Program Terbaru: Karir Militer Try Sutrisno, Sempat Gagal di Tes Fisik hingga Menarik Perhatian Mayjen GPH Djatikusumo & Ajudan Soeharto

Karir Militer Try Sutrisno: Dari Gagal Tes Fisik hingga Menjadi Panglima ABRI

Try Sutrisno, mantan Jenderal TNI, meninggal dunia pada Senin 2 Maret 2026 pukul 07.00 WIB di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Ia wafat setelah menjalani perawatan selama sekitar dua minggu akibat dehidrasi. Rencananya, jenazah akan disalatkan di Masjid Sunda Kelapa dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.

Perjalanan Karier yang Menyentak

Meski dianggap sebagai salah satu putra terbaik Indonesia, Try Sutrisno tidak langsung meraih sukses di awal karier. Sebelumnya, ia sempat mengalami kegagalan dalam tes fisik saat mendaftar di Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD), yang kemudian membuatnya menarik perhatian Mayjen Gusti Pangeran Harya (GPH) Djatikusumo, Kasad pertama pada periode 1948–1949.

“Bukan orang ambisius yang menghalalkan segala cara demi jabatan,”

Kegagalan itu berubah arah setelah Djatikusumo memanggil Try untuk mengikuti pemeriksaan psikologis di Bandung. Dengan usaha yang gigih, ia akhirnya diterima masuk ATEKAD dan menjalani pelatihan hingga lulus tahun 1959. Setelah itu, Try ditempatkan di Sumatra, Jakarta, dan Jawa Timur, hingga tahun 1972 ketika ia dikirim ke Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad).

Karirnya meroket dengan cepat. Tahun 1974, Try Sutrisno diangkat sebagai ajudan Presiden Soeharto. Selama empat tahun, ia aktif dalam berbagai tugas penting, termasuk mengamankan peristiwa Tanjung Priok. Setelah itu, ia menjabat Panglima Kodam XVI/Udayana pada 1978, lalu langsung naik pangkat menjadi Panglima Kodam IV/Sriwijaya tahun berikutnya.

Dua tahun kemudian, Try Sutrisno menjabat Panglima Kodam V/Jaya di Jakarta. Karir militernya mencapai puncak saat ia menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) pada 1986–1988. Selama periode jabatannya, ia membentuk Ban Tabungan Wajib Perumahan TNI AD untuk membantu prajurit membeli rumah. Tahun 1988, ia memegang jabatan Panglima ABRI hingga 1993.

Try Sutrisno mengaku tidak pernah berniat menjadi wakil presiden. Setelah pensiun, ia ingin fokus pada keluarga, tetapi jejak karier militer dan pengabdian pada bangsa terus mengikuti. Ia juga pernah mencicil rumah dinas selama 15 tahun karena tak memiliki uang tunai, meski saat itu menjabat Panglima ABRI.

Jejak Pengabdian yang Tak Terlupakan

Try Sutrisno dikenang sebagai jenderal legendaris yang berjuang dari bawah hingga menempati posisi tertinggi. Selama hidupnya, ia menjadi bagian dari sejarah TNI dan perjalanan bangsa Indonesia. Dua anaknya, Irjen Pol (Purn) Firman Santyabudi dan Letjen Kunto Arief Wibowo, pun meneruskan jejaknya di dunia militer.

Dalam upacara pemakaman, Istana meminta RSPAD, Garnisun Jakarta, dan Kementerian Sekretariat Negara memberikan perhatian terbaik. Meski usia telah mencapai 90 tahun, kontribusi Try Sutrisno tetap dianggap monumental, terutama dalam bidang pertahanan dan pembangunan TNI AD.