Penjualan Pertamax Diprediksi Turun 10 Persen
Penjualan Pertamax Diprediksi Turun 10 Persen – Menurut Yayan Satyakti, dosen ekonomi di Universitas Padjadjaran, sekitar 10 persen pengguna bahan bakar minyak (BBM) Pertamax diperkirakan akan beralih ke Pertalite akibat kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi tersebut. Proyeksi ini didasarkan pada pengalaman sebelumnya pada April 2022, ketika Pertamax mengalami kenaikan 39 persen dan sekitar satu dari delapan konsumen memilih beralih ke Pertalite.
“Belajar dari situasi April 2022, ketika harga Pertamax melonjak 39 persen dan sejumlah konsumen memutuskan pindah ke Pertalite, kami memperkirakan penurunan penjualan Pertamax sekitar 10 persen,” kata Yayan, seperti dilaporkan Antara, Ahad, 14 Juni 2026.
Analisis Yayan menunjukkan, meski harga Pertamax meningkat, masyarakat tidak mengurangi frekuensi penggunaan kendaraan, tetapi beralih ke Pertalite yang lebih terjangkau. Perubahan ini dipicu oleh selisih harga yang signifikan antara dua jenis BBM tersebut. Harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter, sementara Pertalite tetap stabil di Rp 10.000 per liter.
“Perbedaan harga mencapai Rp 6.250 per liter, jumlahnya cukup besar. Namun, kuota Pertalite masih mencukupi untuk menampung perpindahan ini. Hanya sekitar sepertiga dari total kuota yang akan digunakan,” ujar Yayan.
Kenaikan harga Pertamax juga berdampak berbeda pada berbagai lapisan masyarakat, menurut sistem klasifikasi desil yang digunakan pemerintah. Pemilik kendaraan bermotor yang mengisi 100 liter per bulan harus mengalami kenaikan biaya sekitar Rp 395 ribu. Sementara pengendara sepeda motor yang menghabiskan 30 liter per bulan menghadapi tambahan anggaran Rp 119 ribu.
Yayan menguraikan pengaruh kenaikan harga BBM ini secara mendetail berdasarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Untuk kelompok rumah tangga Desil 1—yang termasuk dalam kategori terendah—pengaruhnya minimal karena hampir tidak mengandalkan Pertamax. Sebaliknya, kelompok Desil 5-7 (kelas menengah) berpotensi mengalami perubahan pola konsumsi. Mereka mungkin memilih Pertalite untuk menghemat pengeluaran.
Kelompok menengah atas, Desil 8-9, dianggap lebih terkena dampaknya karena penggunaan kendaraan bermotor yang lebih rutin. Sementara itu, Desil 10—yang mencakup rumah tangga terkaya—diperkirakan menanggung beban terbesar. Hal ini terjadi karena armada perusahaan, kendaraan operasional perkebunan, dan tambang dilarang menggunakan BBM bersubsidi. Yayan menekankan bahwa kenaikan Pertamax berfungsi seperti pajak yang lebih menguntungkan pengguna kendaraan bermotor.
“Singkatnya, sekitar separuh dari total beban kenaikan ini akan ditanggung oleh 20 persen rumah tangga terkaya. Kenaikan harga Pertamax menguntungkan kelompok yang memiliki kemampuan ekonomi lebih tinggi,” ungkap Yayan.
Dalam rangka mengatasi kekhawatiran mengenai kelangkaan Pertalite, PT Pertamina Patra Niaga memberikan penjelasan bahwa stok BBM tersebut tetap aman dan distribusinya berjalan normal. Perusahaan memastikan bahwa jaringan SPBU tetap melayani kebutuhan masyarakat tanpa hambatan.
“Kami mengimbau masyarakat untuk bijak dalam penggunaan energi dengan membeli BBM sesuai kebutuhan, jenis kendaraan, dan peruntukan yang diberlakukan. Pertalite tidak akan mengalami kehabisan stok, baik di daerah perkotaan maupun pedesaan,” tutur Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun.
Yayan menyoroti bahwa perpindahan konsumen ke Pertalite merupakan respons alami terhadap perubahan harga. Namun, ia juga memperingatkan bahwa dampak ekonomi dari kenaikan Pertamax tidak hanya terbatas pada pengguna pribadi. Perusahaan transportasi, industri logistik, dan sektor-sektor yang memanfaatkan kendaraan bermotor reguler juga terlibat dalam perubahan ini. Meski tidak semua konsumen memperhatikan perbedaan harga, Yayan memperkirakan bahwa kebijakan ini akan berdampak signifikan pada struktur penggunaan BBM secara keseluruhan.
Kenaikan harga Pertamax menurut Yayan juga memperlihatkan bagaimana subsidi BBM berperan sebagai alat pengatur. Kebijakan ini diperkirakan lebih banyak menyerap biaya dari kelompok mampu, terutama Desil 10, yang dianggap memiliki kapasitas finansial untuk mengakui kenaikan harga. Sementara kelompok Desil 5-7 memperlihatkan fleksibilitas dalam memilih BBM, mereka masih bisa mengalihkan penggunaan ke Pertalite tanpa mengganggu operasional sehari-hari.
Menurut Yayan, kebijakan penyesuaian harga Pertamax berdampak pada perubahan perilaku konsumen. Meski masyarakat tidak mengurangi kebutuhan transportasi, mereka mulai mempertimbangkan alternatif yang lebih murah. Fenomena ini mengisyaratkan bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi bisa memicu migrasi konsumen ke BBM subsidi, terutama di daerah-daerah dengan kemampuan ekonomi terbatas.
Yayan juga memprediksi bahwa dampak ini akan lebih terasa di kalangan usaha kecil dan menengah. Mereka mungkin mengalami tekanan biaya operasional yang lebih besar, terutama jika kendaraan bermotor mereka dulu bergantung pada Pertamax. Perusahaan-perusahaan ini mungkin memilih membeli Pertalite untuk menekan biaya produksi, meski kualitas bahan bakar lebih rendah.
Dalam konteks ini, kenaikan harga Pertamax tidak hanya mengubah pola konsumsi individu, tetapi juga memengaruhi dinamika ekonomi makro. Yayan memperkirakan bahwa perpindahan
