Seniman ArtJog Mundur Karena Pertimbangan Etis
Seniman ArtJog Mundur Karena Pertimbangan Etis Key Discussion - Kelompok seni teater Mirat Kolektif dari Surakarta memutuskan untuk menarik diri dari acara

Seniman ArtJog Mundur Karena Pertimbangan Etis
Tempatdonasi.com – Kelompok seni teater Mirat Kolektif dari Surakarta memutuskan untuk menarik diri dari acara Art Jog 2026. Keputusan ini diambil setelah mereka mengetahui bahwa festival dan bursa seni skala internasional tersebut didanai oleh Yayasan Didit Hediprasetyo. Mereka mengambil langkah ini berdasarkan pertimbangan idealisme dan etika setelah berdiskusi secara mendalam. Pertunjukan yang seharusnya tampil di tengah perayaan festival ini terpaksa dibatalkan, meskipun kelompok seni ini telah mempersiapkan segala hal selama berbulan-bulan.
Festival dengan Tema “Ars Longa Generatio”
Art Jog 2026, sebuah festival dan bursa seni internasional, mengusung tema “Ars Longa Generatio” yang mencakup 96 seniman dengan kurator Farah Wardani. Acara ini berlangsung pada 19 Juni hingga 30 Agustus 2026, menjadi ajang penting dalam dunia seni Indonesia. Meski demikian, Mirat Kolektif memilih untuk mengambil jarak dari kegiatan tersebut, dengan alasan yang berkaitan dengan prinsip etis yang mereka pegang.
Persiapan yang Berhasil dan Keputusan Mendadak
Dua hari sebelum pembukaan Art Jog 2026, Mirat Kolektif seharusnya menyelesaikan segala persiapan untuk tampil. Namun, keputusan mundur muncul setelah mereka memahami bahwa dana yang dialokasikan oleh Yayasan Didit Hediprasetyo akan digunakan untuk mendukung acara tersebut. Pendiri dan direktur artistik Mirat Kolektif, Luna Kharisma, ditemui Tempo di Surakarta, Selasa, 23 Juni 2026, mengatakan bahwa mereka baru menyadari hal ini beberapa hari sebelum acara dimulai.
“Kami benar-benar baru tahu dua hari sebelum pembukaan,” ujar Luna.
Karya yang direncanakan untuk ditampilkan dalam pertunjukan ini berangkat dari riset sejarah tentang perempuan progresif yang selama puluhan tahun diabaikan dalam narasi resmi negara. Pertunjukan tersebut diberi judul “Sudut Hati Terpercik Api.” Luna menjelaskan bahwa keputusan mereka untuk mundur didasari oleh kekhawatiran tentang konsistensi etika karya yang mereka buat. “Di situ kami mulai goyah karena ini menyangkut posisi etis karya kami,” katanya.
Pelataran Historis dan Proses Riset
Pertunjukan Mirat Kolektif berawal dari riset tentang karya penulis dari Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), S. Rukiah. Penulis ini dikenal aktif dalam menghasilkan gagasan kritis yang mencerminkan perjuangan masyarakat Indonesia. Tulisan-tulisan S. Rukiah pernah terbit di Majalah Api Kartini pada 1959, menjadi bukti bahwa seni dan politik terkadang saling terkait. Selama hampir lima tahun terakhir, Luna bersama Udiarti, direktur eksekutif Mirat Kolektif dan penulis naskah pertunjukan, menjalani proses riset yang panjang. Hasilnya adalah naskah pementasan yang dirancang untuk menyampaikan pesan tentang perempuan progresif.
Perdebatan dan Konsensus Internal
Ketika informasi mengenai Yayasan Didit Hediprasetyo muncul, Mirat Kolektif tidak langsung menentukan sikap. Mereka memulai dengan menghubungi sepuluh seniman lain yang terlibat dalam festival tersebut. Dari diskusi daring yang diadakan, enam seniman memilih untuk bergabung. Tujuan utama dari pertemuan ini adalah mendengarkan perspektif dan keputusan masing-masing anggota.
“Kami tidak ingin mengintervensi siapa pun,” ujar Luna.
Hasil diskusi tersebut membuat Luna lebih yakin untuk menarik diri. Menurutnya, dunia seni sering kali menjadi alat yang bisa dimanfaatkan oleh kekuatan politik dan ekonomi. “Seni sangat rentan dieksploitasi oligarki untuk memperkuat basis kekuasaan mereka,” katanya. Mereka merasa bahwa dengan bergabung, karya mereka akan kehilangan makna awalnya, sehingga keputusan untuk mundur terasa lebih tepat.
Konsekuensi dan Penyesuaian Kembali
Setelah mengumpulkan pendapat dari seluruh anggota kelompok, Mirat Kolektif memutuskan untuk menarik diri secara resmi. Mereka menemukan informasi resmi di laman Art Jog, lalu membulatkan tekadnya. Sebelum mengumumkan keputusan tersebut kepada publik, kelompok seni ini mengirim surat elektronik kepada tim penyelenggara. “Kami merasa ini bukan tempat kami lagi,” ujar Luna.
Keputusan ini menghentikan kerja yang telah berjalan berbulan-bulan. Hotel telah dipesan, desain panggung diterima, dan sejumlah kebutuhan teknis hampir selesai. Namun, Luna mengatakan bahwa mereka tidak menyesali proses yang telah ditempuh. “Kami mengambil keputusan dari persiapan yang panjang dan siap menanggung konsekuensinya,” katanya.
Perspektif Eksternal dan Dampak Keputusan
Kepala kurator dan Komisaris Utama PT Art Jog Matra Nusantara, Bambang Toko Witjaksono, menghormati keputusan Mirat Kolektif. Ia mengakui bahwa keputusan mundur kelompok seni ini memang muncul dari pertimbangan idealisme dan etika. Meski demikian, Bambang menyatakan bahwa seniman lain yang terlibat dalam festival masih tetap mengikuti acara. “Karena keputusan Mirat Kolektif tidak memengaruhi bagian lain dari penyelenggaraan Art Jog,” katanya.
Menurut Luna, kontrak kerja sama dengan penyelenggara masih dalam tahap persiapan. Mereka hanya tinggal melengkapi data administrasi, termasuk informasi rekening untuk pencairan dana. “Secara administratif, kami belum terikat kontrak, dan dana juga belum cair,” ujarnya. Dengan demikian, konsekuensi atas keputusan mereka tidak begitu berat. Namun, hal ini tetap menjadi langkah yang berani dan bertanggung jawab, yang menunjukkan komitmen mereka terhadap prinsip etika seni.
Refleksi dan Harapan Masa Depan
Mirat Kolektif menilai bahwa keputusan mundur ini merupakan bagian dari perjalanan kreatif mereka. Mereka ingin memastikan bahwa karya yang ditampilkan benar-benar mencerminkan nilai-nilai yang mereka yakini. “Kami ingin menghindari keterlibatan yang bisa memengaruhi makna karya kami,” kata Luna. Keputusan ini juga memberikan contoh bagi seniman lain untuk mempertimbangkan etika dalam kolaborasi dengan pihak tertentu.
Sebagai kelompok seni yang berbasis mandiri, Mirat Kolektif tetap berupaya menjaga konsistensi dalam produksi. Mereka menyadari bahwa terkadang keputusan yang diambil secara tiba-tiba bisa memengaruhi proses kreatif, namun mereka bersedia mengambil risiko untuk mempertahankan prinsip mereka
