Kajian dan Langkah Penguatan
Studi ini juga menyoroti bahwa sebagian besar pemberitaan iklim di Indonesia tergantung pada pihak pemerintah dan dunia usaha, sehingga kurang mencerminkan gambaran lengkap tentang penyebab dan dampak perubahan iklim. Dalam konteks ini, masyarakat yang terdampak langsung dan penelitian ilmiah masih menjadi sumber yang kurang diperhatikan. Amelia Pearson menambahkan bahwa keberhasilan program ini berpotensi mengurangi kesenjangan tersebut dengan memperkuat jaringan antara media dan komunitas ilmiah.
Kolaborasi ketiga lembaga ini dianggap sebagai langkah strategis untuk memperbaiki cara media meliput perubahan iklim. Dengan mengajak jurnalis memahami konsep dasar, mengakses data penelitian, serta berinteraksi langsung dengan ahli, program ini bertujuan menciptakan liputan yang lebih berimbang dan informatif. Lebih lanjut, Amelia menyatakan bahwa minat para jurnalis terhadap isu iklim cukup tinggi, tetapi mereka membutuhkan akses yang lebih mudah terhadap informasi ilmiah dan data terpercaya untuk meningkatkan kualitas berita.
Perspektif Jurnalis dan Masyarakat
Hasil kajian menunjukkan bahwa media lokal cenderung mengabaikan sudut pandang ilmiah dalam menyajikan isu perubahan iklim. Meski masyarakat dan pakar masih menjadi bagian dari narasi, kontribusinya terbatas. Amelia Pearson mengkritik hal ini, menekankan bahwa sumber daya manusia dan data ilmiah yang relevan perlu lebih diperhatikan agar peliputan bisa memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh. Ia berharap program ini akan menjadi fondasi untuk mengubah pola pemberitaan di daerah, sehingga lebih banyak orang dapat memahami hubungan antara aktivitas manusia dan dampak lingkungan.
Program pelatihan tersebut juga dirancang untuk meningkatkan kepercayaan diri jurnalis dalam menghadirkan berita yang berbasis data dan bisa diakses oleh publik. Dengan adanya pelatihan di Melbourne, peserta memiliki kesempatan belajar dari praktisi internasional yang berpengalaman. Selain itu, kunjungan lapangan ke Laikang memberikan gambaran nyata tentang bagaimana perubahan iklim mengubah kehidupan masyarakat setempat. Amelia Pearson menegaskan bahwa aktivitas ini penting untuk memperkaya wawasan jurnalis dan memastikan peliputan yang lebih akurat.
Harapan dan Perkembangan Selanjutnya
Dalam upaya memperkuat keterlibatan jurnalis dan komunitas ilmiah, kolaborasi antara MCCH, AIC, dan Unhas diharapkan mampu menjadi model yang bisa diikuti oleh lembaga media lain. “Program ini tidak hanya meningkatkan kompetensi para jurnalis, tetapi juga membangun hubungan yang lebih kuat antara media dan ilmuwan,” ujarnya. Selain itu, keberhasilan penelitian ini bisa menjadi dasar untuk mengembangkan program serupa di wilayah lain, sehingga kesenjangan dalam pemberitaan iklim bisa diperkecil secara bertahap.
Kesenjangan pemberitaan tentang perubahan iklim, menurut Amelia Pearson, tidak hanya memengaruhi kemampuan media dalam menyampaikan informasi, tetapi juga memengaruhi kesadaran publik akan isu yang semakin kritis ini. Dengan menggali lebih dalam, jurnalis diharapkan bisa memainkan peran penting dalam menyebarkan pengetahuan dan mendorong tindakan nyata. Program pelatihan yang dilakukan di Makassar dan Melbourne dianggap sebagai langkah awal dalam mewujudkan hal tersebut.
Kehadiran para jurnalis di laikang, kampung pesisir yang terdampak perubahan iklim, menjadi bukti bahwa mereka mampu menjangkau berbagai aspek nyata dari isu yang dianggap abstrak oleh sebagian orang. Dengan kegiatan yang beragam, mulai dari pelatihan hingga kunjungan lapangan, program ini mencoba menggabungkan teori dan
