Nasional

Meeting Results: BNPB: Ada Potensi Banjir Bandang di Lokasi Gempa Sigi

BNPB: Potensi Banjir Bandang Terdeteksi di Wilayah Gempa Sigi BNPB Ingatkan Risiko Banjir Bandang di Area Terdampak Meeting Results - Kepala Badan Nasional

Desk Nasional
Published Juni 20, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

BNPB: Potensi Banjir Bandang Terdeteksi di Wilayah Gempa Sigi

BNPB Ingatkan Risiko Banjir Bandang di Area Terdampak

Meeting Results – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letnan Jenderal Suharyanto, mengingatkan pemerintah setempat untuk segera mengambil langkah pencegahan guna menghindari ancaman banjir bandang di daerah yang terkena gempa di Sulawesi Tengah. Peringatan ini disampaikan dalam rapat koordinasi penanganan darurat yang diadakan di Posko Lapangan Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi, pada Jumat, 19 Juni 2026. Suharyanto menyatakan bahwa hasil pemantauan menggunakan drone menunjukkan adanya 24 titik longsoran di berbagai daerah perbukitan. Dari jumlah tersebut, empat titik ditemukan mengalami penumpukan material akibat longsoran yang terjadi. “Karena air hujan tertahan di lokasi yang terisolasi, risiko banjir bandang bisa meningkat jika curah hujan terus berlanjut. Maka dari itu, kita sepakat untuk menggali bagian-bagian yang tersumbat dengan bantuan pompa alkon,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterbitkan pada hari yang sama.

BNPB dan Pemerintah Daerah Kolaborasi Tangani Darurat

Pada rapat tersebut, Suharyanto menegaskan bahwa langkah darurat telah diambil secara efektif. BNPB bekerja sama dengan pemerintah setempat telah menyetujui strategi pemantauan rutin serta pembukaan jalur aliran air dengan pompa alkon untuk mencegah terbentuknya bendungan alami yang bisa mengancam wilayah sekitar. BNPB mengungkapkan bahwa Kabupaten Sigi menjadi wilayah paling terkena dampak akibat gempa tersebut. Sampai saat ini, terdapat tiga korban jiwa yang dilaporkan meninggal akibat bencana. Dalam proses pemulihan yang masih berlangsung, BNPB terus memastikan kebutuhan dasar masyarakat, termasuk fasilitas ibadah sementara, segera terpenuhi.

Titik-Titik Longsoran Menjadi Fokus Pemantauan

Selama rapat, Suharyanto menyoroti beberapa titik longsoran yang memperparah situasi di daerah terdampak. Dari total 24 titik, empat di antaranya menimbulkan risiko tinggi karena penyumbatan material yang menghambat aliran air. “Kita perlu memastikan air hujan tidak menggenang di sana-sini, karena hal itu bisa memicu banjir bandang jika kondisi cuaca memburuk,” tambahnya. Keputusan untuk membuka bagian yang tersumbat melibatkan operasi penggalian menggunakan pompa alkon, yang diharapkan dapat mengalirkan air secara cepat. Suharyanto menilai bahwa respons darurat hingga hari keempat pasca-gempa berjalan cukup cepat, terutama dalam pembangunan tenda pengungsian di dekat permukiman warga. “Pembangunan tenda berjalan baik dan sudah memenuhi kebutuhan warga. Ini dilakukan sebagai antisipasi gempa susulan yang mungkin terjadi,” jelasnya.

Pemantauan Terus Dilakukan untuk Cegah Risiko

BNPB menekankan pentingnya pengawasan terus-menerus terhadap titik-titik longsoran. Selain itu, pihaknya juga menyalurkan berbagai bantuan logistik, seperti tenda pengungsi, tenda keluarga, sembako, matras, selimut, dan kasur lipat. Selain itu, tenda untuk tempat ibadah sementara telah disiapkan guna memastikan kebutuhan spiritual warga terdampak tetap terpenuhi. Kepala BNPB menyampaikan bahwa timnya masih berada di lokasi untuk mendampingi upaya penanganan darurat serta memantau perkembangan potensi bencana lanjutan. “Kami berkomitmen untuk terus memantau kondisi secara berkala, terutama risiko banjir bandang akibat longsoran yang belum sepenuhnya teratasi,” tutur Suharyanto.

