Special Plan: Kisah Mbah Marsiyah, Lansia Kediri Naik Haji dari Tabungan Kaleng Bekas

mbah_marsiyah-81jf_large

Kisah Mbah Marsiyah, Lansia Kediri Naik Haji dari Tabungan Kaleng Bekas

Special Plan – Makkah menjadi tempat tiba Mbah Marsiyah, seorang lansia dari Kabupaten Kediri, Jawa Timur, setelah menempuh perjalanan panjang dari tanah air. Usia 105 tahun membuatnya menjadi perhatian khusus dari petugas haji, yang langsung memberikan pendampingan intensif sejak ia tiba di kota suci pada Jumat pagi, 22 Mei 2026. Ia mengikuti rombongan kelompok terbang (Kloter) SUB 112, dan perjalanan tersebut dianggap sebagai pencapaian luar biasa setelah bertahun-tahun menabung demi mewujudkan impian berhaji.

Mbah Marsiyah, yang tinggal di Desa Bulu, terkenal dengan keuletannya dalam menyisihkan uang hasil usaha kecilnya. Sejak usia senja, ia aktif berjualan jenang dan bubur di depan rumah. Keuntungan dari usaha ini ia tabung secara berkelanjutan, bahkan menyimpan uang dalam kaleng bekas yang ditaruh di lemari. Kaleng tersebut menjadi simbol perjuangannya, karena ia tak pernah mengabaikan kebiasaan menabung, meski di tengah usia yang sudah sangat tua.

Kedatangan Mbah Marsiyah di Makkah disambut hangat oleh petugas haji, yang memastikan kenyamanannya sejak turun dari bus. Usai perjalanan yang berlangsung hampir sehari, ia dipindahkan ke kursi roda untuk menghindari rasa lelah. Hal ini dilakukan agar ia bisa menjalani ritual ibadah dengan tenang, tanpa hambatan fisik. Kursi roda tersebut menjadi alat bantu yang membantu ia berjalan di kota suci yang terkenal dengan panas dan kepadatannya.

Kisah Mbah Marsiyah menunjukkan betapa pantang menyerahnya seorang lansia dalam mengejar tujuan spiritual. Ia mendaftar ke program haji pada 2021, lalu diberi kesempatan lebih cepat melalui mekanisme prioritas usia. Meski usianya sudah melebihi seratus tahun, semangatnya tak pernah padam. Ia tak hanya memenuhi syarat ibadah, tetapi juga memperlihatkan bagaimana perjuangan bisa diwujudkan dengan konsistensi dan keinginan yang kuat.

Perjalanan ini terasa sangat berarti bagi Mbah Marsiyah, yang selama ini mimpikan menjalani ibadah haji. Ia mengakui bahwa uang yang diperoleh dari jualan jenang dan bubur menjadi sumber utama tabungan. “Kaleng itu jadi tempat menabung, bisa dipakai untuk membeli bahan-bahan,” ujarnya dengan penuh rasa syukur. Setiap hari, ia berjualan dengan sabar, meski di depan rumahnya yang sederhana. Ia tak hanya melayani pelanggan, tetapi juga menjaga konsistensi dalam menyisihkan sebagian hasil usaha untuk kebutuhan besar.

“Uangnya ditabung di kaleng, di lemari, uang hasil penjualan bubur. Jualan di depan rumah, ada pohon sawo,” ujar Mbah Marsiyah haru kepada Tim Media Center Haji.

Kehadiran Mbah Marsiyah di Makkah menjadi bahan perbincangan bagi para jemaah haji lainnya. Banyak yang terkesan dengan ketekunannya, terutama dalam memanfaatkan sumber daya terbatas. Uang tabungan dari kaleng bekas yang dipakai sebagai wadah menunjukkan bagaimana seorang lansia mampu mengatur keuangan dengan bijak, meski di tengah usia yang sudah sangat lanjut. Cerita ini juga menginspirasi generasi muda untuk lebih menekankan pentingnya tabungan dan kerja keras.

Sebelumnya, Mbah Marsiyah dikenal sebagai sosok yang tak pernah merasa lelah. Ia tetap aktif berjualan meski usianya sudah memasuki abad pertama. Dengan bantuan keluarga dan tetangga, ia mampu menabung secara bertahap hingga akhirnya bisa mewujudkan impian yang selama ini diidamkannya. Di sisi lain, perjalanan ke Makkah juga membawa pengaruh besar terhadap pola hidupnya, karena ia bisa merasakan keberkahan hasil usaha yang telah ia lakukan bertahun-tahun.

Kisah Mbah Marsiyah menyoroti pentingnya program prioritas lansia dalam penyelenggaraan haji. Dengan adanya mekanisme tersebut, banyak lansia seperti ia bisa berangkat lebih cepat, tanpa harus menunggu antrian panjang. Ini memberikan kesempatan untuk menyelesaikan tujuan spiritual, yang bisa menjadi pemicu semangat hidup dan kebahagiaan bagi para lansia.

Pengalaman yang dialami Mbah Marsiyah menjadi contoh nyata bagaimana konsistensi dalam menabung bisa membuahkan hasil yang luar biasa. Dengan uang dari kaleng bekas, ia tak hanya membiayai perjalanan haji, tetapi juga menciptakan cerita inspiratif yang akan dikenang. Ia mengatakan bahwa setiap rupiah yang ia tabung merupakan pengorbanan yang ia lakukan demi menyatukan langkah menuju Makkah. “Saya tak pernah menyerah, meski harus berjualan di depan rumah,” imbuhnya dengan senyum tulus.

Di tengah usia yang sudah sangat lanjut, Mbah Marsiyah tetap menjaga kebugaran fisiknya. Meski di atas usia 100 tahun, ia masih mampu berjalan, memasak, dan menjual makanan secara rutin. Ini menunjukkan bahwa usia tidak selalu menghalangi seseorang untuk mengejar tujuan hidupnya. Ia menjadi panutan bagi banyak orang, termasuk tetangganya, yang terus mendukung usaha kecilnya.

Keberhasilan Mbah Marsiyah dalam menunaikan ibadah haji menjadi bukti bahwa keinginan dan kerja keras bisa terwujud, bahkan di usia yang sudah sangat tua. Dengan menggunakan kaleng bekas sebagai wadah tabungan, ia menciptakan cara yang unik dan sederhana untuk mencapai tujuan besar. Cerita ini tak hanya menginspirasi, tetapi juga mengingatkan kita untuk tetap bersyukur atas setiap hal yang bisa diwujudkan melalui usaha dan ketekunan.