Kebijakan Baru: Iran Makin Mencekam! Update Terkini Korban Jiwa-Warga Sipil Berjatuhan
Iran Makin Mencekam! Update Terkini Korban Jiwa-Warga Sipil Berjatuhan
Konflik senjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran semakin memanas, menyebabkan ratusan korban tewas sejak pertengahan pekan lalu. Pasca-eksplorasi serangan yang dilakukan Washington dan Tel Aviv terhadap Negeri Persia, kelompok hak asasi manusia mencatat angka kematian yang melesat. Menurut data awal dari Lembaga Bulan Sabit Merah Iran, setidaknya 555 orang meninggal di seluruh wilayah. Namun, laporan terbaru dari Hengaw, kelompok yang berbasis di Norwegia, menyebutkan angka yang jauh lebih memprihatinkan: jumlah korban pada hari ketiga telah mencapai setidaknya 1.500 orang, terdiri dari 200 warga sipil dan 1.300 anggota keamanan Iran.
Ketakutan terhadap kehilangan nyawa kini menyebabkan masyarakat di Tehran terus-menerus diungsikan. Pesan singkat dari otoritas keamanan Iran, yang dikirim melalui ponsel, menjadi cara mengingatkan warga tentang risiko menghadapi serangan. Di Sanandaj, Kurdistan Iran, pesan dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyerukan agar setiap pergerakan di jalan raya dianggap sebagai dukungan langsung terhadap musuh. Pemerintah Iran mengklaim langkah tersebut bertujuan menghentikan aksi teror dan gangguan sosial.
“Teheran dibom dengan sangat hebat, tidak mungkin mengetahui kapan, di mana, dan bagaimana kami bisa memprotes serta mengumpulkan massa karena jalanan berubah menjadi berbahaya dengan cepat,” kata mahasiswa Tehran kepada The Guardian. Ia menambahkan, warga tak tahu lokasi IRGC dan kini menghadapi ancaman besar.
Di Kota Mahabad, pasukan udara AS-Israel melumpuhkan pasokan listrik setelah menargetkan area tersebut sejak Senin. Sementara di Urmia, narapidana di penjara lokal terpaksa menutup jendela dengan lakban untuk menekan suara ledakan besar-besaran di sekitar kompleks penjara.
Kritik tajam juga muncul dari Hiwa Bahrami, pemimpin Departemen Hubungan Luar Negeri Partai Demokrat Kurdistan Iran. Ia menuduh rezim Iran sengaja membangun pangkalan militer di tengah pemukiman warga untuk menjadikan penduduk sebagai benteng manusia. “Rezim dengan sengaja mendirikan posisi strategis di wilayah padat penduduk, meletakkan warga sipil dalam risiko nyata di berbagai daerah, termasuk Kurdistan,” tegasnya.
Warga di wilayah Kurdistan merasa terjebak antara gencatan senjata dan tekanan dari aparat. Seorang mahasiswa Kurdi melalui pesan dari kerabatnya di luar negeri menyebut, peringatan dari pemerintah bertujuan memastikan masyarakat tetap berada di lokasi serangan agar bisa disalahkan pada pihak asing. “Tuduhan teror akan langsung diterapkan jika kami mencoba melarikan diri,” jelasnya.