Bencana Gempa Mengguncang Wilayah Sigi

Gempa berkekuatan magnitudo 6,7 yang terjadi pada Selasa, 16 Juni 2026, tidak hanya merusak bangunan warga dan fasilitas umum, tetapi juga memicu longsoran di beberapa lereng perbukitan. Dampaknya, akses ke beberapa area menjadi terbatas, sehingga pemantauan harus dilakukan secara intensif. BMKG mencatat hingga Kamis, 18 Juni 2026, telah terjadi 703 gempa susulan. Dari jumlah tersebut, 25 gempa masih terasa oleh masyarakat, sehingga sebagian warga memilih untuk tetap tinggal di tenda pengungsian. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah telah menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari, mulai 17 hingga 23 Juni 2026, untuk mempercepat penyaluran bantuan dan penanganan efek bencana.

Kondisi Wilayah dan Pertimbangan Cuaca

Selain memimpin rapat, Suharyanto juga melakukan inspeksi langsung ke beberapa area yang terdampak, seperti Desa Sejahtera, Kecamatan Palolo, dan Desa Kamarora, Kecamatan Nokilalaki. Dalam kunjungan tersebut, ia memastikan bahwa kebutuhan warga, seperti makanan, air minum, dan perlengkapan perawatan, telah tercukupi. Pemantauan cuaca terus menjadi faktor penting dalam perencanaan mitigasi. Suharyanto menekankan bahwa hujan deras bisa memperparah kondisi jika tidak diantisipasi dengan baik. “Kami berharap masyarakat tetap waspada dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar tenda pengungsian untuk mencegah penyebaran penyakit,” katanya.

Langkah-Langkah Penanganan Darurat

Upaya penanganan darurat berupa tenda pengungsian dan pembukaan jalur air terus dilakukan secara bertahap. BNPB menegaskan bahwa langkah ini tidak hanya untuk menjaga keamanan warga, tetapi juga untuk meminimalkan risiko terjadinya banjir bandang. “Pemerintah daerah dan BNPB berupaya sebaik mungkin untuk memberikan perlindungan segera kepada warga yang terdampak,” ujar Suharyanto. Para petugas juga berkoordinasi dengan pihak setempat guna memastikan aksesibilitas dan kebutuhan dasar terpenuhi. “Selama tujuh hari status darurat, bantuan logistik akan terus dikirimkan, termasuk perlengkapan untuk kegiatan sehari-hari warga,” tambahnya.

Risiko Banjir Bandang Menjadi Fokus Utama

Dalam beberapa hari terakhir, BNPB memantau terus-menerus potensi ancaman banjir bandang yang bisa muncul dari titik longsoran di perbukitan. Pemantauan ini dilakukan dengan memanfaatkan drone dan tim lapangan guna mempercepat respons. Suharyanto menegaskan bahwa pemerintah daerah telah menunjuk titik-titik yang paling rentan terhadap banjir bandang untuk menjadi prioritas. “Kami yakin dengan langkah yang diambil, risiko ancaman bisa diminimalkan,” ujarnya.

Pemulihan Berjalan Lancar Meski Tantangan Masih Ada

Meski proses pemulihan berjalan relatif cepat, Suharyanto mengingatkan bahwa kehati-hatian tetap diperlukan. “Warga perlu tetap menjaga kesadaran akan potensi bahaya yang mungkin terjadi, terutama jika cuaca tidak menentu,” katanya. Para korban gempa terus diberikan bantuan, termasuk perlengkapan hidup dan fasilitas umum. Suharyanto menyatakan bahwa BNPB bersama pihak terkait akan terus berupaya meningkatkan kualitas bantuan hingga kondisi stabil. “Kami bersyukur dengan respons cepat dari pihak setempat, tetapi kita tidak boleh lengah. Bencana bisa terjadi kapan saja,” tutupnya.

“Dari hasil rapat koordinasi tadi, alhamdulillah sangat cepat penanganannya. Sudah terbangun tenda-tenda yang dibangun dekat dengan rumah warga sebagai antisipasi apabila ada gemp

Leave a Comment