Sederet BEM Kampus yang Dicatut Jadi Bagian BEM Bersatu
Historic Moment – Kemunculan aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Bersatu telah menciptakan pernyataan sikap yang signifikan dari berbagai organisasi mahasiswa di berbagai universitas. Dalam deklarasi tersebut, sejumlah kampus mempertanyakan penggunaan identitas organisasi mereka tanpa izin. BEM Bersatu sendiri mengklaim bahwa mobil yang digunakan oleh Tiyo Ardianto, eks Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), diduga terdaftar atas nama Siti Nuraini, adik dari Letnan Jenderal TNI (Purnawirawan) Setyo Sularso. Menurut pernyataan BEM Bersatu, Tiyo memiliki keterkaitan dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) melalui hubungannya dengan Jenderal TNI (Purnawirawan) Andhika Perkasa. Historic Moment ini menjadi sorotan karena menggambarkan dinamika keanggotaan organisasi mahasiswa yang kompleks.
Perkembangan Aksi Pernyataan Sikap
Aliansi BEM Bersatu, yang dianggap sebagai bentuk kekompakan antar BEM kampus, telah mengeluarkan pernyataan sikap terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis. Aksi ini menimbulkan kontroversi karena beberapa organisasi mahasiswa menganggap diri mereka menjadi korban pencatutan. Meski PDIP membantah terlibat langsung dalam aksi kritik tersebut, mereka tetap menjadi subjek penasaran. Historic Moment ini juga menarik perhatian media dan masyarakat karena melibatkan aliansi yang mencakup berbagai fakultas dan universitas.
Menyusul deklarasi BEM Bersatu, sejumlah perwakilan kampus menolak klaim keanggotaan mereka. Mereka menyatakan bahwa identitas organisasi masing-masing tidak disalahgunakan, serta menegaskan bahwa keputusan untuk tergabung dalam aliansi tersebut didasarkan pada kesepakatan internal. Historic Moment ini menunjukkan bagaimana pengaruh individu atau partai politik bisa memengaruhi dinamika organisasi mahasiswa yang awalnya dianggap independen.
Reaksi dari BEM Fakultas Teknik dan Informatika BSI
Aliansi BEM Bersatu menuduh BEM Fakultas Teknik dan Informatika (FTI) Universitas Bina Sarana Informatika (BSI) sebagai bagian dari organisasi mereka. Namun, BEM FTI BSI menyangkal klaim tersebut dalam pernyataan resmi yang diterbitkan pada Rabu, 17 Juni 2026. Mereka menjelaskan bahwa tidak ada perwakilan atau anggota mereka yang menghadiri konferensi pers BEM Bersatu. Historic Moment ini memperlihatkan ketegasan BEM FTI BSI dalam mempertahankan kemandirian organisasi.
“BEM FTI UBSI tidak pernah memberikan mandat kepada pihak manapun untuk mewakili organisasi dalam kegiatan tersebut,” tulis pernyataan mereka dalam akun Instagram @bemftiubsi. Historic Moment ini juga menjadi momentum untuk menegaskan pengelolaan internal BEM yang transparan.
Penolakan dari BEM Fakultas Psikologi UNJ
BEM Fakultas Psikologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) juga menolak klaim keanggotaan dalam BEM Bersatu. Mereka menegaskan bahwa Ahmad Ghazy, anggota BEM mereka, dianggap sebagai perwakilan yang tidak sah. Historic Moment ini menyoroti masalah etika dalam penggunaan identitas organisasi. Pihak UNJ menyatakan bahwa tindakan maupun pandangan Ahmad Ghazy merupakan tanggung jawab pribadi, bukan keputusan kolektif dari organisasi.
“Tindakan maupun pandangan yang disampaikan merupakan tanggung jawab pribadi pihak tersebut,” demikian keterangan mereka dalam akun Instagram @bemfpsiunj. Historic Moment ini juga menjadi bahan diskusi di kalangan mahasiswa tentang kepercayaan terhadap perwakilan organisasi.
Penolakan dari FISIP Universitas Nasional
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Nasional (Unas) menyatakan bahwa Ardin Zulkifly, yang dianggap sebagai Ketua BEM FISIP Unas, tidak memiliki kapasitas resmi untuk mewakili fakultas dalam BEM Bersatu. Historic Moment ini mengungkapkan ketidaksepahaman antara pihak dalam dan luar aliansi terkait keanggotaan. Unas menegaskan bahwa Ardin tidak diberi wewenang untuk menjadi perwakilan, sehingga penggunaan nama fakultasnya dalam BEM Bersatu dianggap tidak sah.
“(Dia) tidak memiliki kapasitas kelembagaan untuk mewakili FISIP Universitas Nasional berdasarkan jabatan dimaksud,” terang pihak Unas dalam pernyataan resmi. Historic Moment ini menjadi contoh nyata bagaimana perbedaan pandangan dalam organisasi mahasiswa bisa memicu perdebatan yang panjang.
Pendapat dari BEM FIPPS Unindra
BEM Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial (FIPPS) Unindra menolak klaim bahwa Dicky, alumni angkatan 2020, menjadi perwakilan mereka dalam BEM Bersatu. Historic Moment ini menunjukkan bahwa penggunaan nama alumni sebagai anggota aktif bisa menimbulkan kesalahpahaman. BEM FIPPS Unindra menegaskan bahwa Dicky tidak tergabung dalam pengurus atau anggota BEM tahun ini. Mereka menyatakan bahwa segala tindakan dan pernyataan yang dilakukan Dicky merupakan tanggung jawab pribadi.
“Segala tindakan, pernyataan, maupun konsekuensi yang ditimbulkan merupakan tanggung jawab pribadi pihak yang bersangkutan,” kata BEM FIPPS Unindra dalam keterangan resmi. Historic Moment ini menyoroti pentingnya transparansi dalam pengelolaan organisasi mahasiswa.
Sebagai penutup, Historic Moment yang dianggap sebagai aliansi BEM Bersatu telah memicu respons yang beragam dari berbagai kampus. Meskipun ada pihak yang menyetujui keanggotaan, banyak organisasi mahasiswa tetap bersikeras menjaga kemandirian mereka. Historic Moment ini menjadi bahan evaluasi terhadap mekanisme pengambilan keputusan dalam BEM dan dampaknya terhadap hubungan internal. Pernyataan dari masing-masing kampus menegaskan bahwa klaim keanggotaan dalam BEM Bersatu perlu dibuktikan dengan data yang jelas dan transparan.
